Duh! Proyek Kandang Sapi Pemkot Semarang Senilai Rp 3,6 M Batal, Ini Sebabnya

Acara rapat sosialisasi "Pembangunan Instalasi Biogas Limbah Ternak Sapi" yang dihadiri angota DPRD Jateng Yudi Indras di Kelurahan Pongangan Gunungpati, Selasa (29/11). ( foto fraksi gerindra dprd jateng)

SEMARANG (sigijateng.id) – Proyek pembangunan kandang sapi milik Pemkot Semarang senilai Rp 3,6 Miliar di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang terpaksa berhenti sementara. Penyebabnya, yakni diduga tak adanya IMB dan Amdal ditambah penolakan warga.

Hal itu terungkat dalam rapat sosialisasi “Pembangunan Instalasi Biogas Limbah Ternak Sapi” di Kelurahan Pongangan Gunungpati, Selasa (29/11). Disebutkan, bahwa perizinan pembangunan dari APBD Pemkot Semarang 2022 itu diduga belum lengkap.

Pada mulanya, Camat Gunungpati Sabar Trimulyono yang membuka acara menyampaikan perihal proyek tersebut. Ia menyinggung jika ada warga Nongkosawit yang menentang meski belum tahu secara detil peruntukan bangunan itu nanti.

Perlu diketahui, lokasi Kandang sapi ini sejatinya berdiri di lahan bengkok seluas kurang lebih 1 hektare milik Kelurahan Pongangan Kecamatan Gunungpati. Namun, letak lahan tersebut jauh dari warga Pongangan dan justru berdampingan dengan permukiman di Randusari.

Anggota DPRD Jateng Yudi Indras dari dapil Kota Semarang menilai pemaparan Camat kurang tepat. Menurutnya, ada persoalan sosialisasi yang tak tepat dari pemerintah. Yudi banyak menerima keluhan soal rencana kandang sapi yang dekat permukiman warga tersebut.

“Tidak perlu membahas soal biogas lebih dahulu pak. Yang jadi persoalan saat ini adalah proyek itu tidak tepat,” ujar Yudi Indras.

Selain keduanya, juga hadir lurah Pongangan dan Nongkosawit, perwakilan dari Distaru selaku dinas pengguna anggaran dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang.

Yudi menyampaikan, persoalan kedua adalah proyek itu sudah dijalankan selama kurang lebih tiga pekan meski belum ada Amdal dan IMB. Hal itu diketahui ketika diadakan rapat kali pertama usai warga protes.

“Belum ada UKL/UPL, disampaikan baru proses. Padahal itu sebagai syarat untuk mendapatkan IMB. Hendaknya pemerintah mendidik warganya dengan baik. Belum ada IMB kok mau mendirikan bangunan,” tandasnya.

Saat ditanyakan pada perwakilan DLH yang hadir, juga dibenarkan jika UKL/UPL masih proses. Untuk itu, Yudi Indras meminta proyek tersebut disetop. Selain perizinan yang belum ada, juga menuai penolakan dari warga Dusun Randusari Kelurahan Nongkosawit.

Sayangnya, usai kegiatan, perwakilan dari Distaru selaku penanggungjawab mengatakan akan melaporkan ke pimpinan. “Nanti kami sampaikan dulu hasil dari kegiatan ini pada pimpinan. Pimpinan yang memutuskan,” katanya.

Usai ramai pembahasan regulasi pembangunan kandang sapi itu, sosialisasi “Pembangunan Instalasi Biogas Limbah Ternak Sapi” tak dilanjutkan.

Sebelumnya,  warga Dusun Randusari Kelurahan Nongkosawit menolak pembangunan kandang sapi yang direncanakan oleh Pemkot Kota Semarang. Penolakan dilakukan dengan menyetop aktivitas pekerja proyek dan membentangkan spanduk penolakan.

Ada tiga alasan penolakan. Pertama, tak ada sosialisasi. Kedua, kandang sapi yang berdekatan dengan permukiman dinilai tidak tepat. Ketiga adalah warga mempertanyakan izin dan AMDAL untuk pembangunan kandang sapi tersebut. (asz)

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here