Perluas Revitalisasi Kota Lama, Pemkot Semarang Sentuh Kampung Melayu dan Masjid Layur

Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan survey di wilayah Kampung Melayu pada Kamis (23/6/2022). (Foto. Mushonifin/sigijateng.id)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Pengembangan dunia wisata di sebuah kota tak bisa lepas dari eksistensi sejarahnya. Kota Semarang sendiri memiliki beragam peninggalan sejarah yang menjadi penanda perjalanan panjang warganya.

Salah satunya kampung melayu, yang menjadi salah satu kampung tertua di Semarang. Kampung ini memiliki karakteristik dengan berbagai etnik di dalamnya. Terdapat etnik Arab, Tionghoa, India, Pakistan, Cirebonan dan Banjar bisa kalian jumpai di Kampung Melayu.

Pada awalnya Kampung Melayu adalah sebuah Pelabuhan Lama pada zaman Belanda. Terdapat fasilitas seperti kantor dagang, markas, mercusuar, gudang dan beberapa rumah pegawai yang menjadi pembentukan pemukiman Kampung Melayu.

Berangsur-angsur Kampung Melayu menjadi pintu gerbang kedatangan bagi pedagang-pedagang dari berbagai negara. Wilayah ini juga mulai ditinggali di sekitar kawasan tersebut. Sehingga banyak etnis dari berbagai negara tinggal di Kampung Melayu.

Karena sejarah itulah, Pemerintah Kota Semarang akan merevitalisasi kampung ini dengan memperbaiki fasilitas warga hingga pemugaran situs bersejarah.

“Ini kan pokoke intine ndandani kampunge dewe, jadikan opo yo, perlu saling tenggang rasa, saling menghormati,” ujar Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan survey di wilayah Kampung Melayu pada Kamis (23/6/2022).

Kampung Melayu sendiri menjadi prioritas program revitalisasi kawasan wisata Kota Lama, setelah sebelumnya Pemerintah Kota Semarang membangun ulang Little Netherland (Pusat Kota Lama).

“Jadi salah satu upaya pengembangan dari kota lama, setelah little netherland (pusat Kota Lama) kita masuk ke Kampung Melayu ini. Jadi dulu di sini juga menjadi pusat aktivitas dagang dan ekonomi Kota Semarang berada, selain Johar sebagai pusat pemerintahannya,” ujar Hendi.

Di lorong Layur Kampung Melayu terdapat sebuah masjid tua dengan perpaduan tiga budaya yaitu Arab, Jawa, dan Melayu. Masjid layur atau yang biasa disebut dengan Masjid Menara, merupakan bangunan masjid tua di Kota Semarang yang didirikan sekitar tahun 1802. Tepatnya berada di Jalan Layur, daerah kampung Melayu. Masjid ini dibangun oleh para pedagang Arab yang membawa barang dagangannya menggunakan kapal. Walaupun sudah dimakan usia, masjid ini tetap menjadi tempat beribadah untuk warga yang beragama Islam.

Terdapat menara yang ada di dalam Masjid, dimana menara itu bangunan paling tinggi di Kampung Melayu. Dulunya menara ini digunakan untuk memantau aktivitas di Kampung Melayu. Masjid ini menjadi kebanggaan Kota Semarang dan terus dirawat untuk pelestarian sejarah di Kota Semarang.

“Di Kampung Melayu ini juga ada peninggalan bersejarah, yaitu salah satu masjid tertua, yaitu Masjid Layur yang menjadi saksi sejarah berkembangnya Kota Semarang serta perjuangan kemerdekaan jaman dulu,” ujarnya.

Masjid itu sendiri akan mendapat sentuhan revitalisasi mulai dari perluasan kawasan, pembangunan tempat parkir, penambahan toilet, dan sebagainya.

“Sekarang masih kami revitalisasi, saat ini progresnya sudah 70 persen. Mungkin akan selesai Bulan Juli atau Agustus nanti,” tandas Hendi.

Wali Kota berharap, kedepan penataan Kampung Melayu dan Masjid Layur dapat menyerap daya tarik wisatawan baik lokal, nasional, maupun internasional.

“Harapan kami, setelah pengembangan Kampung Melayu ini selesai, dan perbaikan fasilitas di sini sudah memadai, akan ada banyak wisatawan baik lokal maupun luar yang datang ke sini,” tutup Hendi.(Mushonifin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here