Nguri-uri Budaya, Pertunjukan Ketoprak Dialog Budaya dan di Kota Magelang Disambut Antusias Warga

Anggota DPRD Jateng Arifin Mustofa saat menjadi pembicara dalam dialog budaya yang digelar Sekretariat DPRD Jateng di Pendopo Wali Kota Magelang. ( foto humas dprd jateng)

MAGELANG (Sigijateng.id) – Upaya melestarikan budaya atau nguri-uri budaya digelorakan oleh semua anggota DPRD Jateng. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menggelar dialog budaya dan sekaligus menggelar pertunjukan berbagai jenis seni budaya di berbagai daerah di Jawa Tengah.

“Nguri-uri budaya adalah tanggung jawab kita semua, termasuk anggota DPRD Jateng. Semua anggota DPRD Jateng sebanyak 120 orang, sepakat bergerak bersama untuk bersama-sama melestarikan budaya yang ada di Jawa Tengah,” kata anggota DPRD Jateng H Arifin Mustofa, SPd saat menjadi narasumber dalam acara dialog budaya dengan tema Nguri-uri Kesenian Khas Kota Magelang, di Pendopo Wali Kota Magelang, Jumat (3/6/2022).

Para pembicara dalam dialog budaya di Pendopo Wali Kota Magelang. ( foto humas dprd jateng)

Acara dialog budaya ini kemudian dilanjut dengan pertunjukan ketoprak humor Cinde Laras: Kacang Lali Kulite. Kegiatan nguri-uri budaya ini mendapat sambutan luar biasa dari pemerintah kota setempat, pelaku seni, dan juga warga setempat.

Sebagai narasumber lainnya dalam dialog budaya tersebut Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Papa Riyadi dan budayawan Sus Anggoro.

Arifin Mustofa mengatakan, pihaknya menyadari akan masuknya budaya asing yang banyak. Memang tidak semua budaya asing itu negatif, namun harus disaring agar budaya asli leluhur bisa tetap lestari. Semakin tingginya arus globalisasi di kalangan masyarakat dapat membuat jati diri bangsa semakin memudar.

“Nilai dan norma yang tidak jarang bertentangan dengan nilai budaya dan norma masyarakat suatu bangsa dengan mudahnya masuk dan mempengaruhi seseorang hanya dengan kecanggihan smartphone atau komputer. Hal ini tentunya akan mengancam jati diri bangsa apabila tidak ditanggapi dengan serius,” terang politisi dari PKS ini.

Dia pun menegaskan, bahwa nguri-uri budaya tidak hanya didiskusikan, dibicarakan saja. Namun yang paling penting dalam upaya melestarikan budaya yakni dengan cara dipentaskan dan ditanggap. Dengan ditanggap, maka kreativitas para seniman bisa dinikmati oleh publik.

“Kami mendorong, nguri-uri budaya tidak hanya diomongkan, didialogkan saja, namun juga dipentaskan, ditanggap. Karena itulah, acara dialog budaya ini juga rangkai dengan pementasan budaya yakni ketoprak. Silahkan, apa saja jenis seni budaya, harus sering dipentaskan, ditanggap. Biar kreatifitas para pelaku seni bisa dinikmati public,” kata mantan anggota DPRD Kota Magelang tiga periode ini.

Arifin Mustofa menambahkan, seringan dengan kemajuan teknologi saat ini, seperti smartphone yang semakin canggih, hendaknya kemajuan teknologi juga bisa dijadikan sarana untuk melestarikan budaya. Manfaatkan teknologi itu dengan positif bukan malah dijauhi.

“Sekarang ada media sosial seperti youtube, dan lain-lain. Hendaknya itu bisa dimanfaatkan. Saya juga sering melihat pertunjukan wayang melalui youtube,” terang wakil ketua fraksi PKS ini.

Dia berharap, hendaknya semua elemen turut andil dalam melestarikan budaya. Tidak hanya legislatif dan eksekutif, namun juga semua masyarakat.

“Saat ini banyak budaya joget-joget yang sudah banyak ditiru anak-anak muda, mereka lupa dengan budaya negaranya sendiri dan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai kebudayaan bangsa,” tegasnya.

Sementara, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Papa Riyadi mengatakan, selaku instansi yang menaungi kebudayaan pihaknya menyambut gembira dengan program DPRD Jateng ini, yakni kegiatan dengan tujuan melestarikan kebudayaan.

Dan melestarikan budaya ini tidak hanya hanya tanggung jawab pemerintah, anggota dewan saja, namun juga masyarakat dan orang tua. Peran masyarakat dan orangtua juga penting. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai program pelestarian budaya yang dimasukan kedalam kurikulum pelajaran sekolah.

“Kami sebagai eksekutif juga ikut berperan dalam melestarikan budaya, yakni dengan memasukan budaya ke dalam kurikulum sekolah salah satunya basa jawa. Itu sudah diatur dalam pergub dan perda Jawa Tengah,” kata Pap Riyadi.

Upaya lain yang dilakukan Pemerintah Kota Magelang dalam melestarikan budaya, tambah Papa Riyadi, salah satunya yakni dalam acara HUT Kota Magelang, kalau dulu hanya digelar di satu tempat saja, kini digelar di 10 tempat terpisah. Tahun ini, pertunjukan seni budaya yang dipertunjukkan saat HUT adalah wayang kulit.

“Untuk dalangnya, dulu juga dari luar daerah, sekarang dalangnya dari lokal saja, dari Kota Magelang saja. Jadi dalang dalang lokal Kota Magelang punya kesempatan manggung, mengeluarkan kreatifitasnya di 10 titik itu,” ucapnya.

Pertunjukan Ketoprak Humor yang digelar usai dialog budaya di Pendopo Wali Kota Magelang. ( foto humas dprd jateng)

Sementara sebagai budayawan, Ki Sus Anggoro menyambut gembira dan mengapresiasi upaya DPRD Jateng yang mulai berperan dalam pelestarian kesenian yang sudah mulai pudar. Anggoro berharap kegiatan ini terus berlanjut dengan mengangkat berbagai jenis seni budaya.

“Harapan ini kami, ini bisa terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian wakil rakyat kepada seniman-seniman Jawa Tengah, yang mulai tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi,” pintanya. (adv)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here