Warga Meyakini Makam di SMPN 38 Adalah Makam Petilasan Ki Ageng Pandanaran I

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat melihat sebuah makam yang duga petilasan Ki Ageng Pandanaran I di dalam kompleks SMPN 38 Semarang di Jl. Bubakan. (Foto. Humas SMPN 38 Semarang)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengecek dugaan adanya petilasan Ki Ageng Pandanaran I di dalam kompleks SMPN 38 Semarang di Jl Bubakan Semarang Timur. 

Dia mengaku pada Jum’at (30/9/2022) mendapat laporan dari Kepala SMPN 38 untuk meninjau lokasi tersebut. Diapun mengapresiasi langkah SMPN 38 yang tetap merawat petilasan yang diyakini masyarakat sebagai bekas makam Ki Ageng Pandanaran.

“Saya rasa keberadaan petilasan tidak akan mengganggu aktivitas belajar mengajar di tempat ini. Bahkan bisa disinergikan dengan pelajaran sejarah, khususnya sejarah perkembangan Islam di Semarang. Sekaligus dapat menguatkan visi misi sekolah sebagai Sekolah Duta Wisata. Perlu dukungan dari Dinas Pendidikan untuk membantu di penelusuran cerita petilasan lewat para ahli sejarah maupun literasi sejarah yang lain,” katanya pada Sabtu (1/10/2022). 

Sementara itu, Kepala SMPN 38, Drs. Selamet MPd mengaku tidak mengetahui keberadaan makam tersebut. Dia mulai menyelidiki semenjak diberitahu tentang petilasan Ki Ageng Pandanaran dari Kepala Sekolah yang lama. 


“Awalnya, saat pertama menjabat kepala sekolah saya juga tidak tahu jika di dalam sekolah ada petilasan makam. Kemudian diberitahui oleh kepala sekolah yang lama jika di dalam sekolah ada petilasan makam dan diminta untuk merawat. Kabar adanya petilasan mulai tersiar luas ke luar setelah proses pembangunan sekolah dimulai, sekitar Agustus lalu,” bebernya. 

Pembantu Pimpinan Bidang Sarana Prasarana SMPN 38, Ali Imron menambahkan berdasar informasi yang dikumpulkan sekolah dari masyarakat sekitar, petilasan tersebut disebut sebagai bekas makam Bupati Semarang, Ki Ageng Pandanaran I. Versi para sesepuh di Bubakan menyebutkan di sela kesibukannya menyiarkan agama Islam, Ki Ageng Pandanaran kerap menjadikan titik tersebut sebagai tempat istirahat. Hingga akhir hayatnya dan kemudian dimakamkan di tempat itu. 

“Para orang tua di sini (Bubakan) mendapat cerita itu turun temurun dari buyut-buyutnya. Bahwa di tempat itu, Ki Ageng Pandanaran menancapkan tongkatnya saat beristirahat,” beber dia. 

Ali Imron kemudian membeber keyakinan masyarakat sekitar tentang ditancapkannya tongkat Ki Pandanaran. Bahwa hal itu menjadi tetenger atau pertanda bahwa kelak geliat pembangunan Kota Semarang berawal dari tempat itu atau Bubakan. Dan memang kawasan Bubakan kemudian makin berkembang dengan munculnya Kota Lama dan dibukanya jaringan trem di zaman kolonial, dibangunnya terminal bus AKAP maupun AKDP, adanya kawasan tempat hiburan THD hingga saat ini menjadi salah satu pusat bisnis di Kota Semarang.  

Sementara, keyakinan petilasan merupakan bekas makam Ki Pandanaran sejalan dengan penggalan cerita di catatan Amen Budiman dalam buku Semarang Riwayatmu Dulu jilid pertama. Di buku yang diterbitkan Tanjung Sari pada tahun 1978 disebutkan setelah Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran meninggal, jenazahnya dimakamkan di kompleks kabupatennya di Bubakan.

Hanya saja, karena kawasan itu di era penjajahan Belanda digunakan untuk pembangunan gedung pengadilan, maka makam dan jenazah Ki Ageng Pandan Arang dipindah ke Tinjomoyo alias Pakisaji, di kompleks bekas padepokannya, ketika ia mulai pertama tiba di Pulau Tirang.

Slamet menimpali pihaknya saat ini tengah berupaya mencari literatur yang bisa menjadi petunjuk sejarah dari petilasan Bubakan.  Sekolah juga membuka diri dengan kehadiran para ahli sejarah yang hendak menelusuri cerita peradaban lampau petilasan.  “Kami akan mencoba mencari literasi sejarah Semarang di perpustakaan Kauman,” ujar dia. 

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here