Sugiarno Belum Lihat Generasi Muda Warisi Nilai Juang

Danramil 13 Semarang Selatan Mayor Inf Rahmatullah AR (kiri) memberi bingkisan pada Soegiarno di kawasan makam kakaknya, Soegiarin di TPU bergota Semarang

SIGIJATENG.ID, Semarang – Para pejuang pelaku Pertempuran 5 Hari Semarang, di bulan Oktober ini selalu terngiang betapa pedihnya penderitaan menghadapi penjajahan Jepang. Meski dijajah lebih-kurang 3,5 tahun, namun rasanya berabad-abad karena hidup selalu dalam tekanan yang tak manusiawi. 

“Siapa pun yang membangkan dan berani melawan Jepang, saat itu pasti tak akan pernah lagi bisa berkumpul keluarga,” tandas Sugiarno (88), mantan pejuang 1945, warga Semarang Barat, Jumat (17/8/2018).

Melihat generasi muda sekarang ia mengaku prihatin karena nilai-nilai kejuangan atau patriotisme tak lagi ada di hati para generasi muda.
“Saya melihat para generasi muda sekarang sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri-sendiri. Mereka tak peduli akan nasib bangsanya yang semakin ke depan semakin terancam rasa persatuan dan kesatuan. Satu sama lain saling menjelek-jelekkan dan tidak bisa akur. Semestinya ini segera dibenahi, mereka harus ditata kembali dengan pendidikan karakter dan unggah-ungguh”, kata Soegiarno saat diundang Koramil 13 Semarang Selatan untuk menyemangati anggotanya agar terwarisi semangat juang pendahulu.

Pemuda menurutnya adalah tumpuan bangsa, karenanya dulu jepang menghabisinya agar bangsa ini lemah. Sekarang pemuda kita tidak dihabisi nyawanya, melainkan ditumpulkan pikirannya sehingga tidak peduli pada bangsanya.
“Andaikata Indonesia ini dihancurkan, saya tidak yakin mereka banyak yang rela memberikan darahnya untuk membela Indonesia. Karena itu bapak-bapak tentara ini juga punya tanggungjawab membina mereka,” harap Soegiarno kepada Danramil 13 Semarang Selatan Mayor Inf Rahmatullah SE MM. (rafif/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here