Qurban Itu Dilakukan Setiap Tahun atau Cukup Sekali Seumur Hidup? Begini Syariat dan Tata Cara Pelaksanaannya

Ilustrasi : Empat hal yang tidak boleh dilakukan saat kamu berkurban ( foto pixabay)

SIGIJATENG.ID- Hari Raya Idul Adha 1443H / 2022 M akan segera datang. Hari itu, umat Islam yang berada di Arafah Mekah sedang melakukan rangkaian ibadah haji.
Sedang umat Islam yang tidak berhaji, disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban.

Qurban ini juga disyariatkan kepada orang yang mampu. Namun masih ada yang kurang pasa dalam memahami Qurban salah satunya soal menyembelih hewan qurban itu dilakulan sekali seumur hidup atau setiap tahun.

Untuk membahas soal qurban ini mari kita simak tulisan DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo.

 DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah

Banyak pertanyaan dikalangan umat Islam, baik tentang tatacara (kaifiyah) pelaksanaan ibadah qurban ini, maupun tentang hukumnya menurut para ulama.

Apakah hukumnya wajib atau sunnah, cukup sekali atau setiap tahun sekali?

Menyongsong Idul Qurban ini perlu kiranya diurai kembali, untuk mengingatkan umat, agar pelaksanaannya sesuai dengan syari’at.

Hukum berqurban

Kurban berasal dari bahasa Arab qarraba-qurbanan, yang artinya mendekatkan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud dengan kurban adalah menyembelih hewan ternak, seperti onta, sapi, kambing yang sehat, tidak cacat, dan sudah cukup umur, dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Waktu penyembelihan adalah tanggal 10 (nahr) dan tanggal 11, 12, dan 13 (tasyrik) bulan Dzulhijjah. Daging qurban kemudian dibagikan kepada orang-orang yang berhak, terutama fakir miskin, termasuk yang berqurban.

Perintah qurban ini tercantum dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 : “Maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban.” . Dalam Hadits disebutkan bahwa: “Rasulullah berkurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ibadah qurban bahkan telah menjadi syari’at sejak Nabi Ibrahim, jauh sebelum Islam datang. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al Hajj ayat 34 : Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). Nabi Ibrahim as bahkan diperintahkan untuk menyembelih putranya, Ismail as sebagai qurban, yang kemudian digantikan dengan domba yang gemuk.

Berdasarkan ayat dan praktek Nabi saw, maka hukum berqurban menurut kesepakatan mayoritas ulama, Imam Malik, Syafi’i, dan Hambali, adalah sunnah mu’akkad, yaitu anjuran yang kuat, medekati wajib. Mereka berpendapat, meskipun ibadah qurban ini diperintahkan (amar) dan jelas-jelas dipraktekkan Nabi (sunnah), tetapi tidak menunjukkan wajibnya.

Karena ada Hadits yang lain yang lebih tegas, Nabi saw bersabda : “Ada tiga hal yang wajib atasku dan tatawwu’ (sunah) bagi kamu, yaitu sholat witir, kurban, dan sholat dhuha.” (HR. Ahmad, Al Hakim, dan Daruqutni dari Ibnu Abbas). Dalam hadits ini Nabi menegaskan bahwa ibadah qurban adalah wajib bagi diri Nabi dan sunnah bagi umat Islam. Karena hukumnya sunnah mu’akkad, maka dihukumi makruh (dibenci) bagi orang yang mampu tetapi tidak berqorban.

Pendapat yang lain dikemukakan oleh Abu Hanifah, bahwa berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits tentang qurban, ulama madzhab Hanafi menyimpulkan kurban sebagai amalan yang wajib. Artinya, bagi seorang muslim yang mampu hukumnya berdosa jika tidak berqurban. Hukum wajibnya qurban ini juga didasarkan kepada Hadits Nabi saw : “Barangsiapa orang yang mempunyai kecukupan rizki tetapi tidak mau berqurban, maka jangan mendekati tempat salatku”.

Hadits ini dapat dipahami, bahwa Nabi membenci dan mengancam dengan keras orang yang mampu tetapi tidak mau berqurban, maka jangan mendekati tempat shalatku. Artinya, jangan berjamaah denganku. Bisa diperluas lagi artinya, tidak termasuk umatku. Apa-apa yang dibenci oleh Nabi adalah pasti adalah hal yang dilarang. Sebaliknya, adalah hal yang diwajibkan.

Setiap tahun sekali

Sebagian masyarakat ada yang menganggap ibadah qurban cukup sekali selama hidup. Syari’at yang benar adalah setiap tahun sekali bagi orang yang mampu.

Nabi saw bersabda : “Ya ayyuhannas ‘ala kulli ahli baitin fi kulli ‘amin udlhiyah”. (Wahai para manusia, sesungguhnya pada setiap ahli rumah diperintahkan untuk berqurban pada setiap tahun).

Dalam Islam hanya ibadah haji yang diwajibkan sekali dalam hidup. Hal ini karena beratknya bekal dan perjalanan haji ke tanah suci. Hal ini terbukti, bahwa sekarang ini untuk bisa melaksanakan haji orang harus menunggu giliran puluhan tahun.

Selain ibadah haji, pelaksanaan ibadah harus berulang-ulang, terus berjalan selama ruh masih dikandung badan. Ibadah sholat lima waktu sehari semalam harus terus dijalankan, sekalipun dalam kondisi sakit atau berpergian.

Ibadah puasa ramadhan harus terus ditunaikan setiap tahun. Zakat, infaq dan shadaqah bahkan harus dikeluarkan setiap saat. Membaca Al Qur’an, berdzikir, istighfar, harus diucapkan setiap hembusan nafas. Beribadah harus terus dan berkali-kali. Berbuat dosa harus bertaubat dan cukup sekali.

Hikmah dari ibadah qurban adalah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw: “Berkorbanlah dengan hati yang ikhlas, sesungguhnya setiap muslim yang menghadapkan sembelihannya kearah kiblat ketika menyembelih, maka darahnya, kotorannya, bulu-bulunya, adalah kebajikan yang dapat menambah berat timbangan amal kebaikan pada hari kiamat”.

Selain berharap ridla dan pahala dari Allah swt di akhirat, ibadah qurban ini melatih diri, agar rela berkorban demi kebersamaan. Karena manusia sehebat apapun, sekaya apapun, sepinter apapun, tidak akan bisa hidup sendiri. Kita butuh kebersamaan untuk hidup yang lebih nikmat dan bahagia. Semoga kita semua diberikan niat yang kuat, diberikan keleluasaan dan kemudahan rizki oleh Allah, sehingga mampu berkorban setiap saat, termasuk pada hari Idul Qurban nanti. Amin.

DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, juga Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas/Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah/Sekretaris bidang Humas dan Kerjasama MAJT/Ketua Bidang Remaja dan Kaderisasi Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Tinggal di Tambakaji H-40 Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. ***

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here