Hari Batik Nasional, Pertamina EP Cepu Kembangkan Batik Ramah Lingkungan

Salah satu pengrajin Batik binaan Pertamina EP Cepu.

SIGIJATENG.ID, Blora – Dalam rangka memperingati hari batik nasional, PT Pertamina EP Asset 4 Cepu Field mewujudkan pengembangan batik ramah lingkungan dalam bentuk pemberian bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

IPAL batik diberikan kepada pengrajin Batik Pratiwi Krajan di Kelurahan Ngelo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, salah satu binaan Pertamina EP.

“Air limbah yang dibuang ke lingkungan, akan mengikuti Permen KLHK nomor 5/2014 tentang ketentuan baku mutu air limbah industri tekstil,” jelas Cepu Field Manager, Afwan Darowi, Rabu (2/9/2019)

IPAL juga akan dibangun di Kelompok Batik Manggar, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora.

Seperti IPAL yang diserahkan ke Pengrajin Barik Pertiwi, adalah salah saru strategi dan sistem yang dirancang untuk mengatasi isu kesehatan, produksi bersih, dan ramah lingkungan.

Menurut Afwan Daroni, IPAL itu dibangun dengan kapasitas limbah cair sebanyak 20 M3 atau setara dengan 400 potong kain batik.

Sistem pengolahan limbah mencakup ilmu kimia, biologi dan fisika menggunakan biofilter dan arang, tambah Cepu Field Manager Pertamina Ekplorasi dan Produksi (EP).

Selain bangunan fisik IPAL, Cepu Field juga memberikan pelatihan pengoperasiannya serta pengolahan daur ulang malam bekas, bekerjasama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

Sebanyak 20 orang peserta dari tiga kelompok pengrajin binaan Pertamina mengikuti pelatihan, ada dari Kelurahan Ngelo (Kecamatan Cepu) Desa Sumber (Kecamatan Kradenan) dan Desa Nglebur (Kecamatan Jiken).

“Target kami, penggunaan daur ulang malam sampai 98% sehingga mendapatkan sertifikat industri hijau, dan nantinya bisa menjadi batik ramah lingkungan,” tambah Daroni.

Ketua Kelompok Batik Pratiwi Krajan, Pancasunu Puspitosari, merasa sangat bersyukur dengan bantuan dari program corporate social and responsibility (CSR) Pertamina EP Asset 4 Cepu Field.

“Terima kasih bantuan dari CSR, karena ini sangat bermanfaat untuk kebutuhan industri batik rumahan,” ungkapnya.

Selama ini, lanjutnya, memang sudah ada bak limbah sederhana. Hanya saja kualitas baku mutu air untuk dibuang ke lingkungan sudah terus menurun seiring banyaknya jumlah batik yang diproduksi.

Diakuainya, dengan dukungan tersebut, pihaknya merasa tak canggung lagi kepada lingkungan masyarakat, terutama persoalan limbah.

“Sekarang kami bisa menunjukkan kepada masyarakat, bahwa batik yang diproduksi ramah lingkungan,” bebernya.

Sebelumya pada 2017 kelompok Batik Pratiwi Krajan, juga sudah mendapatkan pelatihan clean production meliputi kesehatan, dan keselamatan kerja pengrajin batik.

Selain itu berfungsi penghemat air, energi (menggunakan kompor listrik), dan penghematan bahan baku sehingga pelestarian budaya batik ini tetap memperhatikan lingkungan, tambah Afwan Daroni.

Khusus IPAL untuk perajin batik di Cepu, sudah sesuai dengan standar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ini bisa menjadi percontohan IPAL Batik di Wilayah Kabupaten Blora,” pungkas Cepu Field Manager, Afwan Daroni.( Agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here