Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf : NU Miliki Kemampuan Otoritatif sebagai Representasi Islam di Dunia

KH Yahya Cholil Staquf saat jadi pembicara di Universitas Oxford (foto nu.or.id)

SIGIJATENG.ID – Sejarah NU dalam membangun peradaban Islam di Indonesia, memiliki perjalanan pengalaman panjang dalam mengelola dan mengembangkan peradaban Islam.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf saat berkesempatan menjadi pembicara kunci di kampus bergengsi dunia, Universitas Oxford, Inggris pada Selasa (22/11/2022).

Mengawali diskusinya, seperti dilansir dari situs resmi nu.or.id, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah yang akrab disapa Gus Yahya itu menyampaikan sejarah panjang dinamika peradaban Islam.

Setelah runtuhnya Ottoman, komunitas muslim dunia menghadapi persoalan global yang cukup kompleks. “Seluruh pihak perlu duduk bersama, mengungkap secara jujur akar pesoalan yang dihadapi, lalu merumuskan solusi bersama secara komprehensif,” ujar Gus Yahya, Selasa (21/11/2022) di Universitas Oxford.

Gus Yahya memaparkan empat persoalan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Pertama, penggunaan istilah “kafir” kepada pemeluk agama yang berbeda. Terminologi ini seringkali secara politis digunakan sebagai dalih untuk melakukan kekerasan kepada pihak lain. “NU secara tegas menolak hal tersebut. Problem identitas muslim-kafir harus diatasi dengan cara yang tidak boleh menimbulkan masalah baru,” tegas Gus Yahya.

Kedua, perlunya mengembangkan cara pandang baru tentang konsep Syariah. Menurut Gus Yahya, konsep ini seringkali dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Padahal pengembangan pemikiran Syariah Islam perlu dilakukan terus-menerus supaya ajaran Islam semakin relevan dengan kondisi dan kearifan masyarakat di seluruh dunia.

Ketiga, perlunya mengatasi berbagai konflik yang terjadi dengan jalan dialog dan perdamaian untuk meminimalisasi berbagai benturan baik dalam kelompok-kelompok Islam sendiri maupun Islam dengan pihak lain. Keempat, isu formalisasi negara Islam.

Menurut Gus Yahya, kehidupan organisasi negara sangat tergantung kepada pilihan terbaik dari masyarakat negara yang menjalaninya. Islam secara spesifik tidak menawarkan bentuk negara, namun Islam memberi dasar nilai-nilai universal yang bisa dijadikan rujukan dalam membangun relasi sosial dalam masyarakat negara.

Gus Yahya menegaskan, melalui pengalaman panjang Nahdlatul Ulama dalam mengelola dan mengembangkan peradaban Islam di Indonesia, NU memiliki kemampuan otoritatif sebagai representasi Islam untuk memberi penjelasan kepada masyarakat dunia.

“Dunia hari ini perlu membangun cara pandang baru dalam membangun misi peradaban Islam agar peradaban Islam terasa lebih segar dan kontekstual dengan situasi kita hari ini,” terang Gus Yahya.  

Untuk mewujudkan hal tersebut, imbuh dia, NU terus bekerja sama dengan berbagai tokoh dan organisasi agama di seluruh dunia, salah satunya melalui pertemuan Religion of Twenty (R20) yang baru saja dilakukan di Bali, Indonesia pada 2-3 November 2022.

Perlu diketahui, acara diskusi tersebut digelar oleh The Oxford Union Society yang berdiri pada tahun 1823, salah satu lembaga bergengsi di Universitas Oxford yang sering menghadirkan para pemimpin dan tokoh berpengaruh dunia seperti Albert Einstein, Dalai Lama, Mother Theresa, Stephen Hawking, Michael Jackson, Bill Clinton, David Cameron, Malala Yousafzai, dan tokoh berpengaruh dunia lainnya. (akhida)

Artikel Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here