Diterjang Bencana Longsor Awal Tahun 2022 Silam, Petani Sayur Lereng Prau Rugi Besar Akibat Akses Vital Jembatan Hilang

Bencana tanah longsor menerjang satu-satunya akses jalan warga Dusun Pranten Bawang setahun Januari 2022 silam. Foto :Dok. vian/sigijateng.id

Batang (sigijateng.id) – Hidup dengan berladang dan bertani sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi masyarakat di Desa Pranten Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Profesi bertani yang dilakukan warga di lereng Gunung Prau tersebut sudah turun temurun.

Terlebih tempat tinggalnya yang berada di ketinggian lebih 2.000 Mdpl di lereng gunung, berkawan dan berselimut dengan kabut hampir saban menit dirasakan warga setempat. Mulai anak-anak, remaja hingga dewasa/tua.

Lahan pertanian yang berada di lereng gunung dan digarap mereka kebanyakan adalah tanaman sayuran, seperti kentang, bungan kol, selederi, daun bawang, wortel dan sebagainya. Adalah ciri khas produksi pertanian bagi masyarakat disana.

Dari hasil bertani tersebut, lambat laun tak sedikit warga yang akhirnya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga di tingkat menengah atas. Meski sebagian kecil ada yang memondokkan anaknya di sebuah pondok pesantren di wilayah sekitar sembari mengenyam pendidikan sekolah.

Sebut saja, Rondhi (69) salah satu tokoh warga di Dusun Pranten. Bagi lelaki tua yang sudah memiliki banyak cucu ini, bisa menghidupi keluarganya dari bertani sayuran kentang di lereng Gunung Prau.

Bencana tanah longsor menerjang satu-satunya akses jalan warga Dusun Pranten Bawang setahun Januari 2022 silam. Foto :Dok. vian/sigijateng.id

Namun disisi lain, dibalik itu semua. Kondisi infrastruktur di lingkungan wilayah masyarakat tinggal, terutama akses menuju ke lading pertanian jauh sangat sulit. Rusaknya akses jalan, menjadi salah satu faktor bagi warga setempat tidak bisa meningkatkan lebih hasil produksinya.

“Iya bagaimana tidak, biaya pertanian saat pengolahan lambat laun terus naik setiap tahunnya. Tapi hal itu tidak seimbang dengan harga jual. Tidak hanya soal mahalnya, transportasi, kebutuhan pupuk serta akses jalan yang jauh lebih parah rusaknya,” beber Rondhi.

Rondhi mengungkapkan, wilayahnya yang berada di lereng pegunungan juga tidak lepas rawan akan terhadap bencana seperti tanah longsor. Selain merusak akses jalan, juga hilangnya lahan akibat longsor. “Sering terjadi bencana longsor disini, terlebih saat hujan dengan intensitas tinggi,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Rondhi, akses jalan yang merupakan satu-satunya penghubung dengan dusun lain dan merupakan jalan menuju ke pusat pemerintahan desa juga jauh. “Belum lagi jika ingin ke ibukota kecamatan hingga kabupaten, membutuhkan tidak sedikit waktu tempuh,” lanjutnya.

Bencana tanah longsor menerjang satu-satunya akses jalan warga Dusun Pranten Bawang setahun Januari 2022 silam. Foto :Dok. vian/sigijateng.id

Rondhi menambahkan, sejak akses jalan terkena bencana tanah longsor tepatnya di atas dusun Pranten berbatasan dengan dusun Rejosari. Para petani banyak yang merugi, sebab hasil jual produksi pertanian tidak seimbang dengan biaya selama perawatan.

“Hilangnya jembatan yang pernah dibuat secara swadaya oleh masyarakat, menjadi kendala. Para petani tidak bisa menjual hasil pertanian dengan harga tinggi. Justru biaya transportasi dan tenaga menjadi naik,” ungkapnya.

Senada dikatakan, Faizin (39) warga dusun setempat. Ia mengaku, akses jalan sempat terputus akibatnya jembatan penghubung hilang diterjang tanah longsor pada awal tahun 2022 silam. “Akses jalan ini sangat vital sekali bagi masyarakat disini. Sebab, satu-satunya akses jalan yang digunakan untuk mmebawa hasil produksi pertanian serta menuju ke pusat pemerintahan desa,” kata dia.

“Belum lagi, akses ini juga penghubung antar kabupaten yakni Batang-Banjarnegara-Wonosobo,” imbuhnya.

Dia menambahkan, warga kerap swadaya membangun akses jalan. Biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. “Warga sangat berharap, akses jalan terutama jembatan yang hilang akibat diterjang longsor, kembali ada pembangunan yang permanen dan lebih kuat. Ini yang diharapkan,” imbuhnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here