Budaya Membaca Rendah, Enar Ratriany Ajak Generasi Millineal Sadar Literasi

Aktifis Komisi Nasional Perlindungan Anak Kota Semarang, Enar Ratriany Assa

SIGIJATENG.ID- Perkembangan teknologi seringkali membuat anak-anak muda atau generasi millineal banyak yang meninggalkan budaya membaca. Banyak anak-anak yang lebih doyan bermain game, media sosial atau lainnya. Padahal, membaca merupakan awal penting untuk mencerdaskan anak bangsa

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Aktifis Komisi Nasional Perlindungan Anak Kota Semarang, Enar Ratriany Assa. Karena jika dibiarkan terus akan merusak generasi bangsa ke depan.

“Banyaknya anak-anak yang senang dengan game dan media sosial ini persoalan serius,” kata Enar Ratriany Assa, Rabu (13/2/2019).

Enar Ratriany Assa pun terus berkomitmen untuk terlibat langsung dalam mencerdaskan anak bangsa. Salah satunya dengan terus mengkampanyekan gerakan lindungi anak dan budayakan membaca sejak dini. Baginya, anak merupakan aset berharga untuk masa depan bangsa. Untuk itu, orangtua harus benar-benar mendidik dan menyiapkan anak-anak dengan baik sejak dini.

 “Anak aset masa depan, yang akan membangun bangsa. Jadi harus dipersiapkan secara bagus,” ujarnya.

Sebagai aktifis Komnas PA Kota Semarang, Enar Ratriany Assa memang konsen untuk mengatasi permasalahan anak-anak terutama Kota Semarang. Tanpa lelah, ia mengkampanyekan gerakan Anak Membaca kepada masyarakat khususnya kaum ibu-ibu. Ia terus mengkampanyekan dengan turun langsung ke masyarakat agar misi mulia tersebut bisa terwujud. Kaum ibu-ibu menjadi sasaran utama karena merekalah yang setiap hari bersinggungan dan dekat dengan anak.

 “Saya terus mengajak ibu-ibu, biasanya dengan turun dan sosialisasi di ibu-ibu PKK,” ujarnya.

Alumnus Undip ini mengaku prihatin dengan kenakalan anak-anak. Mulai dari terlibat obat terlarang, kurang mendapatkan pendidikan sampai berbagai aksi kriminalitas di Kota Semarang. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang berawal dari main nakal kemudian harus menghabiskan masa remajanya di dalam lembaga pemasyarakatan.

“Kenakalan remaja itu bisa diantisipasi dari faktor lingkungan dan keluarga. Jika keluarga perhatian, anak akan merasa nyaman di rumah,” tegasnya.

Ia mengajak semua masyarakat Kota Semarang juga harus berperan aktif untuk menjaga dan mencerdaskan anak-anak. Lingkungan dan keluarga menjadi faktor utama untuk bisa mewujudkan semua itu. Anak tidak masalah dikenalkan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga harus dibatasi.

“Tidak masalah dikenalkan teknologi, tapi harus dibatasi. Orangtua berperan penting, dan jangan biarkan anak-anak terlalu lama bermain game di gadget,” tegasnya. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here