Kandungan Belerang di Bledug Kuwu dan Bledug Cangkring Grobogan Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Ahli Geologi

Lokasi Bledug Cangkring, Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. (foto sugiono / sigi jateng)

Grobogan (SigiJateng.id) – Pasca meluapnya lumpur “Bledug Cangkring atau “Baby Vulcano” di Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah masih hangat diperbincangan oleh masyarakat.

Selain masyarakat biasa, para tokoh masyarakat (tomas) dan sejumlah tokoh setempat spiritual sitidaknya ikut memperhatikan serta angkat bicara. Tentu saja mereka saling mempunyai pandangan yang berbeda, namun hal ini tidak menjadikan masalah pada masing masing yang berpendapat.

Dari  rangkaian fenomena yang terjadi pada Bledug Cangkring yang keberadaan lumpurnya mengandung belerang, menurut Ahli Geologi jika kandungan belerang tersebut tidak berbahaya. Meski demikian, jika terdapat luberan yang signifikan besarnya, agar kewaspadaan tetap perlu dijaga.

Menurut Handoko Teguh Wibowo Ketua Komite Shifting Energy dan EBTKE Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), muntahan lumpur pasca gempa merupakan hal yang wajar terjadi di beberapa Gunung Lumpur, termasuk “Baby Volcano” atau “Bledug Cangkring” pada beberapa hari yang lalu pasca gempa Tuban. Bahkan, beberapa peristiwa alam yang serupa, semburan itu muncul di rekahan tanah bersamaan peningkatan debit air yang keluar juga sering dijumpai pasca gempa.

“Hal ini terjadi karena adanya tekanan berlebih (overpressure) yang diakibatkan rambatan gelombang gempa yang terjadi di bawah kawah Mud Volcano (Gunung Lumpur),” terang Handoko melalui ponsel, Senin (25/3/2024).

Pria jebolan (S1) Jurusan Teknik Geologi UGM dan (S2) Marine Geology and Geophysic, Oregon State University, USA ini juga menjelaskan, dari berlebihnya efek gempa yang mengguncang dasar kawah “Gunung Lumpur” atau Mud Volcano menyebabkan lepasnya tekanan dari bawah menuju atas melalui celah berupa kawah yang diikuti air dan lumpur dalam volume yang banyak. Saat ada gempa yang berkekuatan besar, semburan lumpur cair dari Gunung Lumpur seperti di “Baby Volcano” dimungkinkan muncul kembali.

“tingkatanya seperti itu. Hal ini bisa berulang kembali ketika magnitudo gempa cukup besar dan menimbulkan tekanan berlebih,” terang Handoko.

Kasubpokja Penanganan dan Penutupan Semburan di Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (2007-2009) ini juga menjelaskan, sesuai hasil riset, kandungan belerang di Bledug Kuwu dan Baby Volcano di Kabupaten Grobogan yang masih satu kawasan itu tercatat tidak berbahaya. Meski demikian, juga perlu diwaspadai yaitu material erupsi yang keluar dengan debit tinggi bisa berdampak menggenangi persawahan sampai juge ke permukiman.

“Hasil uji laboratorium kandungan belerang di Bledug Cangkring dan Bledug Kuwu itu sama karena masih satu kompleks. Kandungan belerang yg dikeluarkan masih di bawah ambang dan masih berstatus aman untuk manusia,” katanya.

Dikatakan juga oleh Handoko, jika lokasi gunung lumpur banyak terdapat di Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang dan beberapa kabupaten di Jatim (zona kendeng). Gunung lumpur di Bledug Cangkring dan Bledug Kuwu (Grobogan) serta Oro Oro Kesongo (Blora) menunjukan jika di lokasi tersebut terdapat kandungan minyak dan gas. Tingkat suhu keberadaan gunung tersebut berkisar 30 derajat celcius hingga 32 derajat celcius. Hal ini sangat beda jauh jika dibanding dengan lumpur lapindo yang suhunya mencapai 100 derajat celcius. (gik)

Berita Terbaru:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini