Menegangkan! 3 Kakak Beradik di Pekalongan Nyaris Bakar Diri saat Rumahnya Di Eksekusi Tim Panitera, Begini Duduk Perkaranya

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Pekalongan (sigijateng.id) – Peristiwa menegangkan diwarnai kericuhan terjadi saat acara proses eksekusi tanah beserta bangunan di Jalan Kadipaten, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Pemilik rumah yang menolak dieksekusi menyiramkan bensin ke tubuhnya dan mengancam akan bakar diri.

Kejadian tersebut terjadi saat pihak panitera Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan membacakan keputusan Pengadilan, Rabu (10/7/2024). Salah seorang pria yang merupakan anak pemilik rumah, tiba-tiba mengeluarkan sebotol bensin dan menyiramkan ke tubuhnya.

Pokoke Ora trimo. Aku mending mati (Tidak terima. Aku lebih baik mati),” ucap pria berinisial MA tersebut.

Dari dalam rumah, kemudian muncul 2 orang adik MA sembari membawa masing-masing satu botol kaca berisi cairan bahan bakar bensin. Sementara, melihat aksi tersebut nampak petugas tengah berupaya menenangkan mereka dan memastikan tak ada rokok atau benda sejenis yang bisa memantik api.

Aksi penolakan berlanjut menjadi kericuhan saat ketiganya nekat mengejar seorang pria yang diduga pemenang lelang rumah tersebut. Sejumlah persoil aparat polisi yang sudah siaga dilokasi pun langsung bertindak dan mengamankan ketiganya.

Dari informasi yang dihimpun, berikut ini awal mula duduk perkara kasus tersebut hingga akhirnya dilakukan proses lelang rumah. Taufik (46), kakak dari ketiga pria itu mengungkapkan, peristiwa ini berawal saat istrinya, Istiqomah, meminjam uang di salah satu bank sebesar Rp 140 juta, dengan jaminan sertifikat tanah yang mereka tempati.

Pinjaman tanah ini diajukan tahun 2014. Tanah dan bangunan itu milik ibunya, Yani Wastri (70), dengan jumlah anak delapan orang. Setelah itu, lanjutnya, bank tempat Istiqomah meminjam dinyatakan kolaps.

Pinjaman Istiqomah di-take over ke bank lain. Taufik mengaku tak ada pemberitahuan soal take over ini. “Kasusnya sudah lama atas nama istri saya di tahun 2014, kita pinjam di bank. Tidak lama bank kolaps, akhirnya di take over ke bank lain lagi. Itupun tidak ada pemberitahuan,” kata Taufik.

Taufik menyayangkan soal tidak adanya pemberitahuan dari bank ini. Menurutnya, tiba-tiba pihak bank hanya menginformasikan ada tunggakan enam bulan angsuran. Setelah itu tanahnya langsung dilelang.

“Itu tidak ada istilahnya teguran atau pemberitahuan, bahwa punya saya di bank yang baru ini. Ya tahu-tahu, saya telat enam bulan, langsung lelang,” imbuhnya.

Pihak pemilik rumah juga merasa tidak diberitahu saat proses lelang terjadi. Harga lelang dinilai mereka jauh di bawah harga normal. “Yang sedihnya, proses lelang kita tidak tahu. Hasil lelang pun nilainya terlalu jauh dari harga tanah bangunan. Dilelang Rp 350 juta,” imbuhnya.

“Inikan, proses lelang pun kita nilai janggal. Ibu kami juga tidak merasa menandatangani apapun terkait lelang,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Wastri. Dirinya mengaku tak pernah dilibatkan atau ikut terlibat dalam penandatangan surat apapun terkait lelang.

“Saya tidak pernah tanda tangan untuk pelelangan rumah itu dan saya tidak setuju tanah itu dilelang. Apabila ada tanda tangan (saya) di surat pelelangan itu berarti tandatangan palsu. Saya tidak pernah menjual tanah itu,” jelasnya.

Meski diwarnai penolakan dan kericuhan. Proses eksekusi berjalan lancar usai ketiga kakak-adik diamankan petugas. “Tadi saya sudah berkomunikasi ke pihak PN dan mereka bilang biar proses eksekusi berjalan dulu, nanti terkait proses hukum selanjutnya bisa dilakukan,” kata Taufik.

Sementara itu, Panitera PN Pekalongan, Aryudiwan, mengungkapkan kasus tersebut sudah lama terjadi. Sedianya akan dilakukan eksekusi beberapa bulan lalu, namun berbenturan dengan pelaksanaan Pilpres dan kondisi Wastri saat itu tengah sakit.

“Ya, kami laksanakan eksekusi pengosongan ini atas pembeli lelang. Jadi prosesnya sudah dulu sudah tegur, tapi karena saat itu kendalanya ibunya sakit dan ada Pilpres,” tandasnya. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini