Santri Pesantren Tahfidh MAJT-Baznas Tidak Hanya Menghafal Al Quran Namun Juga Dikuliahkan, Semua Gratis

Wakil Gubernur Jateng Gus Yasin membagikan kitab suci Al Quran kepada santi. ( foto aris/sigijateng)

SEMARANG (sigijateng.id) – Wakil Gubernur Jateng H Taj Yasin Maemoen memberikan pesan khusus kepada para santri Tahfidh Al-Quran MAJT-Baznas Jateng, yakni agar  selalu menjaga adab sopan santun, baik santun dalam berbahasa, santun dalam berpakaian,  santun dalam perilaku dan penampilan.

Pesan Gus Yasin itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam acara peresmian Pesantren Tahfidh Al-Quran MAJT-Baznas Jateng di ruang aula MAJT Semarang Jalan Gajah Raya Gayamsari. Adapun Pesantren Tahfidh Al-Quran MAJT-Baznas Jateng ini berada di komplek MAJT, persisnya menempati ruangan di sabelah utara bangunan utama masjid.

Tahun pertama target santri putra sebanyak 70 orang. Mereka berasal dari 35 daerah di Jawa Tengah. Namun saat ini, baru ada 20 santri dari beberapa kota/kabupaten di Jateng.

Selama berada di pesantren, mereka ditargert hafal Alquran 30 juz maksimal 4 tahun. Namun demikian mereka tidak hanya sekedar mengaji dan menghafal Al Quran saja, namun juga pelajar kitab kuning, bahkan juga kuliah.  Sementara, pengelola sudah menjalin komunikasi dengan universita terbuka (UT).

Selama santri berada di pesantren, semua kebutuhannya  baik kebutuhan di pesantren dan kuliah, semuanya gratis ditanggung oleh baznas provinsi dan baznas masing-masing kota kabupaten.

”Para santri harus selalu santun dalam penampilan. Saya harapkan para santri selalu menjaga adab sebagai santri. Di antaranya, sopan dalam penampilan ini sangat penting, kalau rambutnya gondrong dirapikan, karena santri Tahfidh MAJT-Baznas akan menjadi almamater yang akan dinilai oleh masyarakat,” terang Gus Yasin.

Santri pesantren Tahfidh AL Quran MAJT-Baznas sedang membaca ikrar janji santri. ( foto aris syaefudin/sigijateng)

Menandai peresmian Pesantren Tahfidh Al-Quran, wagub Gus Yasin mengalungkan sorban dan membagikan kitab suci Al-Qu’ran kepada para santri. Kemudian, para santri mengucapkan ikrar sebagai santri yang akan menjaga tata tertib selama menimba ilmu di pesantren.

Hadir pada acara tersebut, Ketua Baznas se-Jateng, orang tua santri Tahfidh, Ketua Baznas Jateng, Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Baznas RI yang juga Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Ahmad MA, sesepuh MAJT KH Ali Mufiz, dan sesepuh Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, KH M Ulil Albab Arwani Al-Hafidz, sekaligus memberikan tausiyah pada peresmian Pesantren tahfidh.

Ketua Baznas Jateng, KH Ahmad Darodji mengatakan, dari 35 kabupaten/kota belum semua mengirimkan santrinya untuk belajar di pesantren tahfidh ini. Bagi daerah yang belum mengirimkan santri diharapkan ke depan segera mengirimkan santrinya. Santri di pesaantren setelah lulus akan menjadi sarjana dan lulus dari pesantren yang akan banyak manfaatnya di daerah masing-masing.

”Para santri akan dibiayai secara bergotong- royong antara Baznas Kabupaten/Kota, Baznas Jateng, dan MAJT. Para santri tahfidh akan dibekali ilmu Al-Quran dan Insya Allah akan mendapatkan ilmu lain yang bermanfaat, misalnya nyambi kuliah di universitas terbuka, dan Insya Allah kuliah tidak akan mengganggu pelajaran di pesantren,” kata KH Darodji.

Menurut KH Darodji, peran Baznas di Pesantren Tahfidz membantu pembiayaan para santri. Misalnya, biaya bulanan ditanggung oleh Baznas kabupaten/kota. Sedangkan operasional, misalnya honor gurunya akan dipikul bersama MAJT, dan Baznas Jateng akan membiayai SPP melalui beasiswa Baznas saat kuliah di universitas terbuka.

Sementara Ketua PP MAJT, Prof Dr Noor Ahmad MA mengatakan, target yang akan dicapai dalam pendirian Pesantren Tahfidz Al-Qur’an ini diharapkan bisa mencetak santri penghafal dan fasih membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Setiap tahun minimal dua orang yang akan dikembalikan ke daerah untuk menjadi imam masjid di daerah masing-masing.

”MAJT nantinya juga akan menggalang kerja sama secara nasional, para santri hafiz Qur’an kita kirim ke sejumlah daerah di Indonesia yang membutuhkan. Bahkan akan menjalin kerja sama dengan luar negeri. Tahun ini saja MAJT akan mengirim dua imam shalat ke luar negeri, karena memang permintaan imam shalat dari luar negeri banyak yang membutuhkan,” ujar KH Noor Ahmad.

Menurut Prof Noor Ahmad, para santri Tahfidh akan menjalani pembelajaran selama empat tahun. Untuk menunjang studi para santri, MAJT dan Baznas melakukan kerja sama dengan Universitas Terbuka (UT). Para santri akan dibekali ilmu komunikasi, sehingga selain mahir dalam bidang tahfidh, juga akan menguasai ilmu komunikasi.

Kewajiban PP MAJT membiayai pembangunan revonasi asrama yang representatif untuk para santri meliputi ruang belajar mengajar, kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan, dan lain-lain, dengan dana awal sebesar Rp565.000.000. Selain itu PP MAJT bertanggung jawab dalam hal pengadaan kiai/pengasuh Tahfidz, penyelenggaraan proses belajar mengajar tahfidz, pengelolaan/manajemen serta sarana pendukung lain yang diperlukan.

Pihak Baznas Jawa Tengah dengan batas kewenangannya mendukung melalui bantuan pentasarufan dana zakat untuk pesantren Tahfidz Al-Qur’an sebagai asnaf badan hukum fi sabillah, berupa biaya operasional rutin sebesar Rp. 30.000.000 per bulan.

Direktur Pesantern Tahfidz Al Quran MAJT-Baznas  Kiai Syaifuddin LC MA mengatakan, pesantren ini diinisiasi oleh dua Lembaga, yakni MAJT dan Baznas Jateng.

“Target peserta 70 orang. Namun saat ini baru 20 orang. Dua tiga hari ke depan akan datang lagi beberapa santri dari beberapa kota kabupaten di Jateng,” kata dia dalam sambutannya. (aris)

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here