Dermaga Kapal Dangkal, KMP Kalibodri Tunda Keberangkatan

KMP Kalibodri terpaksa menunda jadwal penyeberangan menunggu kondisi air laut pasang, lantaran terjadi pendangkalan disekitar pelabuhan Kendal.

SIGIJATENG.ID, Kendal – Pendangkalan di sekitar area pelabuhan dermaga kapal, membuat Kapal Motor Penumpang (KMP) Kalibodri yang biasanya melayani rute penyeberangan Kendal menuju ke Kumai Kalimantan menjadi kesulitan untuk bersandar. 

Kepala UPTD Pelabuhan Tanjung Kendal, Andy Rahmat membenarkan hal itu. Akibat penumpukan sedimentasi membuat kedalaman kolam pelabuhan kendal mnjadi dangka dan hanya sedalam berkisar antara 2 – 3 meter. 

Disampaikan, jika kedalaman kolam pelabuhan penyeberangan yang memenuhi standar yakni berkisar memiliki kedalaman hingga lima meter.
“Kami sudah menghubungi pihak Kementerian Perhubungan untuk dilakukan upaya pengerukan disekitar pelabuhan ini. Sebab jika biaya dibebankan pada APBD Kendal jelas tidak mampu karena biayanya yang besar,” terangnya, Selasa (26/3/2019).

Disamping dilakukan pengerukan, lanjut Andy, perlu dilakukan juga perbaikan pada Pemecah ombak (Break Water) yang mengelilingi area kolam pelabuhan. Jika hanya dilakukan pengerukan saja, maka kolam akan kembali mengalami pendangkalan.

“Terkait hal itu, kami diminta pihak Kementerian Perhubungan melakukan Studi Perencanaan. Hasilnya, biaya untuk pengerukan sebesar Rp 83 milliar dan Rp 80 milliar lagi untuk perbaikan Break Water. Padahal, proses perbaikan dan pengerukan itu paling cepat dilaksanakan di tahun 2020 ini,” tandasnya. 

Sementara, General Manager PT ASDP Cabang Jepara, Pemilik KMP Kalibodri, Gunawan mengatakan sejak tahun 2018 ini KMP Kalibodri harus bersandar dan berlayar pada saat air pasang tiba. Disebabkan kolam pelabuhan dipenuhi sedimentasi lumpur sehingga kedalaman pada kolam berkurang dan menjadi dangkal.

“Pada awal tahun ini kapal kami mengalami trouble pada sistem pendingin air laut. Dugaan itu karena terjadinya pendangkalan pada kolam pelabuhan. Selain itu air laut yang kami gunakan tercampur dengan lumpur,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, pihaknya sangat mengkhawatirkan jika tidak segera ditangani maka akan berdampak tersendatnya saat arus mudik Lebaran 2019 yang sebentar lagi tiba. Pada arus mudik sebelumnya, jumlah penumpang yang dari Kumai ke Kendal maupun sebaliknya mengalami lonjakan. 

“Jujur kami akan tetap beroperasi, namun tergantung pada pasang surutnya air disekitar kolam pelabuhan. Sebab jika tidak segera dikeruk maka akan membuat kapal kami kesulitan melakukan bongkar muat,” pungkasnya. (Dye) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here