Senator Abdul Kholik Tidak Setuju Larangan Buka Puasa Bersama, Kontraproduktif dengan Syiar Ramadan

Anggota DPR RI Abdul Kholik. ( foto dok probadi)

SEMARANG (sigijateng.id) – Larangan Presiden Jokowi soal buka puasa bersama mengundang pro dan kontra. Senator DPD RI asal Jateng, DR H Abdul Kholik tidak setuju dengan larangan itu.

Abdul Kholik mengkritik larangan buka bersama para pejabat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Larangan tersebut adalah kurang bijak. Ini karena momentum bulan Ramadan salah satunya adalah identik dengan buka bersama sebagai bentuk rasa syukur dan semangat persaudaraan.

“Ingat, buka bersama juga sarana memperbanyak amalan sodakoh. Sebab, acara itu sering mengundang para anak yatim dan kaum duafa untuk berbagi kebahagiaan. Jadi larangan buka puasa itu kontraproduktif dengan semangat syiar bulan Ramadan,” kata Abdul Kholik, Jumat (24/3/2022).

Terlebih lagi, lanjut anggota DPD asal Jateng ini, dalam kecenderungan internasional buka bersama kini sudah semakin berkembang sebagai bentuk hubungan harmonis dan saling mengakui antarumat beragama. Misalnya di Gedung Putih yang menjadi simbol demokrasi di negara yang umat Islamnya minoritas, buka bersama Presiden AS, jajaran pemerintahan, serta komunitas Muslim Amerika telah rutin dilakukan.

“Maka, ada pesan kuat momentum Ramadan sangat dihargai oleh kalangan non-Muslim. Ajang buka bersama tersebut dipakai sebagai alat rekonsiliasi antarumat beragama di AS dengan pejabat pemerintahannya,” ujarnya.

Selain itu, kata Kholik, acara buka bersama sudah merambah dunia olah raga. Ini misalnya sejumlah klub elit di Liga Inggris seperti Chelsea, Everton, dan lainnya menyelenggaran buka bersama sebagai penghargaan kepada pemain Muslim dan warga Muslim di Inggris. Para klub tersebut menyediakan stadionnya untuk berbuka bersama. Yang hadir pun bukan hanya umat Islam, tapi non Muslim juga ikut serta.

”Lebih dari itu, Liga Inggris sudah membuat kebijakan menghentikan pertandingan untuk memberikan kesempatan berbuka puasa kepada pemain Muslim. Maka tampak jelas bahwa larangan buka puasa itu tidak sejalan dengan tren dunia yang makin inklusif dan menjadikan ajang ini sebagai momentum rekonsiliasi dan persaudaraan umat beragama. Maka larangan buka puasa itu perlu ditinjau kembali,” kata Abdul Kholik. (aris)

Baca Berita Lainnya

100 100 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here