Sejak Zaman Dahulu, Pepes Ikan Ternyata Jadi Makanan Utama dalam Upacara Suci

Ilustrasi: Pepes ikan ala masakan kuno (foto historia.id)

SIGIJATENG.ID – Pepes atau pais merupakan makanan khas masyarakat Sunda. Pepes merupakan makanan yang telah dibumbui dengan bantuan daun pisang sebagai media pembungkusnya. Biasanya daging yang dipepes adalah ikan, namun terkadang juga bisa menggunakan ayam atau jamur.

Dalam sebuah Prasasti Trunyan Al dari Bali tertulis di dalamnya, “Pada Bulan Magha tanggal sembilan, untuk upacara besar kepada Sang Hyang I Turuñan, penduduk Desa Turuñan mempersembahkan ikan simbur lima ekor, pepes ikan nalyan 20 buah, ikan kering dua gunja, sedangkan kepada Pracaksu diberikan dua ekor ikan simbur, 10 pepes ikan nalyan, dan ikan kering satu gunja serta air untuk menyucikan diri melebur kekotoran atau dosa.”

Tertulis di sana, persembahan makanan dari Desa Air Rawang berupa 30 pepes ikan nyalian, tiga

gunja ikan kering, 30 butir telur dan 10 ekor ikan gabus untuk keperluan upacara pada setiap hari

ke lima bulan separuh gelap pada bulan Asuji.

Mereka juga diwajibkan mempersembahkan bumbu- bumbuan dan meramu bumbu tersebut oleh Lampunan Bungsu.

Menariknya, dari beberapa makanan sebagai hidangan persembahan itu, menu pepes salah satu

yang disebutkan dengan jelas.

Dalam artikelnya, “Aspek Kemasyarakatan di Balik Makanan Dalam Prasasti Bali Kuna” yang terbit Jurnal Forum Arkeologi Vol. 25 No. 2 Agustus 2012, Luh Suwita Utami menjelaskan, pada masa kini, pemberian jenis makanan kepada bangunan suci masih berlaku di Bali pada saat-saat tertentu. Jenis makanan sebagai persembahan di Bali saat ini seperti sate, lawar, dan aneka jajanan yang merupakan pelengkap sesajen.

Ada juga yang disebut atos, yaitu persembahan bahan makanan mentah berupa beras, telor, kelapa, dan dupa. Itu nantinya digunakan dalam upacara di tempat suci.

Cara mengolah bahan makanan, khususnya ikan, dengan cara dipepes sudah biasa dilakukan masyarakat Bali Kuno. Selain itu ikan juga sering dikeringkan.

Ada beberapa jenis ikan yang disebutkan dalam prasasti. Di antaranya, ikan simbur (?), dlag (ikan

gabus/Ophiocephaalus stratus), nalyan (ikan nyalian), dan kuluma (ikan lele). “Jenis ikan-ikan ini

merupakan jenis ikan air tawar yang mudah didapatkan oleh penduduk yang bertempat tinggal di

tepi Danau Batur,” jelas Luh Suwita.

Terkait pepes ikan, beberapa jenis bumbu juga disebutkan dalam prasasti. Prasasti Turunyan

memberi keterangan bahwa untuk upacara Bhatara di Turunyan pada setiap hari ke-5 bulan

separuh gelap pada bulan Asuji masyarakat Desa Air Rawang diwajibkan untuk membuat bumbu.

Bumbu yang disebutkan adalah bawang merah, jahe, kapulaga, dan kemiri. Selain pengolahan makanan dengan cara dipepes dan dikeringkan, prasasti Bali Kuno tidak memberikan keterangan lain soal bagaimana cara mereka mengolah makanan.

Namun, kata Luh Suwita, tak menutup kemungkinan masyarakat waktu itu sudah mengenal pengolahan makanan dengan cara dibakar, direbus, diasap, atau diasinkan. Ternyata pepes ikan yang kita ketahui berasal dari masyarakat Sunda, juga sudah dikenal oleh masyarakat Bali kuno sejak ratusan tahun yang lalu.

(akhida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here