Mahasiswa Undip Beri Penyuluhan Pada Remaja Tentang Pengelolaan Stres

Wijil Trisna Ningrum, mahasiswi Psikologi Undip memberikan penyuluhan pengelolaan stres kepada remaja secara langsung di Kelurahan Sendangguwo Kecamatan Tembalang Kota Semarang. (Mushonifin)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Sekelompok Mahasiswa Undip yang sedang melakukan KKN di Kelurahan Sendangguwo Kecamatan Tembalang Kota Semarang memberikan penyuluhan pengelolaan stres pada remaja di sana.

Wijil Trisna Ningrum, mahasiswi Psikologi Undip yang juga merupakan peserta KKN mengatakan penyuluhan tersebut dilakukan secara langsung atau tatap muka pada minggu keempat KKN dengan membatasi orang yang hadir dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di pos PAUD RT 01 RW 10, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Remaja juga diberikan poster “Cara Mengatasi Stres”.

“Hal itu sebagai pegangan remaja dan supaya mereka dapat membacanya kembali,” ujarnya, Selasa (3/8/2021).

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini, individu mengalami perubahan ataupun perkembangan pada aspek fisik, psikologis dan juga psikososial.

Trisna mengatakan, di masa ini pula, individu mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru serta membentuk pola identifikasi yang baru. Tak jarang remaja mengalami kebingungan dan krisis identitas, remaja juga mengalami ketidakstabilan emosional, sensitif, agresif juga kadang ceroboh dalam mengambil keputusan.

“Apabila remaja mengalami stres berkepanjangan, hal itu akan mengganggu tahap perkembangan yang dilaluinya, selain itu juga akan menyebabkan krisis pendewasaan,” ujarnya.

Masalah akademik, masalah dengan teman dekat atau lawan jenis, hubungan dengan orang tua yang tidak baik, adanya persaingan antar saudara merupakan masalah yang seringkali dihadapi remaja dan menjadi penyebab stres diantara mereka. Hal itu akan menimbulkan berbagai dampak buruk pada tubuh ataupun perasaan.

“Efek yang terjadi pada tubuh seperti mengalami kesulitan tidur, gangguan makan, sakit kepala, sakit perut, sakit atau nyeri di bagian leher dan bahu serta mudah lelah. Sedangkan perasaan yang ditimbulkan akibat stres berupa perasaan sedih, cemas, khawatir, menjadi mudah marah, dan sulit untuk fokus atau berkonsentrasi,” sambung Trisna.

Terlebih pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, hal itu menurut Trisna menjadi penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, ataupun depresi pada banyak orang termasuk remaja. Kegiatan sekolah tatap muka (luring) yang berubah menjadi daring, menyebabkan remaja sulit untuk berinteraksi secara langsung dengan teman-teman dan lingkungan sosialnya. Padahal remaja lebih menyukai kegiatan yang dapat berinteraksi atau berkaitan langsung dengan lingkungan sosialnya. Hal ini memicu tingginya tingkat stres yang dialami remaja. Oleh sebab itu, penting bagi remaja untuk mengetahui bagaimana cara mengelola stres yang baik.

Berikut tahapan dalam mengelola stres yang bisa dilakukan yaitu dengan mengenali stres yang dialami, lalu pahami dampaknya bagi diri sendiri, bisa berupa dampak fisik, emosional atau psikologis dan juga perilaku.

Setelah itu buat strategi untuk mengendalikan stres yang dirasakan. Beberapa sarana coping untuk stres minor juga bisa dilakukan dengan kontak fisik, tertawa, menangis, bercerita mengenai masalah yang sedang dihadapi dengan orang lain serta melakukan aktivitas seperti jalan-jalan, olahraga, ataupun melakukan hobi yang disukai.

Selain itu, terdapat beberapa cara lain untuk mengatasi stres, diantaranya;

  1. Melakukan forgiving, dengan membuang emosi, perasaan dan perilaku negatif yang ada pada diri sendiri.
  2. Mencari dukungan sosial, dengan bercerita kepada keluarga, teman, kerabat atau kelompok terdekat lainnya. Hal itu akan membantu meningkatkan ketahanan diri dalam menghadapi stres.
  3. Membuat jurnal/diary, dengan menulis individu dapat melepaskan emosi sekaligus dapat memahami perasaan dan pikiran negatif sehingga meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan memudahkan dalam mengambil keputusan.
  4. Melakukan terapi, dengan relaksasi otot, mindfulness, atau meditasi.

Remaja yang hadir dalam kegiatan penyuluhan menuturkan bahwa sekolah online membuat mereka tidak pernah bertemu dengan teman-teman sekolahnya, terlebih mereka yang baru duduk di Sekolah Menengah Pertama, Selain itu, tugas yang diberikan guru mereka juga terhitung banyak.

“Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa pandemi COVID-19 ini menimbulkan stres pada remaja. Jika stres yang dirasa terus-menerus atau berlebihan maka dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental, selain itu juga akan mengganggu tahap perkembangan remaja. Dengan demikian, penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada remaja mengenai pentingnya mengelola stres dan juga diharapkan remaja lebih bisa mengenali emosi yang mereka rasakan sehingga mereka mengetahui strategi coping stres yang dapat dilakukan,” pungkas Trisna. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here