Dorong Pertanian Maju, DPRD Jateng Inisiasi Raperda Penyelenggaraan Sistem Pertanian

Suasana acara seminar Raperda penyelenggaraan Sistem Pertanian di Jawa Tengah

SOLO ( Sigijateng.id ) – Provinsi Jawa Tengah terus berkomitmen untuk mendukung Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Kontribusi Jawa Tengah dibuktikan dengan menjadi salah satu lumbung pangan nasional.

Hal ini sejalan dengan upaya Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah yang menginisiasi penyusunan Raperda tentang Penyelenggaraan Sistem Pertanian Di Provinsi Jawa Tengah. Sebagai tahap awal dilakukan seminar yang dihadiri Pimpinan dan Anggota Komisi B DPRD Jateng, pemerintah kabupaten/ kota se-Jateng yang digelar di Hotel Front One Airport Kabupaten Boyolali, Kamis (21/3/2024).

Ketua komisi B DPRD Jateng Sarno saat memberi paparan dalam seminar Raperda penyelenggaraan Sistem Pertanian di Jawa Tengah

Hadir sebagai narasumber Ketua komisi B DPRD Jateng Sarno, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Himawan Wahyu Pamungkas, SP, M.P. , serta Akademisi UNS Surakarta Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM, ASEAN Eng. Dalam Paparannya Ketua Komisi B DPRD Jateng Sarno butuh komitmen nyata kebutuhan pangan dunia yang semakin terbatas. Ketersediaan pangan dunia harus terus dijaga untuk memenuhi kebutuhan pangan 9 milyar jiwa pada tahun 2050.

Terlebih sejak beberapa tahun terakhir produksi pangan di jawa tengah juga terus mengalami penurunan. Sehingga diperlukan persiapan yang konkrit agar pertanian di Jawa Tengah tetap terjaga dengan baik.

“ Isu pangan menjadi semakin menarik ditengah tengah kondisi isu pemanasan global, alih fungsi lahan pertanian, hingga konflik antar negara,” Ujar Sarno.

Dengan Penyusunan Raperda tentang Penyelengaraan Sistem Pertanian di Provinsi Jawa Tengah tersebut diharapkan semakin memperkuat produktivitas dan pertanian di Jawa Tengah. Keberadaan Raperda tersebut juga akan semakin memperkuat Pemerintah maupun steakholder terkait dalam mengambil kebijakan kedepannya.

“ Kondisi pertanian di Jawa Tengah trennya terjun bebas atau turun. Hal ini terjadi karena produktivitas dan lahan pertanian juga semakin menyusut. Sehingga dibutuhkan payung hukum agar system pertanian di Jawa Tengah semakin mambaik,” imbuh Sarno.

Hal yang sama diungkapkan Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Himawan Wahyu Pamungkas yang menegaskan jika lahan pertanian di Jawa Tengah dari tahun ke tahun terus menyusut. Imbasnya produksi pertanian seperti padi juga mengalami penurunan drastis dibawah target yang ditentukan pemerintah sehingga harus disikapi bersama secara serius.

“Faktanya memang produksi padi di Jawa Tengah semakin lama semakin menurun. Bahkan di tahun 2023, target produksi padi di Jateng berada di bawah target yang telah ditentukan oleh Kementrian Pertanian,” ujar Himawan.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Himawan Wahyu Pamungkas, SP, M.P. saat memberi paparan dalam seminar Raperda penyelenggaraan Sistem Pertanian di Jawa Tengah

Tidak dapat dipungkiri, beberapa lahan di Jawa Tengah juga mengalami penurunan produktivitas karena adanya degradasi lahan karena digunakan terus menerus dengan menggunakan pupuk kimia. Kedepan sebaiknya lahan pertanian di Jawa Tengah dikembalikan lagi dengan menggunakan system pengolahan organic yang lebih ramah lingkungan.

“Penurunan produksi ini linier dengan penurunan produktivitas. Ini akan menjadi begitu penting jika kita kaitkan dengan gagasan dan ide dari Komisi B DPRD Jateng untuk Menyusun sebuah regulasi perda pertanian organic,” imbuh Himawan.

Sementara itu Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surakarta Surakarta Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM, ASEAN Eng. Juga menggaris bawahi terkait permasalah pertanian di Jawa Tengah yang begitu kompleks. Butuh dukungan pemerintah dan inovasi agar produktivitas petani kembali meningkat.

“ Yang lebih pinting itu bagaimana system pertanian organic itu bisa menyehatkan Masyarakat dan lahannya. Pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan kedepan harus dilakukan agar lingkungan tidak rusak agar anak cucu kita bisa mewarisi lahan tetap subur untuk menghasilkan produk yang lebih baik,” ujar Prof. Samanhudi (Adv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini