Syarat Meninggalkan Shalat Jumat Bagi Musafir, Simak Penjelasan Buya Yahya

Syarat Meninggalkan Shalat Jumat Bagi Musafir, Simak Penjelasan Buya Yahya (Foto : Thumbnail YouTube Al-Bahjah TV)

SIGIJATENG.ID – Shalat Jumat merupakan ibadah shalat dua rakaat yang dilakukan dengan berjamaah, dilaksanakan setelah khotbah Jumat, dan pada waktu Zhuhur di hari Jumat, yang wajib dilakukan oleh laki-laki muslim yang sudah akil baligh.

Namun, ada beberapa keadaan yang memperbolehkan seorang pria muslim meninggalkan Shalat jumat, yakni apabila sedang dalam perjalanan musafir.

Pendakwah Buya Yahya menjelaskan syarat meninggalkan shalat Jumat bagi musafir.

Melalui salah satu kajian yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV, seorang jamaah bertanya kepada Buya Yahya perihal tersebut

“Mengenai Shalat jumat, apakah orang yang bermukim kurang dari tiga hari, dianjurkan Shalat dzuhur atau tetap Shalat jumat, dan apakah Shalat jumat harus dikampung sendiri?” tanya jamaah tersebut, dikutip SIGI JATENG, Jumat (6/1/23).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Buya Yahya menjelaskan, dalam situasi di perjalanan, seorang muslim boleh meninggalkan shalat jumat, jika bepergian yang dilakukan di hari Jumat berdasarkan pendapat Mazhab Imam Syafii.

Meski hukumnya mubah, Buya Yahya menekankan ada syarat yang perlu diketahui kaum muslimin terkait tak mengerjakan shalat Jumat tersebut.

Buya Yahya menuturkan jika bepergian ke tempat yang jauh, melintasi kota atau provinsi, jika sudah melewati tapal batas maka umat muslim sudah dibolehkan mengqashar atau menjamak shalat.

“Khusus shalat Jumat, Anda boleh meninggalkan shalat Jumat dengan syarat berdasarkan pandangan Mazhab Imam Syafii, boleh meninggalkan shalat Jumat apabila Anda meninggalkan kampung Anda sebelum terbit fajar atau masih masuk waktu Shubuh,” jelas Buya Yahya.

Kemudian, apabila perjalanan yang dilakukan melewati waktu Shubuh atau sudah terbit fajar, maka tetap wajib melaksanakan shalat Jumat.

Shalat Jumat dapat dikerjakan di sela-sela perjalanan yang dilakukan, namun jika takut atau khawatir ketinggalan rombongan perjalanan maka bisa melakukan shalat Zhuhur dan boleh dijamak.

“Kalau Anda orang Cirebon, mampir ke Semarang, lalu berada di daerah itu selama tiga hari, Anda tidak wajib shalat Jumat sebab musafir, kecuali sudah berniat tinggal sepekan di daerah itu maka mulai menginjakkan kaki di tempat itu sudah wajib Shalat Jumat,” ujar Buya Yahya.

Lebih lanjut, Buya Yahya menuturkan, Shalat Jumat tidak harus dikerjakan di kampung sendiri atau tempat tinggal, bisa dikerjakan di kawasan mana pun termasuk luar negeri.

Batasnya adalah seorang musafir yang wajib Shalat Jumat bermukim di suatu tempat selama empat hari, maka sudah diwajibkan shalat Jumat di tempat yang dituju, di mesjid mana pun.

Adapun terkait perintah shalat Jumat telah termaktub di dalam Al-Quran pada Surah Al-Jumu’ah Ayat 9.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanū iżā nụdiya liṣ-ṣalāti miy yaumil-jumu’ati fas’au ilā żikrillāhi wa żarul baī’, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(dimas)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here