Waspada ! Covid-19 Varian Delta Mudah Menyerang Anak, Begini Pesan Dokter

Ilustrasi tes usap atau swab antigen Covid-19 pada anak. Foto : DOK. Ist

Jakarta (Sigi Jateng) – Data kematian anak akibat COVID-19 masih menjadi tertinggi di dunia. Bahkan, dari data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat jumlah anak yang terpapar COVID-19 terus bertambah.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kalimantan Barat, dr. Rifka, memberikan peringatan kepada masyarakat untuk mewaspadai dan dapat mengenali gejala COVID-19 varian Delta. Varian ini diketahui sangat mudah menginfeksi anak-anak.

“Saat ini, COVID-19 varian Delta menjadi kekhawatiran besar karena dengan mudah bisa menginfeksi anak-anak,” katanya.

Dia menjelaskan COVID-19 varian Delta diyakini memiliki kemampuan untuk menginfeksi anak dengan lebih kuat karena berkaitan dengan mekanisme perlindungan kekebalan silang yang disebabkan virus corona, di mana yang awalnya kategori anak lebih terlindung justru kini menjadi kurang terlindungi terhadap varian baru (increased susceptibility in children).

“Untuk itu, perlu pencegahan yang maksimal, termasuk menggunakan masker yang tepat dan benar, dan yang terpenting tidak membiarkan anak-anak keluar rumah jika tidak darurat,” kata Rifka.

Ia menambahkan para orang tua harus belajar mengenali gejala COVID-19 pada anak, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual atau muntah, diare, lemas, dan sesak napas.

Lalu waspadai gejala lain, seperti anak jadi banyak tidur, napas cepat, ada cekungan dada, hidung kembang kempis, saturasi oksigen kurang dari 95 persen, mata merah, ruam, leher bengkak, demam lebih dari tujuh hari, kejang, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, dan terjadi penurunan kesadaran.

Alat yang perlu disediakan di rumah ketika isolasi mandiri seperti termometer dan oximeter. Lalu, obat-obatan, antara lain obat demam, multivitamin, seng, dan vitamin D.

“Tentu semua ini diberikan setelah dilakukan pemeriksaan dokter. Jangan sembarangan mengkonsumsi obat, apalagi anak-anak, karena harus ada dosis khusus sesuai berat badan,” jelas Rifka.

Ia menambahkan selama melakukan isolasi mandiri anak, sebaiknya tetap menerapkan protokol kesehatan antara lain #pakaimasker, #jagajarak, #cucitangan, kemudian menerapkan etika batuk dan bersin. Orang tua juga mesti rutin memeriksa suhu tubuh anak saat pagi dan sore hari, lalu cek saturasi oksigen dan nadi serta pantau laju napas.

“Berikan anak makanan bergizi, jika bayi lanjutkan pemberian ASI. Lakukan desinfeksi ruangan,” sarannya.

Ia menambahkan usai isolasi mandiri, gejala yang muncul itu akan hilang selama kurun waktu 14 hari. “Dianjurkan tes usap ulang 10-14 hari setelah H+1 gejala. Bila tidak bisa swab, lakukan penambahan hari isolasi 10+3 hari sampai bebas gejala,” jelasnya.

Menurutnya, pada penderita anak dengan gejala kronis tentu masa isolasi lebih panjang, disesuaikan dengan gejala karena masa menular pun lebih panjang sehingga dokter yang menentukan kapan selesai isolasi.

Dia juga menyarankan agar anak-anak benar-benar tetap di rumah. Aktivitas yang dilakukan seperti berjemur, yang kemudian didukung dengan mengonsumsi makanan bergizi dan air putih. (Dye)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here