Inspiratif, Karyawan Komunitas BBB Lakukan Cara Unik Dalam Kegiatan Amal

Rizukina Ilhami dan temannya (menaiki motor) membagikan makanan kepada orang tua di jalanan. Makanan tersebut ia beli dari pedagang asongan yang kurang mampu. (Foto. Dok. Komunitas BBB)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Dua buah motor melaju di bawah sinar matahari yang siang itu cukup terik. Di Jalan Supriyadi, Semarang, sepeda motor berisikan empat perempuan yang saling berboncengan itu melaju lambat. Sesekali, mereka memperhatikan sekeliling. Mencari jikalau ada pedagang-pedagang asongan maupun pedagang kecil lain yang sedang berjualan.

Empat orang itu tergabung dalam komunitas Bukan Berkah Biasa (BBB). Setiap bulan, komunitas beranggotakan 16 orang itu mengadakan charity events. Berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Kegiatan tiap bulannya pun bervariasi. Membagi makanan, santunan ke panti asuhan dan anak jalanan, donasi bencana, dan banyak lagi.

“Hari ini event kita temanya Beri untuk Berbagi. Jadi kita membeli dagangan pedagang asongan, bapak-bapak jualan di pinggir jalan. Nanti apapun yang kita temui di jalan, yang sekiranya membutuhkan,” terang Rizukina Ilhami, satu di antara anggota BBB yang ikut terjun ke lapangan, Sabtu (15/1/2022).

Kina, sapaan akrabnya beserta rekan-rekan membeli dagangan penjual buah di pinggir jalan dan penjaja makanan ringan keliling. Bahkan penjual ayam goreng.

“Tadi kita keliling dan alhamdulillah dapat beberapa makanan. Ini kita kemas dulu, kita gabung, biar pas ngasih udah rapi,” imbuhnya.

Makanan-makanan itu lantas dibagi menjadi 30 bingkisan. Untuk kemudian dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

“Kalau untuk bagiin kita di daerah banjir kanal dan daerah sekitar situ. Biasanya banyak bapak-bapak becak ada di situ,” ujarnya.

Menjelang sore, beberapa anggota BBB lain menyusul. BBB sendiri merupakan komunitas yang dibentuk satu setengah tahun silam. Anggota berisikan para karyawan yang bekerja di beberapa perusahaan berbeda.

“Kita itu para karyawan yang waktunya habis untuk bekerja. Makanya kita bikin komunitas ini sebagai wadah untuk berbagi. Biar hidup kita isinya nggak duniawi aja. Selain membantu sesama, komunitas ini juga bisa meningkatkan empati kita sebagai manusia,” lanjutnya.

Selepas maghrib, agenda dilanjutkan dengan membeli alas kaki atau keset. Yang kemudian akan dibagikan ke mushola maupun masjid-masjid.

“Kita kebetulan sering lihat ada bapak-bapak sama ibu-ibu jualan keset di terowongan tol Banyumanik. Terus kita omongin sam ana-anak mereka setju. Ya sudah kita beli. Ini kita bagikan ke mushola-mushola yang kita lewati atau yang dekat rumah. Semoga bisa membantu,” tandasnya. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here