Mahasiswa Unwahas Gali Inspirasi dari dr. Lie Pendiri Rumah Sakit Apung Gratis

dr. Lie (tengah batik hijau), pendiri rumah sakit apung gratis bagi daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) berfoto bersama rektoe dan pejabat Universitas Wahid Hasyim usai gelqe seminar di Ruang Theater Fakultas Kedokteran. (Foto. Unwahas)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Universitas Wahid Hasyim Semarang bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) perwakilan Jawa Tengah menghadirkan Kuliah Umum bersama dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV atau yang akrab dipanggil dr.Lie.

Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Theater Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim tersebut dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Wahid Hasyim Prof. Dr. H Mudzakkir Ali,MA, Ketua INTI Jawa Tengah Gouw Andy Siswanto, Direktur Pasca Sarjana, para Wakil Rektor Universitas Wahid Hasyim, para Dekan dan seluruh keluarga besar Civitas Academica Universitas Wahid Hasyim serta Mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Ketua INTI Jawa Tengah Gouw Andy Siswanto menjelaskan jika kiprah dr.Lie yang peduli dengan sesama dan gemar bersosial tersebut patut dicontoh.

“Saya rasa ini sejalan dengan Universitas Wahid Hasyim yang mengutamakan rasa kemanusiaan, dan melihat perjalanan dr. Lie yang sangat luar biasa ini semoga Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim dapat meneruskan cita-cita Beliau,” ungkapnya, Kamis (23/6/2022).

Kuliah Umum kali ini merupakan hasil kerja sama yang baik yang telah terjalin antara Universitas Wahid Hasyim dan INTI Jawa Tengah.

“Senang sekali dua tahun lalu kita tanda tangani kerja sama dan masih dapat berlanjut hingga saat ini, dan kita dapat mengundang dr.Lie untuk memberikan Kuliah Umumnya siang ini,” pungkasnya.

Dokter Lie Agustinus Dharmawan mendirikan rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia, bahkan di dunia, yang bertujuan memberi pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Bakti kemanusiaan awak kapal RSA dr. Lie Dharmawan memulai pelayaran perdananya pada 2013 lalu dari Kepulauan Seribu, Belitung Timur, dan Kalimantan Barat.

Adapun sepanjang 2018 rumah sakit apung telah berlayar ke delapan daerah yang minim fasilitas kesehatan, seperti wilayah barat daya Maluku, Sulawesi Tenggara, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sementara itu dalam sambutannya Rektor Universitas Wahid Hasyim Prof. Dr. H Mudzakkir Ali, MA menjelaskan jika dr.Lie mengajarkan kekuatan keyakinan dalam menempuh perjalanan hidup, dan pengabdian pada kemanusiaan yang sangat tinggi.

“Dengan membangun rumah sakit di atas laut, dr.Lie mengajarkan juga tentang Hijrah, yaitu melakukan hal yang tidak seperti biasanya,” ungkapnya.

Kuliah Umum yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube UNWAHAS TV tersebut di akhiri dengan sesi tanya jawab dan tanda tangan buku dr.Lie yang dibagikan gratis untuk peserta Kuliah Umum. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here