Buka Workshop Kepenulisan, Rektor UIN Walisongo Ungkap Keberadaan Jurnalis Seperti Lagu Nasidaria ‘Wartawan Ratu Dunia’

SEMARANG (sigijateng.id) – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Prof KH Imam Taufiq mengatakan pemegang kendali dunia paling hebat sekarang adalah wartawan. Mereka bisa menyebarkan luaskan gagasan sesuai dengan tulisan yang dikehendakinya.

“Pernah dengar lirik lagi Nasidaria berjudul Wartawan Ratu Dunia? Memang seperti itu kenyataannya,” kata KH Imam Taufiq.

Kiai Imam Taufiq mengatakan hal itu saat membuka kegiatan Workshop Kepenulisan ‘Upgrading Kapasitas Jurnalistik Efektif Bagi Santri’ yang diselenggarakan secara luring di Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Komplek Perumahan Bank Niaga Ngalian Semarang, Sabtu (1/10/2022).

Kegiatan Workshop Kepenulisan Jurnalistik ini diikuti sebanyak 60 santri yang merupakan para pengelola media besongo online (be-songo.or.id) dengan menghadirkan nara sumber Pimpinan Redaksi Media Online Sigijateng.id Aris Syaefudin Zuhri.

Peserta workshop sangat antusias mendengarkan paparan nara sumber sampai selesai. Bahkan dalam sesi tanya jawab juga banyak yang mengajukan pertanyaan.

KH Imam Taufiq yang juga Pengasuh Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang ini mengaku senang dan bersyukur, karena di tengah padatnya aktivitas, para santri meluangkan waktu untuk tholabul ilmi dengan materi yang tidak banyak dilakukan di pesantren, yaitu Workshop Kepenulisan Jurnaliatik.

“Alhamdulillah. Pagi ini kita masih bisa mengupgrade lagi satu kapasitas, satu kemampuan yang memang ini unik dan harus dimiliki para santri, yaitu jurnalistik,” ucap Kiai Imam Taufik.

Disampaikan Kiai Imam Taufik, pihaknya mengapresiasi dan mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Besongo Online ini.

“Saya melihat bahwa, salah satu kapasitas ilmu yang akan banyak berguna untuk mendesiminasi gagasan kita, gagasan pesantren, ilmu kita bahkan punya kepentingan apapun yang kita miliki hanya bisa dilakukan melalui mampu menulis dengan baik,” ujar Kiai Imam Taufiq yang juga pendiri Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang ini.

Dikatakan dia, Nabi Muhammad itu Rasul. Muhammad itu wartawan.
“Rasul itu apa? Rasul itu penyemai, penyebarluaskan gagasan dari Sang Khaliq. Dari Allah SWT berikan kepada umat-Nya lewat utusan yaitu Rasul. Wartawan juga menyebarluaskan gagasan, informasi” jelas Imam.

“Bagaimana cara menyampaikan risalah yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat-Nya hanya bisa dilakukan dengan kemampuan jurnalistik yang baik,” ungkapnya.

“Karena apa? Message yang diberi oleh Allah, diberikan kepada umat-Nya dikemas dengan bahasa oleh para Rasul. Itu adalah fungsi-fungsi jurnalistik. Karena itu saya melihat, kalo ini tidak kita pahami sebagai sebuah kompetensi, sebagai ilmu yang sangat berguna, maka akan sia-sia,” lanjutnya.

Menurutnya, dunia sekarang yang memegang kendali paling hebat yaitu wartawan. Profesi ini, bisa menyebarkan luaskan gagasan sesuai dengan tulisan yang dikehendakinya. Jurnalis itu profesi mulia.

“Maka bisa saya lihat, bagaimana karakter utama agar kita bisa mendapatkan tulisan dan bisa dibaca, diterima oleh publik dengan baik, yaitu hanya dengan belajar menulis dengan baik,” jelasnya.

Lanjutnya, tulisan yang mudah dibaca dan mudah dipahami itu tidak bisa sembarang orang bisa melakukannya. Ini hanya bisa ditulis oleh orang yang memiliki kemampuan jurnalistik yang baik.

