BP2MI Ingatkan Mahasiswa UIN Walisongo Agar Melek dengan Femomena Pekerja Migran

UIN Walisongo dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) saat penandatangan MoU, jumat (2/11/2022). ( foto humas uin)

SEMARANG (sigijateng.id) – UIN Walisongo dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjalin kerjasama. Penandatanganan MOU antara UIN Walisongo dengan BP2MI dilaksanakan Ruang Theatre Gedung K.H. Sholeh Darat UIN Walisongo pada Jumat (02/12/2022) oleh oleh Kepala BP2MI Benny Ramdani dan Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag.

Usai penadatangan MoU dilanjutkan dengan Stadium General dengan Tema “Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.” 

Stadium general tersebut diikuti oleh 200 mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UIN Walisongo Semarang.

Dekan FPK Prof. Dr. H. Syamsul Maarif, M. Ag mengatakan bahwa tema dipilih karena ingin menyoroti masalah yang terjadi oleh pekerja migran serta tanggapi kebijakan mendikbud Nadiem Makarim soal kampus merdeka agar mahasiwa dapat belajar dari problem realita pekerja migran.

“Studium generale yang menyoroti masalah pekerja migran membuka mata bagi mahasiwa bahwa banyak problematika yang hadir di sekeliling pekerja migran, sehingga para mahasiswa diharapkan menjadi agen yang solutif terkait dengan peningkatan sumber dayanya sebagai calon pekerja migran di masa depan,” terangnya.

Senada dengan Dekan FPK, Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag. menyampaikan ada kesesuaian antara mengelola dan mengawal pahlawan defisa dengan UIN Walisongo.

“Kami berkomitmen menjadikan kampus dengan seluruh mahasiswa serta alumni memiliki kontribusi untuk kemanusiaan dan Peradaban,” ungkapnya. 

Prof Imam menambahkan, Fakultas Psikologi dan Kesehatan memiliki lembaga yang mengawal berbagai macam tes kompetensi psikologis yang diamanatkan padanya sehingga sangat siap.  Ada pula Lembaga Penyuluhan Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (LPK BHI), satu satunya lembaga bantuan hukum dibawah Kementerian Agama terakreditasi A dari Mahkamah Agung. Program ini bisa diintegrasikan dengan BP2MI.

Kami juga mengapresiasi BP2MI yang berhasil mengawal Pekerja Migran Indonesia dengan memotong banyak model birokrasi yang berbelit dengan pelayanan online ke digital. UIN Walisongo juga bs berperan untuk input kebijakan ada LP2M yang membantu riset kebijakan BP2MI, pusat kajian pekerja migran Indonesia,” imbuhnya.   

Benny Rhamdany memaparkan dalam Stadium General bahwa mahasiswa FPK UIN Walisongo harus melek dengan femomena pekerja migran yang memiliki masalah ketika di luar negeri.

“Peningkatan kompetensi mahasiswa FPK UIN Walisongo diharapkan mampu menjadi agent of solutions dalam menangani kasus kekerasan yang berdampak pada psikologis pekerja,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kolaborasi dengan UIN Walisongo agar nanti pekerja imigran yang akan berangkat melakukan tes psikologi di UIN Walisongo.  Beberapa upaya melindungi Pekerja Migran Indonesia adalah dengan memberantas sindikat imigran. Selain itu memberantas rentenir  dengan memberikan Kredit tanpa Agunan dan Kredit Usaha Rakyat  serta Rumah bersubsidi untuk PMI.

“Pekerja Migran Indonesia merupakan pahlawan defisa, menyumbangkan pendapatan negara terbesar kedua setelah migas. Maka kami harus mengapresiasi dan melindungi. Bentuk perlindungan ini salah satunya dengan Undang Undang no 18/2017 yang memberikan jaminan perlindungan sosial, perlindungan hukum dan perlindungan ekonomi pada sebelum, selama dan sesudah bekerja,” bebernya.

Mardathillah Pramesty mahasiswa FPK UIN Walisongo mengungkapkan apresiasi tertinggi kepada penyelenggara studium generale secara khusus yang mengangkat topik yang menarik ini.

“Ini bagus sekali. Saya jadi mengaku melek dan prihatin dengan realita yang menimpa para pekerja migran di luar negeri,” ungkapnya. (aris)

Berita terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here