Jadi Ketua Pemuda Pacasila Jateng, Bambang Eko Lakukan ‘Njajah Desa Milang Kori’

Ketua MPW PP Jateng H Bambang Eko Purnomo saat acara di Temanggung

SIGIJATENG.ID, Semarang – Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Jateng Bambang Eko Purnomo terus berkeliling ke polosok Jawa Tengah, bahkan tidak hanya sampai di tingkat MPC (kabupaten) atau PAC ( kecamatan), namun sampai di tingkat ranting (desa).

“Sejak awal, keinginan saya adalah Pemuda Pancasila di Jateng kembali besar seperti dulu. Bahkan lebih besar lagi. Istilahnya Pemuda Pancasila Reborn. Salah satu caranya, saya harus mau turun ke bawah sampai ke desa-desa, menyapa semua anggota. Kita sapa mereka, kita ajak diskusi mereka. Kita dengarkan keinginan dan keluhan mereka. Kalau boleh disebut, kami melakukan Njajah Desa Milang Kori,” kata Bambang Eko kepada Sigijateng,id, Kamis (21/3/2019).

Istilah Njajah Desa Milang Kori adalah sebuah peribahasa yang tidak asing bagi masyarakat Jawa. Peribahasa tersebut adalah salah satu lelaku dalam upaya untuk mengatasi persoalan hidup atau lelaku seseorang dalam menjalankan tugas agar bisa selesai dengan baik.

Dilansir di google.co,id, arti dari kata itu, njajah desa adalah menjelajahi desa, milang koriadalahmenghitung pintu.  Terjemahan bebasnya, bepergian jauh menjelajahi desa, menghitung pintu.

Maknanya, melakukan perjalanan mencari pengalaman hidup ke berbagai wilayah untuk mengenal kehidupan di sana, serta memahami watak perilaku penduduknya.

Lelaku seperti digambarkan peribahasa ini adalah wujud dari usaha seseorang mencari pengalaman hidup. Njajah desa milang kori adalah strategi mengolah batin dan kepribadian melalui kasunyatan duniawi yang terjadi di sekitar kita. Di jawa, mendalami teori saja dinilai belum cukup sebelum mampu menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan nyata tepat dan benar.

“Kami ingin mendapatkan masukan dan pengalaman hidup sebanyak mungkin dari banyak daerah. Dengan bekal itu pula, kami bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul di organisasi, dan sekaligus bisa membesarkan organisasi,” kata  anggota Komisi C DPRD Jateng ini.

Lelaku Njajah Desa Milang Kori yang dilakukan selama 1,5 tahun terbukti sejak jadi ketua MPW membuahkan hasil. Dari data yang dia kantongi, saat didaulat menjadi ketua MPW PP Jateng, jumlah anggota Pemuda Pancasila Jawa Tengah yang memiliki kartu anggota hanya sekitar 3 ribu. Itu artinya, setiap kota/kabupaten di Jateng jumlahnya tidak ada 100 orang. Dan saat ini, awal Maret jumlahnya sudah mencapai 120.000-an anggota. Sudah berlipat-lipat tambahnya. Jumlah itu akan terus bertambah, karena belum semua kota / kabupaten sudah berkembang semua. Kepengurusan PAC dan pengurus ranting belum terbentuk semua.

“Program kami tidak hanya menambah jumlah anggota saja, namun anggota yang juga memiliki KTA. Jadi  ada data yang riil, nyata. Tidak asal klaim. Dan Alhamdulillah, perkembangan Pemuda Pancasila Jawa Tengah, baik dari sisi penambahan anggota dan kegiatannya diakui menjadi yang terbaik di Indonesia,” kata Bambang Eko.

Bertambahnya jumlah anggota Pemuda Pancasila di Jateng, selain lelaku yang dilakukan Bambang EKo Purnomo, yakni Njajah desa milang kori, juga tidak lepas dari sosok Bambang Eko. Pengakuan, salah satu anggota Pemuda Pancasila dari Tegalsari Semarang, Broto, mengatakan Bambang Eko adalah sosok yang tegas, ngayomi dan mau menyapa langsung kepada seluruh anggota tanpa membeda-membedakan. Setiap kali acara, dia justru yang datang menghampir anggota untuk menyapa dan bersalaman langsung. Bukan anggota yang datang menghampirinya.

“Baru kali ini, yang melihat ada Ketua  Pemuda Pancasila provinsi yang mau datang menghampiri anggotanya dan  mengajak salaman. Diajak salaman semuanya, satu persatu. Dia begitu dekat dan akrab dengan anggota. Istilahnya, meskipun dia itu seorang ketua, namun beliau itu maunya berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan anggotanya,” kata Boroto.

Tambah Broto, saat bertemu dengan anggota, tidak selalu bertemua ditempat-tempat mewah seperti hotel atau gedung megahm namun justru seringnya malah bertemu di tempat-tempat santa merakyat, lapangan terbuka, alun-alun, angkringan, sambail minum kopi atau teh. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here