Komunitas SATOE ATAP, Setia Dampingi Anak Jalanan dan Duafa Kota Semarang

Relawan komunitas dan anak asuh SATOE ATAP Semarang

SIGIJATENG.ID, Semarang – Puluhan mahasiswa dan alumni dari berbagai kampus di Semarang, kompak dan barsatu untuk bergerak bersama-sama dalam bidang sosial pendidikan yang berbagi keceriaan dan pelajaran kepada anak jalanan dan anak-anak yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah di Kota Semarang. Mereka berkumpul dalam komunitas SATOE ATAP, singkatan dari “Sayang  Itoe Tanpa Pamrih.

Salah satu ralawan SATOE ATAP, Tata, mahasiswi Undip semester 6 mengatakan, komunitas ini dibentuk tahun 2007 tepatnya tanggal 12 April.  Menggunakan nama Satoe Atap, singkatan dari ‘Sayang  Itoe Tanpa Pamrih’ agar relawan pengajar dari komunitas SATOE ATAP memiliki jiwa dan hati yang ikhlas dalam memberikan pelajaran dan motivasi kepada anak-anak atau siapapun.

“Tujuan dari komunitas ini  adalah memberi edukasi kepada anak jalanan dan anak anak yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah dan anak-anak jalanan,” kata Tata, Rabu (12/2/2019).

Saat in, relawan komunitas ini ada 20 orang, berasal dari pelajar dan mahasiswa bahkan ada juga dari alumni yang yang bekerja di Kota Semarang. Diantaranya mereka berasal dari UNDIP, UPGRIS, UNNES, UDINUS dan POLINES. Dan komunitas SATOE ATAP selalu membuka diri bagi semua orang yang ingin bergabung menjadi relawan.  Untuk bergabung dengan SATOE ATAP, relawan bisa datang ke spot pengajaran.

“Ada dua spot pengajaran (tempat pengajaran) yaitu Spot Seroja di Balai Kelurahan Karang Kidul setiap hari Selasa, dan Spot Kelinci bertempat di Wisma Moerdiningsih, Gang Kelinci setiap hari Rabu,” terang Tata, yang mengaku ikut komunitas ini karena suka anak anak, suka kegiatan sosial, dan bertemu teman teman baru.

Relawan lainnya, Leo, mengatakan, waktu pengajaran di kedua spot itu adalah mulai pukul 15.30 sampai 17.00. Jumlah anak-anak yang ikut belajar, yakni d Spot Seroja 20 anak dan di Spot Kelinci 30 anak.

“Relawan tidak hanya menyumbang tenaga namun juga dapat berdonasi untuk kegiatan yang dilakukan. Jumlahnya tergantung kemampuan masing-masing relawan,” ucap Leo.

SATOE ATAP sering mengadakan Paper for Charity, yaitu menerima donasi berupa kertas koran bekas dan kardus bekas yang kemudian dikelola dan hasilnya akan digunakan untuk kegiatan yang akan dilaksanakan.

“Bagi bapak dan ibu yang punya kertas Koran, bisa diantar ke Spot Relawan SATOE ATAP,” katanya.

Relawan lainnya, Akbar, menambahkan, pembelajaran yang dilakukan tidak hanya edukasi formal, tetapi juga bermain, membuat kerajinan tangan, berkesenian, mendongeng, dan kegiatan seru lainnya yang membuat anak-anak senang.

“Selain kegiatan pembelajaran setiap Selasa dan Rabu, SATOE ATAP memiliki program tahunan seperti Bazaar for Kids, 17 Agustusan, dan Ulang Tahun. Nanti pada 12 April Satoe Atap genap berumur 12 tahun, perayaan ulang tahun akan dilaksanakan dengan tema Holiday  and Education,” kata Mahasiswa UDINUS ini. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here