Pawala Jakarta Beri Hadiah Gus Zaim Lasem Buku Budi Pekerti Tionghoa

Pengurus Paguyuban Warga Lasem (Pawala) di Jakarta dipimpin Ketuanya Hartono Santoso saat bertemu Pengasuh Pondok Pesantren Kauman KH Zaim Ahmad Ma'shoem (Gus Zaim) di rumahnya, Kauman, Lasem, Rembang. ( dok/sigijateng.id )

SIGIJATENG.ID, Rembang- Paguyuban Warga Lasem (Pawala) di Jakarta memberikan hadiah buku kepada pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem Rembang KH Zaim Ahmad Ma’shoem dan Nyai Hj Durrotun Nafisah. Buku ”Di Zi Gui”, sebuah buku berisi Budi Pekerti Tionghoa itu disampaikan Ketua Pawala di Jakarta Hartono Santoso, saat bersilaturahmi di rumah KH Zaim Ahmad Ma’shoem Kauman, Lasem, Kabupaten Rembang belum lama ini.

Bagi warga Tionghoa, buku tersebut sebagai pedoman budi pekerti bagi seorang murid dan anak.

Hartono Santoso didampingi Hj Sias Mawarni, salah seorang pengurus Pawala keturunan Tionghoa-India yang ahli bahasa Mandarin. Sedang Gus Zaim didampingi Abdullah, pengurus Masjid Jami Lasem.

Pondok Pesantren Kauman selama ini dikenal sebagai pesantren akulturasi budaya. Karena terletak di tengah-tengah Kampung Pecinan.

Bahkan di pintu utama pesantren itu tertulis kaligrafi China berbunyi ”Kang Ning” yang berarti doa untuk penghuninya selalui sehat dan damai. Di teras pesantren tersebut tergantung lampion khas seperti yang tergantung di kelenteng-kelenteng.

Hartono Santoso menjelaskan, Pawala merupakan paguyuban orang-orang yang berasal dari daerah Lasem Kabupaten Rembang. ”Kebanyakan anggotanya  keturunan Tionghoa. Saya sudah lama sekali kangen pergi ke Lasem,” kata Hartono Santoso.

Sementara, Gus Zaim, panggilan akrab KH Zaim Ahmad Ma’shoem menerima kehadiran mereka dengan senang hati. Apalagi, buku yang diberikan pada dirinya adalah buku yang isinya luar biasa.

”Alhamdulillah saya senang mendapat hadiah buku Di Zi Gui. Isinya sama dengan yang dipelajari santri tentang akhlak, budi pekerti dan sopan santun,” kata Gus Zaim.

Menurut Gus Zaim, hubungan antaretnis dan agama di Lasem telah berjalan baik, teruji lama turun temurun. Ketika pembicaraan mengarah serius mengenai hari raya Imlek, kiai muda itu berpendapat hari raya itu bisa dirayakan siapa saja. ”Ini kan budaya tidak ada hubungannya dengan agama dan kepercayaan tertentu,” kata Gus Zaim.

Setelah bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Kauman, pengurus Pawala kemudian mengunjungi museum Masjid Jami Lasem dan ziarah ke makam Adipati Lasem Tejokusuma I Mbah Srimpet. Mereka juga menziarahi makam Mbah Sambu (San Boe) yang konon merupakan penyebar agama Islam Kadipaten Lasem masa itu yang berasal dari Assamarqandi sesuai bentuk  makamnya bergaya Uzbekistan.

Mereka mengaku kagum dengan mustaka masjid Lasem yang berarsitektur Majapahit kuna yang melambangkan toleransi. Cukup lama mereka memperhatikan prasasti di dadapeksi kayu penampang joglo masjid. (Wahyu/Aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here