Kenali Trauma Bonding, Cirinya Sulit Untuk Keluar dari Hubungan Toxic

Ilustrasi - (foto freepik)

SIGIJATENG.ID – Trauma bonding adalah keterikatan yang dirasakan oleh orang yang dilecehkan terhadap pelaku pelecehan. Ikatan tersebut tercipta karena adanya siklus pelecehan dan tindakan positif.

Siklus tersebut adalah setelah melakukan pecelehan atau kekerasan, pelaku akan menyatakan cinta, penyesalan, dan mencoba membuat hubungan seolah terasa aman hingga korban merasa membutuhkan pelaku.

Inilah yang kemudian membuat korban pelecehan merasa kebingungan dan terasa terbebani saat ingin meninggalkan pelaku.

Trauma bonding bukan hanya bisa terjadi pada pasangan tetapi juga pada hubungan lainnya, seperti seorang anak dan orang tua atau pengasuhnya, pelaku dan korban penculikan, serta pemimpin dan bawahan.

Kenali ciri-ciri dari trauma bonding di bawah ini, walaupun terlihat berbeda tergantung pada jenis hubungan korban dan pelaku, namun mereka cenderung memiliki dua karakteristik utama:

  1. Terjadinya Siklus

Akan lebih mudah meninggalkan situasi atau hubungan yang sepenuhnya buruk. Situasi di mana orang yang melakukan tindakan kasar atau pelecehan tidak pernah memberikan kebaikan atau perhatian.

Namun dalam hubungan yang kasar dan toxic, pasangan terkadang memperlakukan Anda dengan baik. Mereka bisa saja membawakan Anda hadiah, menyebut Anda sebagai belahan jiwanya, dan mengajak Anda ke luar untuk bersantai.

Tindakan tersebut akan sangat membingungkan dan meluluhkan. Terutama jika Anda menganggapnya sebagai tanda perubahan yang permanen. Akhirnya, rasa cinta menutupi rasa takut akan pelecehan selanjutnya.

  1. Ketidakseimbangan kekuatan

Ikatan trauma biasanya didasari pada ketidakseimbangan kekuatan yang mendasarinya. Dalam dinamika ini, Anda mungkin merasa seolah-olah mereka mengendalikan ke titik di mana Anda tidak tahu lagi bagaimana melawan atau membebaskan diri.

Bahkan jika berhasil meninggalkan hubungan, Anda mungkin kesulitan memutuskan ikatan itu tanpa bantuan profesional. Anda mungkin merasa tidak lengkap atau tersesat tanpa mereka dan akhirnya kembali, hanya karena siklus pelecehan itu sudah biasa dirasakan dan belum tahu bagaimana hidup tanpanya.

Dampak terbesar dan terburuk dari ikatan trauma adalah bahwa perasaan positif untuk pelaku dapat membuat seseorang tetap berada dalam situasi yang kasar. Itu dapat menyebabkan pelecehan yang berkelanjutan bahkan kematian.

Setelah dipisahkan dari pelaku, seseorang yang memiliki trauma pada dirinya dapat mengalami banyak hal buruk, mulai dari trauma lanjutan hingga kepercayaan diri yang rendah.

Dilansir dari verywellfamily, sebuah studi mencatat bahwa dampak pada kepercayaan diri berlanjut bahkan enam bulan setelah perpisahan dari pelaku. Selain itu, efek samping dari ikatan trauma dapat mencakup depresi dan kecemasan. Mengalami ikatan trauma juga dapat meningkatkan kemungkinan siklus pelecehan antar generasi.

Untuk mengatasi trauma bonding, anda perlu untuk dibantu oleh seorang terapis professional, berbicaralah jujur pada diri anda sendiri mengenai yang terbaik untuk diri anda, berkomunikasilah dengan orang lain yang mengalami kejadian serupa dan yang terakhir cobalah untuk menuliskan hal-hal yang terjadi setiap hari, ini memudahkan anda untuk mengidetifikasi pola dnegan lebih jelas, apakah pasangan mengatakan sesuatu agar anda memaafkannya setelah berbuat pelecehan? Catat dalam sebuah jurnal. (akhida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here