Telaah Tafsir Relasi Keluarga Dalam Kitab Al-Tahrir, Ini Penjelasan Muflihatul Khoiroh Dalam Disertasinya

Para penguji saat sidang ujian terbuka melalui zoom meeting. (Dok.)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Muflikhatul Khoiroh, seorang mahasiswa calon doktor UIN Walisongo Semarang menjelaskan tafsir maqāṣidīy ibn ‘Āsyūr tentang ayat-ayat relasi keluarga dalam kitab al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. Dalam pandangannya, bahwa tafsir maqāṣidīy ibn ‘Āsyūr yang bertumpu pada prinsip al-fiṭrah, al-maṣlaḥah dan al-ḥurriyyah yang ditujukan untuk mengeksplikasi pesan moral ayat-ayat relasi keluarga.

Menurut wanita yang akrab disapa Khoir, Tafsir Maqasidiy Ibnu Asyur dapat menyuguhkan cita-cita atau hikmah ayat yang aplikatif untuk kehidupan kekinian.

Khoir sendiri menyampaikan pemikirannya itu dalam ujian doktoral yang diadakam siang ini, Rabu (13/1/2021) melalui zoom meeting di hadapan para penguji di antaranya; KH. Husein Muhammad selaku penguji eksternal dan pakar dalam persoalan fiqih wanita dan keluarga. Selain itu hadir pula Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Imam Taufiq sebagai ketua sidang.

Permasalahan yang diangkat oleh Khoir adalah: Pertama, bagaimana formula tafsir maqāṣidīy Muḥammad al-Ṭāhir ibn ‘Āsyūr? Kedua, apa kontribusi tafsir maqāṣidīy ibn ‘Āsyūr dalam pengembangan makna ayat-ayat relasi keluarga dalam kitab al-Taḥrīr wa al-Tanwīr?

“Penelitian ini merupakan penelitian literer yang bertumpu pada data primer, yaitu teks tafsir ayat-ayat relasi keluarga dalam kitab al-Taḥrīr wa al-Tanwīr dan konsep maqāṣid ibn ‘Āsyūr dalam kitab Maqāṣid al-Syarīʻah al-Islāmiyyah,” ujar Khoir.

“Sedangkan data sekundernya yaitu semua informasi yang menjelaskan konsep maqāṣid, baik dalam bentuk buku maupun artikel-Jurnal,” imbuhnya.

Data yang telah dihimpun oleh Khoit dianalisis dengan teknik interpretasi fenomenologis dan komparasi.
Hasil kajiannya menunjukkan, bahwa; Muhammad Tahir ibn ‘Āsyūr menformulasi tafsir maqāṣidīy berdasarkan teori maqāṣid syarīʻah-nya yang dibangun di atas tiga pondasi, yaitu al-fiṭrah, al-maṣlaḥah, dan al-taʻlīl.

Konsep al-fiṭrah dielaborasi menjadi tiga prinsip, yaitu al-samāḥah, al-musāwah, dan al-ḥurriyyah. Konsep al-maṣlaḥah dikembangkan menjadi jalb al-manfa’ah dan dar’ al-mafsadah, dan Konsep al-taʻlīl (teknik kausasi) dikembangkan menjadi sifat-sifat atau kriteria-kriteria yang melandasi analogi dalam menunjukkan makna-makna utama yang berupa hikmah (al-ḥikmah) yang bermuara pada al-maṣlaḥah.

Tafsir maqāṣidīy ibn ‘Āsyūr, lanjut Khoir, sebagaimana tampak pada kitab al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, mengambil metode tafsir eklektik, izdiwājī, yaitu menggabungkan pendekatan tekstual dan kontekstual, serta memadukan metode tafsir ma’ṣūr dan ra’yī.

“Ibn ‘Āsyūr menerapkan tafsir maqāṣidīy-nya dengan langkah-langkah; pertama, menginvestigasi konteks turun ayat melalui penyuguhan sabab nuzūl, syair-syair Arab Jahiliyah, dan mengeksplorasi realitas sejarah sosial- budaya Jahiliyah sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para pakar budaya,” paparnya.

“Tujuannya adalah menemukan semangat ayat, sebagai maqṣad dasar-intensial, dalam merespon kehidupan; kedua, menjelaskan kasus problematik dan isu yang berkembang yang melatarbelakangi turunnya ayat untuk mewujudkan fungsi bayāniyah ataupun tabyīn terhadap ayat,” jelasnya.

“Ketiga, mengulas teks ayat secara struktural dan gramatikal dengan paradigma ījāz (redaksi tekstual yang singkat, namun padat makna) disertai dengan analisis semantik untuk meng-endorse makna-makna idiomatik ayat agar dapat memperluas potensi makna-makna tekstual ayat,” ungkapnya.

“Keempat, mendialogkan semangat ayat dengan problem kontekstual untuk menemukan makna-makna intensial-solutif, sebagai maqṣad teleologis, untuk dikomunikasikan dengan konteks kekinian, yaitu kondisi sosial-budaya era mufassir maqāṣidīy (ibn ‘Āsyūr); kelima mengimaginasi maqṣad teleologis menjadi makna-makna visioner- futuristik, sebagai telos atau hikmah ayat,” tandasnya.

Dengan demikian, tegas Khoir, tafsir maqāṣidīy tersebut berkontribusi dalam menghadirkan makna-makna ghāyah ayat-ayat relasi keluarga yang dinamis dan solutif bagi kehidupan kontemporer.

“Akhirnya, walaupun ibn ʻĀsyūr telah menyajikan karya tafsir maqāṣidīynya dengan sangat baik, tetapi berdasarkan analisis saya, masih terdapat kekurangan, yaitu ketidakjelasan sistematika tafsir yang digunakannya,” beber Khoir.

Khoir melanjutkan, berbeda dengan kitab tafsir al-Munīr karya Wahbah sebagai kitab tafsir yang sangat sistematis. Oleh sebab itu, Khoir merekomendasikan agar ada kajian lanjutan yang fokus pada penciptaan metode dan teknik tafsir maqāṣidīy yang definitif dan aplikabel. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here