Telaah Perjalanan Walisongo, KKN MIT 14 UNI Walisongo Gelar Podcast Kewalisongoan

SEMARANG (sigijateng.id) – KKN Mandiri Inisiatif Terprogram Ke- 14 Kelompok 11 UIN Walisongo mengadakan program kerja Podcast bertajuk kewalisongoan sesuai dengan nama Universitas tercinta. Podcast yang dibuat pada 14 Juli 022 ini ini menelaah tentang perjalanan Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam di Nusantara.

Sebagai narasumbernya, mahasiswa KKN mengundang Achmad Asrofin selaku salah satu tokoh agama juga ketua RT 3 / RW 4 di Kampung Damyak, Kelurahan Sumurrejo, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

Podcast berlangsung kurang lebih selama 15 menit di Musholla pukul 20.00 WIB kampung setempat. Bincang panjang dalam podcast ini membahas beberapa hal terkait eksistensi dan resiliensi dakwah Walisongo dari masa ke masa termasuk di kampung Damyak itu sendiri.

“Strategi dakwah Walisongo yang paling efektif di era sekarang yakni dengan melaksanakan tradisi yang sudah tertanam dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar, khususnya di Desa Damyak. Proses dalam penyiaran dakwah Islam sangat halus sistemnya karena karakter budaya sebelum datangnya Islam sudah mengenal Kejawen. Adanya Walisongo dalam menyiarkan Islam di tanah Jawa tidak langsung memutus atau melarang, artinya para Walisongo hanya menumpangi adat yang sudah ada hanya saja dibaluti dengan syariat islam yang dinamis,” terang Asrofin.

Walisongo tidak hanya berfokus di Jawa saja, juga di luar Jawa dengan mengutus para murid atau santrinya. “Tidak mesti harus bertatap langsung, karena berbeda zaman sesuai dengan sabda Rasul “al-ulamaa’u waratsatul anbiya’”. Inilah yang menjadikan Indonesia tetap akur meski terdiri dari banyak agama karena konsep para ulama yang telah diwariskan dalam bentuk Pancasila pada kita agar tidak mudah bercerai berai dengan banyaknya aliran,” kata dia lagi.

Penerapan dakwah Walisongo bagi para milenial dengan meneladani metode para ulama Walisongo. Yang terpenting adalah realisasinya dengan media yang lebih canggih ”bukan door to door”. Kini, dakwah tidak mengandalkan mulut saja, tapi juga bisa menggunakan jari.

Asrofin juga berpendapat bahwa, keadaan pandemi tidaklah mengikis semangat dakwah, justru menambah semangat. Menurutnya, pandemi hanyalah cobaan semata dari Allah, yang terpenting bagaimana kita menyikapi musibah tersebut sehingga tidak mengurangi semangat dakwah. Misalnya dengan patuh perintah pemerintah dengan memenuhi protokol 5M dan vaksin. “Patuh Ulil Amri juga merupakan salah satu pesan Rasul dan yang juga dijunjung oleh para Walisongo,” tegasnya.

Di akhir perbincangan, Asrofin, memberikan pesan dan kesan bagi para Mahasiswa KKN MIT 14 Kelompok 11 UIN Walisongo. “Tetaplah semangat menebarkan ruh dakwah para Walisongo meski dengan banyak perbedaan dan cobaan agar dapat menciptakan Rahmatan lil ‘aalamiin di mana pun kita berada. Jangan anggap perbedaan menjadi sebuah bencana, tapi anggaplah sebagai suatu keindahan,” pungkas Asrofin. (zella-kknuinws/asz)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here