Kenali Gejala dan Serba Serbi PMK, KKN UIN Walisongo Gelar Kajian Kurban

Suasana dialog virtual KKN Mandiri Misi Khusus UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Jawa Tengah menggelar kajian virtual bertema "Mengenal Gejala PMK dan cara mengatasinya” di Desa Mlandi Kabupaten Wonosobo. (KKN UIN WS)

SEMARANG (Sigi Jateng) – KKN Mandiri Misi Khusus UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Jawa Tengah menggelar kajian virtual bertema “Mengenal Gejala PMK dan cara mengatasinya” di Desa Mlandi Kabupaten Wonosobo.

Kajian tersebut berkaitan dengan jelang hari raya Idul Adha 1443 H untuk mengenal gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang dijadikan hewan kurban. Kajian yang digelar Senin sore 4 Juli 2022 ini berfokus pada pengenalan gejala dan cara mengatasi PMK.

Arif Fajar Hidayat selaku manajer sentra DD Farms Jawa Tengah menjelaskan PMK ini wabah yang melanda hewan ternak, termasuk sapi, kambing dan sejenisnya.

“Yang perlu digaris bawahi bahwasanya wabah virus PMK ini tidak menular pada manusia,” tegas Arif.

PMK yang sejatinya telah muncul beberapa bulan lalu mulai menyeruak kepermukaan tatkala menyambut Idul Adha 1443 H. Berbagai sosialisasi pencegahan dan penanganan dilakukan agar kurban kali ini tetap berkah dan aman di tengah wabah.

Pengaturan penanganan dan pencegahan hingga penyembelihan hewan kurban telah diberi fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa hewan ternak yang hanya bergejala ringan dan tidak pincang serta tidak kurus masih sah untuk dijadikan hewan kurban.

Berdasarkan Fatwa No. 32 Tahun 2022 itu pula, jika hewan kurban mengalami gejala berat seperti adanya air liur berlebihan, luka pada kepala, tulang kaki bagian bawah dan jeroan tidak boleh atau tidak sah menjadi hewan kurban.

“Bahwasannya hewan ternak bergejala ringan seperti tidak pincang, tidak kurus masih sah untuk dijadikan hewan kurban,” tandas Arif.

“Dan ciri-ciri PMK dengan gejala berat adanya air liur berlebihan, luka pada kepala, tulang kaki bagian bawah dan jeroan. Dan disimpulkan jika pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, hewan-hewan ternak yang masih mengalami gejala berat atau belum sembuh total, disarankan untuk disembelih sampai hewan itu sembuh. Walaupun melewati hari-hari dianjurkan berkurban (tasyrik), tetap dianggap sah untuk disembelih sebagai sedekah untuk bersama,” jelas Arif.

Pada acara yang dimoderatori oleh Diana Fauziah selaku Ketua SEMA Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, Arif juga menjelaskan serba serbi PMK). Salah satu yang ditekankan adalah Surat Edaran Menteri Pertanian tentang tata cara penyembelihan hewan kurban.

“Terkait penyembelihan kurban, kita mengacu pada Surat edaran Menteri pertanian ; No.3/SE/PK300, tentang pelaksanaan kurban dan pemotongan hewan kurban. Yang dimana menekankan bahwa penyembelihan hewan kurban harus sesuai dengan surat edaran yang ditetapkan, sangat disarankan penyembelihan di Rumah penyembelihan Hewan (RPH) atau di sentra-sentra peternakan karena sudah tersedia peralatan peralatan yang higienis,” imbuh Arif.

Serta yang perlu diperhatikan, lanjut Arif, bagi yang menyembelih selain di RPH atau pun sentra-sentra pemotongan, harus memenuhi beberapa syarat yakni, adanya tempat pemotongan, tempat pembakaran, dan yang terpenting tempat perebusan dikarenakan jeroan dari hewan ternak sebelum dibagikan sangat dianjurkan untuk direbus tiga puluh menit terlebih dahulu agar tetap aman untuk dibagikan.

Dan untuk pembagian daging kurban harus menggunakan wadah yang tidak menetes, karena salah satu penularan wabah PMK melalui cairan, sehingga harus diperhatikan ketika pembagian daging kurban.

Menurut Solikha Amalia, selaku divisi Kesehatan KKN MMK Desa Mlandi UIN Walisongo Semarang, mengungkapkan kajian kurban kali ini cukup penting.

“Terlebih dalam mengenal wabah PMK ini, sangat bermanfaat lagi dibutuhkan oleh kita semua, agar kurban kita pada tahun ini lebih berkah dan terlepas dari wabah PMK,” ujarnya.

Kajian ini akhir sekaligus penutup untuk mengenal serba serbi Idul Adha 1443 H, dan diharapkan edukasi mengenal melalui platform live instagram bisa membuat masyarakat jadi lebih paham dan berhati-hati dalam memilih hewan yang aman untuk dikurbankan, agar kurban tahun ini tetap bisa dilaksanakan dengan lancar lagi aman. (Yandi Pratama-kknuinws/mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here