Pembelajaran Jarak Jauh Timbulkan Bias Konfirmasi Bagi Pelajar dan Guru, Mahasiswa Walisongo Cetuskan Majelis Pinggiran

Sejumlah mahasiswa melakukan diskusi yang diadakan oleh Majelis Pinggiran di Segitiga Coffee, Ngaliyan, Semarang. (Dok.)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia secara langsung berpengaruh terhadap berbagai sendi kehidupan masyarakat. Salah satu yang terdampak langsung adalah sektor pendidikan dimana berbagai institusi pendidikan terpaksa melakukan pertemuan online guna melakukan pembelajaran.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan berbagai institusi ini ternyata memiliki beberapa dampak negatif. Diantaranya adalah bias konfirmasi yang sangat kentara ketika sekumpulan orang melakukan PJJ. Konsep pembelajaran ini dirasa tidak memberi pemahaman komprehensif tentang suatu pengetahuan. Imbasnya adalah kesalahan dalam menarik kesimpulan yang membuat efektivitas pembelajaran menjadi berkurang.

Hal inilah yang membuat sekelompok mahasiswa UIN Walisongo menginisiasi sebuah forum pertukaran ilmu pengetahuan yang tidak bias konfirmasi. Forum tersebut diberi nama Majelis Pinggiran dengan mengambil warung kopi sebagai tempat diskusi.

Koordinator Pelaksana Majelis Pinggiran, M. Azis Fatkhurrohman mengatakan, forum tersebut diadakan atas kegelisahan beberapa aktivis mahasiswa yang tergabung dalam komunitas literasi Rumpun Sabda Institute dan Sedulur Coffee Literasi (Secoter). Ia menyampaikan, forum tersebut merupakan upaya mengisi dialektika pengetahuan pemuda dan mahasiswa yang hampir kosong dikarenakan pandemi Covid-19.

“Awalnya, Majelis ini diadakan agar konfirmasi pengetahuan itu lebih mudah. Selain itu ya biar fokus juga. Kajian online itu kan bisa disambi, seringnya kita suka nggk fokus karena nyambi pekerjaan lain. Kalau offline gini kan kita nggk bisa nyambi, jadi bisa fokus,” kata Azis pada Senin (11/1/20201).

Ia menjelaskan, Majelis Pinggiran mengambil tema yang berbeda disetiap pertemuan. Hal itu dilakukan agar peserta diskusi tak merasa jenuh dengan kajian yang ada. Azis mengaku telah membuat kurikulum kajian yang disesuaikan dengan jumlah minggu pada setiap bulannya.

“Kami sudah menyusun silabusnya biar kayak kuliah beneran. Minggu pertama itu Filsafat, minggu kedua sospol, minggu ketiga islamic studies, dan minggu keempat itu cultural studies,” jelasnya.

Terkait keikutsertaan dalam Majelis Pinggiran, ia mengatakan tak ada batasan partisipasi peserta. Ia menegaskan bahwa Majelis yang telah dimulai sejak Agustus 2020 lalu itu selalu terbuka untuk semua orang/golongan, tidak terbatas status sosial, kampus, bahkan umur.

“Ya walaupun sejauh ini hanya diikuti oleh mahasiswa UIN Walisongo, kami tidak menutup diri dari pihak lain yang ingin ikut Majelis. Kami persilahkan. Kami malah senang jika ada peserta dari luar UIN yang ikut, jadi punya perspektif lain,” tegasnya.

Ketika disinggung soal biaya, ia mengaku tak pernah menarik sepeserpun uang dari peserta untuk keperluan pelaksanaan Majelis. Ia menyampaikan, Majelis Pinggiran selama ini berjalan dengan mengandalkan jejaring sosial dan niat tulus untuk bertukar pikiran melalui diskusi rutin.

“Majelis ini Gratis 100 persen dan terbuka untuk umum. Kalau pesan kopi dan camilan di warung kopi itu urusan lain. Nggk ribet kok, tinggal datang aja. Informasi kegiatannya bisa dicek di instagram rumpunsabda.id sama secoter kebumen,” pungkasnya. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here