Tak Lulus SD, Warga Banjarnegara Ini Ciptakan Alat Deteksi Longsor ‘Elwasi’

Tak Lulus SD, Warga Banjarnegara Ini Ciptakan Alat Deteksi Longsor ‘Elwasi’ .

SIGIJATENG.ID, Semarang –  Sudarsono (45) warga Desa Kalimandi Kecamatan Klampok, Banjarnegara ini patut diacungi jempol. Dia berhasil membuat alat yang sangat penting, yakni alat Early Warning System (EWS) bencana longsor. Alat tersebut diberi bernama Elwasi (Eling, Waspada lan Siaga).

Ini cukup menarik. Dan lebih lebih menarik, karena Sudarsono sama sekali tidak punya ijazah sekolah. Dia tidak tidak lulus SD. Kemahirannya dalam bidang elektronik didapat dengan cara otodidak, yaitu sewaktu ke cil di rumah carik desanya.

Elwasi dipamerkan pada acara Rapat Koordinasi (Rakor) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng di Semarang pada Rabu (13/2) lalu. Ini menarik perhatian peserta rapat yang dipimpin oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Kepala BNPB, Letjen Doni Manardo.

Meski berpendidikan rendah, namun pria yang sehari-hari mengabdikan dirinya sebagai staff di BPBD Banjarnegara tersebut mampu menciptakan alat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana longsor.

“Saya sehari-hari di BPBD Banjarnegara. Ide awal membuat alat ini karena keprihatinan saya, masih banyak daerah rawan longsor yang belum dipasang EWS,” kata Sudarsono mengawali obrolan.

Ia mengatakan mencermati EWS longsor yang terpasang di beberapa tempat. Dengan mengamati itu, ia berfikir bahwa dirinya mampu membuat alat serupa, dengan bahan baku yang lebih murah.

“Sehingga dapat lebih bermanfat bagi masyarakat. Lalu pada 2017, saya mulai mencoba membuat alat ini,” terangnya.

Sudarsono mengatakan membuat alat itu hanya dengan mengandalkan insting dan otodidak. Berbekal kemampuannya memperbaiki alat-alat elektronik, akhirnya ia mampu menciptakan alat tersebut dengan biaya tidak lebih dari Rp5 juta.

“Saya ndak punya Ijazah, SD saja tidak lulus. Namun dulu saya pernah mengabdi di rumah pak Carik di desa, nah anaknya itu sekolah di jurusan elektronik. Saya sering diminta membantu memperbaiki berbagai peralatan elektronik, jadi sedikit-sedikit paham,” terangnya.

Berbekal pengalaman itu, dia membuka bengkel elektronik kecil-kecilan di rumahnya. Dari ilmu yang didapat otodidak, ia memahami dunia elektronik dan merasa yakin bisa membuat alat tersebut.

Pembuatan Elwasi sendiri lanjut dia dilakukan di rumahnya. Dengan peralatan sederhana yang ia punya, Sudarsono mampu menciptakan karya agung itu.

“Ternyata tidak sulit, bahan bakunya juga bisa menggunakan yang ada di desa-desa saya, jadi harganya murah,” imbuhnya.

Meski sederhana, namun alat buatan Sudarsono tersebut mendapat apresiasi banyak pihak. Bahkan, di ajang lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Kreanova) yang digelar Pemkab Banjarnegara, alat yang diciptakan Sudarsono itu berhasil menyabet juara satu.

“Setelah itu, saya semakin termotivasi untuk menyempurnakan alat ini. Sekarang saya sudah membuat lima alat, beberapa sudah dipasang di daerah rawan bencana. Ada yang di Banjarnegara, ada pula yang di Sukabumi.

Elwasi sendiri lanjut dia, dibuat dengan beberapa komponen. Diantaranya panel yang disambungkan dengan aki, kemudian di bagian atas ada panel tenaga surya sebagai sumber energi.

Di alat tersebut juga terdapat tali yang dipasang di tanah yang rawan longsor. Selain itu, ada lampu dan speaker sirene di bagian atas alat tersebut.

“Cara kerjanya, alat ini di pasang di daerah rawan dengan tali dibentangkan di tanah yang rawan longsor. Saat tanah bergerak, tali akan tertarik dan sirene akan berbunyi. Suara akan terdengar sekitar satu kilometer, sehingga kalau mendengar suara sirene, maka dipastikan ada pergerakan tanah dan masyarakat sekitar bisa langsung menyelamatkan diri,” paparnya.  (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here