“Saya berharap, para santri bisa serius mengikuti kegiatan ini dan benar-benar bisa memahami yang akan disampaikan,” pungkasnya.

Pimpinan Redaksi Media Online Sigijateng.id Aris Syaefudin (foto ponpes besongo)

Sementara, Pimpinan Redaksi Media Online Sigijateng.id Aris Syaefudin menyampaikan, agar bisa menulis jurnalistik yang baik dan enak dibaca adalah harus mau latihan dan belajar.

“Anda harus mau menulis. Dipaksa menulis. Agar gagasan santri Besongo banyak dibaca orang, pengelolanya harus memperbanyak tulisan,” kata Aris Syaefudin.

Pada kesempatan tersebut, Aris Syaefudin menyampaikan materi tentang teknik wawancara dan teknik menulis berita untuk media online.

Dikatakan Aris Syaefudin, wawancara adalah salah satu langkah untuk mendapatkan data-data suatu kejadian, kemudian dibentuk menjadi informasi baik secara lisan ataupun rekaman.

“Kegiatan wawancara sebenarnya menjadi efektif dan efisien apabila kita mengetahui teknik dan rencana wawancara yang benar, yaitu pertama mencari topik yang akan diliput. Mengandung unsur-unsur menarik, penting, memiliki makna yang berpengaruh dan menguasai tema,” ujar Aris Syaefudin ini.

Kemudian, kedua melakukan riset dan pendalaman materi. Ini bisa dilakukan dengan search google, membaca buku atau bertanya ke ahlinya.

Lalu, ketiga tentukan narasumber. Dalam memilih narasumber tidak boleh sembarangan, harus kepada orang yang menguasai di pembahasan tersebut. Dan Narasumber harus kredible, tahu persoalan. Dan kalo bisa lebih dari satu.

Lanjutnya, keempat menentukan angle yang menarik. Angle ini akan membedakan antara wartawan satu dengan wartawan lain. Dan kelima, menyusun daftar pertanyaan. Dalam menyusun pertanyaan, harus mengandung unsur 5W+I H.

Dikatakan, setelah persiapan wawancara, selanjutnya yakni pelaksanaan wawancara.

“Saat wasancara kita harus mencatat. Kalo tidak, bisa pakai rekaman. Jangan pernah merasa karena masih muda memiliki daya ingat tinggi sehingga malas untuk mencatat atau merekam. Karena kekuatan daya ingat manusia itu terbatas,” jelasnya.

Menurutnya, karena dengan wawancara yang tercatat itu nanti wartawan bisa membuat kalimat langsung.

“Kita juga harus menjadi pendengar yang baik. Artinya, ketika jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan, kita jangan langsung memotong. Tunggu beberapa saat, setelah itu, kembali ke pertanyaan awal. Ini penting. Karena, ketika pertanyaan ada yang belum jelas, harus berani untuk bertanya lagi,” tambahnya lagi.

Disampaikan, membuat berita tidah harus melakukan wawancara. Misal saat bikin berita kegiatan seminar, jika materi yang disampaikan narasumber sudah cukup.
Tetapi ketika ingin membuat berita seperti yang sudah direncanakan, maka harus wawancara kepada nara sumber yang sudah diincarnya.

“Juga kita harus menghormati hak-hak narasumber. Ketika narasumber menceritakan banyak hal, dan narasumber minta of the record, maka juga jangan diberitakan,” terangnya.

Menurut Aris Saefudin, setelah wawancara, anda harus segera mentranskip hasil wawancara. Jangan ditunda- tunda, nanti akan muncul kemalasan. Dan imbasnya agak lupa situasi ketika wawancara.

“Ketika mentranskip, diusahakan harus semua. Tapi, kalo waktunya terbatas, jangan semua. Tapi anda pilih sesuai angel yang anda angkat,” terangnya.

Saat menulis berita, kata dia, harus bisa membuat judul berita yang menarik. Judul sebaiknya ditulis awal, namun juga boleh diubah ketika tulisan berita sudah jadi.

“Salah satu kendala utama wartawan pemula saat menulis berita adalah ketika menulis lead atau alenia pertam berita. Caranya, perbanyak membaca berita orang lain dan latihan,” pungkasnya. (**)

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here