Cerita Tokoh Warga Tentang Masjid Kuno Berusia 121 Tahun yang Tetap Pertahankan Sokoguru Bersisi Delapan di Kedunggading

Masjid Baiturrokim ini dulunya bangunan banyak terbuat dari papan kayu jati. Bahkan, mimbar khotbah serta empat tiang penyangga juga murni dari kayu jati yang hingga kini masih terawat. Foto : vian / sigijateng.id

Kendal (Sigijateng.id) – Tak banyak yang mengetahui akan bangunan bersejarah, tentang masjid Baiturrokhim dan diyakini oleh warga merupakan masjid kuno dan tertua di Dusun Tapak Timur, Desa Kedunggading Kecamatan Ringinarum Kendal ini.

Bagaimana tidak, bangunan masjid yang memiliki 4 tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati dan tebeng atau bagian atap masjid utama di bagian dalam tersebut tidak merubah ciri khas dari masjid yang dibangun oleh Mbah Wali Tapak tahun 1901 Masehi silam.

Seiring waktu, kini bangunan masjid tersebut mulai dipugar dan dibangun dengan model bangunan dan gaya ornamen arsitek yang modern. Pemugaran dilakukan oleh warga setempat dengan cara swadaya dan gotong royong telah berjalan sejak Oktober 2021 tahun lalu.

Menurut salah satu warga, Subur (56) mengatakan jika masjid Baiturrokim ini dulunya bangunan banyak terbuat dari papan kayu jati. Bahkan, mimbar khotbah serta empat tiang penyangga juga murni dari kayu jati yang hingga kini masih terawat.

“Masjid ini masih satu kompleks dengan tempat pemakaman umum yakni berada di atas tanah wakaf. Pembangunan masjid ini juga tanpa merubah bangunan utama masjid dan masih mempertahankan bagian belakang. Hanya serambi depan yang dibangun terlebih dahulu,” ujarnya.

“Dengan bangunanan yang lebih modern nantinya, diharapkan membuat masyarakat akan lebih aman dan nyaman dalam beribadah,” sambung dia sembari menunjukkan sejumlah bangunan masjid tiang kayu jati yang masih terjaga dengan asli.

Sementara itu, Takmir Masjid Baiturrokhim Muhammad Bisri mengungkapkan tidak banyak yang mengetahui bangunan masjid bersejarah ini. Dari tahun berdirinya Masjid Baiturrokhim dibangun pada masa Mbah Wali Tapak dan menjadi salah satu masjid tua di Kabupaten Kendal.

“Hingga kini pun masyarakat tidak mengetahui siapa nama asli dari Mbah Wali Tapak,” tuturnya.

Begitu juga dengan makam atau petilasanya pun juga tak diketahui keberadaanya. Selama ini, lanjut Bisri, masyarakat tahunya hanya Mbah Wali Tapak merupakan sosok ulama yang mengajarkan ilmu agama Islam di Dusun Tapak Timur.

“Yang lebih perso (tahu) di mana makam atau petilasan Mbah Wali Tapak Mbah Adnan, Mursid atau guru dari Kiai Asri. Kiai Asri ini guru ngaji saya. Tapi soal makam Mbah Wali Tapak, Mbah Adnan tidak berkenan menunjukkannya. Sebab itu permintaan dari Mbah Wali Tapak,” ungkapnya.

Masjid Baiturrokhim di Dusun Tapak Timur, dikatakan Muhammad Bisri, pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat luas. Mereka yang datang tak hanya dari masyarakat yang ada di Desa Kedunggading, melainkan berbagai desa yang ada di wilayah Kendal.

Bahkan sebagai pusat kegiatan kegamaan itu, dari Mbah Wali Tapak hingga berlanjut kepada Kiai Asri, seorang yang dikenal alim oleh masyarakat dan yang sekaligus melanjutkan syiar Islam di Masjid Baiturrokhim.

“Kiai Asri luas ilmu keagamaanya ia menjadi santri di berbagai pesantren dan seorang yang sabar dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Bahkan saat pengajian yang dihadiri Mbah Adnan, guru mursidnya, Kiai Asri menangis, saat Mbah Adnan bilang Tapak Timur kudu ono pesantren. Dengan doa dan restu guru mursidnya, akhirnya berdiri pesantren di bawah pengasuh Kiai Asri saat itu. sejak saat itu pengelolaan masjid diserahkan kepada saya,” terangnya. (Dye)

Berita terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here