Inilah Kisah Sugiarno Pejuang’45 Warga Semarang Barat

Danramil 13 Semarang Selatan Mayor Inf Rahmatullah AR (kiri) memberi bingkisan pada Soegiarno di kawasan makam kakaknya, Soegiarin di TPU bergota Semarang.

SIGIJATENG.ID, Semarang –   Ada kisah yang menyayat sewaktu pecah Pertempuran 5 Hari Semarang pada hari Minggu, 14 Oktober 1945 bagi Sugiarno (88), mantan pejuang 1945, warga Semarang Barat. Waktu itu pasukan Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh menuju kampungnya di Poncol dan mencari pemuda untuk ditangkap. Saat itu usia Sugiarno baru 15 tahun.

Jepang marah karena banyak pemuda yang melawan pasca kekalahan Jepang atas Sekutu. Para pemuda ingin Jepang menyerahkan senjata mereka untuk bekal mempertahankan kemerdekaan. 

Karena hanya senjata yang rusak diberikan, maka pemuda Semarang marah dan membabi buta melakukan pencegatan terhadap Jepang yang ditemui di mana saja. Mereka (pemuda) ada yang menelanjangi bahkan menyiksa Jepang untuk menumpahkan kekesalannya. Karena itu jepang marah dan turun dari Kidobutai.

Saat itu, Soegiarno nyaris jadi korban pembunuhan Jepang. Tentara Kidobutai yang menggedor pintu rumahnya, menemukan Soegiarno berada di kolong tempat tidur dan menyeretnya keluar. Samurai tentara Jepang pun sudah menempel di lehernya, namun ibunya berusaha menghalangi kekalapan tentara Jepang. 

“Waktu itu saya nyaris jadi koban Jepang. Sebab waktu itu rumahku digedor dan saya sembunyi dibawah kolong tempat tidur, tapi ketahuan. Diseretlah aku dan ditotong samurai. Untung Ibuku menolong meminta ampun,” terang Sugiarno, Jumat (17/8/2018).

Ibunya kemudian menunjukkan sehelai foto adik Soegiarno bernama Soegiariam yang kala itu berumur 6 tahun bersama seorang tentara Jepang berpangkat Mayor di Surabaya. Soegiariam memag diangkat sebagai anak oleh seorang perwira Jepang di Surabaya sejak berumur 5 tahun.

Setelah tentara tersebut membaca huruf kanji yang ada di balik foto tersebut, akhirnya membatalkan niatnya untuk memenggal kepala Soegiarno. Selamatlah hidup Soegiarno dari kekejaman Jepang.

Saat itu, Soegiarno sedih menyaksikan kekejaman Jepang terhadap para pemuda. banyak pemuda yang dibunuh dengan cara disembelih dan jasadnya dibuang di sungai-sungai yang ada di Kota Semarang. Jepang sengaja memerahkan aliran sungai dengan darah pemuda Semarang sebagai bentuk teror.

“Dulu tentara jepang itu kejam sekali, tidak sedikit pemuda yang dibunuh dan jasadnya dibuang di sungai”, Kenang Soegiarno mengingat masa lalu.

Saat itu Soegiarno hanya bisa menjaga ibunya dan berdiam di rumah. Diakuinya, teman-teman sebayanya kala itu sudah malang melintang ikut berjuang melawan Jepang di Semarang. baru setelah Jepang dipulangkan ke negaranya setelah Sekutu datang dan adiknya Soegiariam kembali ke pangkuan ibunya, Soegiarno baru bergabung dengan Brigade 17 Tentara Pelajar berjuang melawan Belanda di Agresi II hingga Salatiga dan Yogyakarta.

Soegiarno yang merupakan adik kandung alm Soegiarin, penyebar berita dan teks Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 melalui kantor berita Domei. (rafif/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here