Jelaskan Peran KH. Muntaha dalam Modernisasi Ponpes Al-Asy’ariyah, Faisal Kamal Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo

Suasana ujian terbuka program doktor UIN Walisongo Semarang melalui zoom meeting. (Dok.)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Pemikiran KH. Muntaha dalam mengintegrasikan pendidikan umum dan agama berhasil membawa kemajuan pondok pesantren al-Asy’ariyyah yang dibuktikan dengan pesatnya perkembangan sekolah-sekolah formal didalamnya dari jenjang pra-sekolah, sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi.

Paparan di atas dijelaskan oleh Faisal Kamal saat menjalani ujian terbuka program doktoral UIN Walisongo Semarang dengan disertasi berjudul “Peranan KH. Muntaha Dalam Pengembangan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah FDD Wonosobo (1950-2000)”. Ujian Terbuka tersebut dilakukan melalui zoom pada Senin (11/1/2021).

Selain itu, pria yang juga pernah belajar di Pondok Pesantren yang ditelitinya tersebut menyatakan kontribusi penting peranan KH. Muntaha dalam pengembangan pesantren adalah terwujudnya pemikiran pendiri pondok pesantren tersebut dalam berbagai inovasi pendidikan, seperti adanya sistem penjenjangan, masuknya subjek umum pendidikan, pengembangan manajemen dan kepemimpinan birokratis, peningkatan fungsionalitas lembaga pendidikan Islam, lembaga yang berciri kajian studi al-Qur’an, penulisan mushaf al- Qur’an Akbar.

“Hasil dan temuan penelitian saya tersebut menunjukkan kontribusi KH. Muntaha. Dia merupakan tokoh utama yang menentukan dalam perkembangan pondok pesantren al-Asy’ariyyah,” ujar Faisal.

Dosen Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo tersebut menegaskan temuan- temuan dalam penelitiannya merupakan hasil penting yang berimplikasi pada pengembangan pendidikan dengan model integrasi lembaga pendidikan.

“Temuan-temuan tersebut dapat memajukan pondok pesantren al-Asy’ariyyah lembaga pendidikan Islam,” tegas Faisal.

Pada masa kepemimpinan KH. Muntaha, pengembangan dalam bentuk inovasi pendidikan dalam proses mengembangkan pondok pesantren mulai dilakukannya sejak tahun 1950. Akan tetapi, pondok pesantren al- Asy’ariyyah baru memulai proses pengembangan lembaganya dan mengalami kemajuan pesat pada masa kepemimpinan KH. Muntaha.

Oleh karenanya, proses pengembangan pondok pesantren merupakan proses yang tidak sebentar. Pengembangan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, banyak ditentukan, dipengaruhi dan bergantung peran kiainya. Dari peran kiai ini, menjadikan pondok pesantren berkembang menjadi penggabungan pembelajaran agama dan umum.

“Umumnya pondok pesantren tradisional berfokus pada pembelajaran keagamaan. Namun belakangan ini, ada kecenderungan yang kuat, mengintegrasikan pembelajaran umum dan agama, seperti madrasah dan sekolah,” jelas pria Kelahiran Tulangbawang Lampung ini.

Fenomena ini, menurut Faisal menjadi menarik, sebab ada tidaknya perubahan dan perkembangan pondok pesantren, hanya dapat dilakukan dari dalam (endegeneous), yakni peran kiainya. Sehingga, penelitian ini berupaya untuk memotret bagaimana peran sebenarnya seorang kiai sebagai tokoh utama dalam sistem pendidikan pondok pesantren.

Kajian tentang pondok pesantren pada dasarnya telah banyak dilakukan oleh para ahli dan pakar kepesantrenan, beberapa di antaranya oleh Zamakhsyari Dhofier (1980), Karel A. Steenbrink
(1985), Mastuhu (1989), Abdurrahman Mas’ud (1997), Ronald Alan Lukens-Bull (1997), dan beberapa pakar lainnya. Hasil penelitiannya tersebut.

“Meskipun sudah lama dilakukan, namun sampai saat ini, masih menjadi rujukan utama dan relevan bagi para peminat bidang kepesantrenan,” ujarnya.

Sedangkan titik pijak dalam kajian ini adalah disertasi Z. Sukawi (2016) yang membahas tentang spiritualitas qur’ani yang berpusat kepada KH.Muntaha sebagai tokoh utama berdirinya UNSIQ. Temuan pada hasil penelitiannya ialah sebuah konsep spiritualitas qur’ani yang dibangun atas dasar syajarah al-Qur’an atau pohon keilmuan berbasis al-Qur’an, sehingga temuannya itu menjadi karakteristik yang unik sebagai kerangka filosofi akademik perguruan tinggi UNSIQ Wonosobo.

Konsep ini bermuara pada terwujudnya sebuah model pengembangan universitas pesantren yang transformatif, humanis dan qur’ani dengan memosisikan diri sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan modernitas.8
Berdasarkan temuannya, ia mendeskripsikan peran krusial KH. Muntaha sebagai sebuah model spiritualitas qur’ani di UNSIQ yang menyinergikan tiga unsur, yaitu unsur ilahiah, alamiah dan insaniyah.

Ujian Disertasi ini sendiri dihadiri oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag yang berlaku sebagai ketua Sidang dan Penguji, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag. Sekretaris sidang, Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, MA.,Ph.D. sebagai Promotor, Prof. Dr. Hj. Nur Uhbiyati, M.Pd. sebagai Kopromotor, Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. Penguji Eksternal. Sedangkan Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed., Dr. Hj. Lift Anis Ma’sumah, M.Ag., dan Dr. H. Musthofa, M.Ag. sebagai penguji. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here