Benarkah Suami Ikut Menanggung Dosa Istri yang Tak Mau Dinasehati? Simak Penjelasan Buya Yahya!

Buya Yahya! (Foto : Thumbnail YouTube Buya Yahya)

SIGIJATENG.ID – Ketika sudah berumah tangga pasti ada saja masalah yang dihadapi bersama. Saat itu, suami dan istri harus saling memberi masukan dan menyelesaikannya bersama.

Saat suami memberikan nasehat untuk istri, terkadang istri tidak mau mendengarkannya. Seperti yang dialami oleh salah satu jamaah ini.

Salah satu jamaah yang bertanya kepada Buya Yahya terkait apakah suami ikut menanggung dosa, jika istri tidak mau dinasehati?

Lantas bagaimana penjelasan Buya Yahya? Simak berikut ini.

Melalui salah satu kajian yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV, seorang jamaah bertanya kepada Buya Yahya perihal rumah tangganya.

“Mau bertanya Buya tentang rumah tangga. Apabila seorang istri yang sudah dinasehati untuk ibadah tapi, nanti-nanti dalam hal ibadah juga tidak bisa dipaksa. Apakah dosa itu juga suami yang menanggung?” tanya jamaah tersebut, dikutip SIGI JATENG, Jumat (18/11/22).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Buya Yahya menjelaskan secara gamblang perihal ini. Buya mengatakan, harus melihat dulu ajakan kebaikannya seperti apa.

“Jika seorang suami ingin mengajak istrinya kepada kebaikan tapi, Istri selalu menunda-nunda, tinggal bentuk kebaikannya itu apa. Jika kebaikannya adalah sesuatu yang wajib seperti sholat 5 waktu, maka wajib seorang suami mengajaknya, mengingatkan sholat misalnya. Puasa di bulan Ramadhan dia gak mau, gak hamil, gak menyusui, gak apa gak mau, padahal wajib,” kata Buya Yahya mengawali.

Lantas, kalau terpaksa istri tetap gak mau bagaimana?

“Ya anda yang tanggung jawab di bawah naungan anda, anda harus bisa mengajak dengan cara yang lembut-lembut sampai ketegasan,” ucapnya.

Terkait hal tersebut, Buya Yahya menjelaskan cara untuk menasehati istri yang sulit diberitahu.

“Dengan cara lembut, lembut dulu jangan langsung tegas ya,” katanya.

Sementara menurut Buya Yahya jika istri tetap tidak mau dinasehati, ada cara lain yang bisa dilakukan oleh suami.

“Kalau terus gak mau, gak ada perlunya kalau orang berani kepada Allah untuk bisa berdampingan dengan seseorang dengan anda misalnya. Lalu siapapun. Dia kurang ajar kepada Allah, kalau ada orang yang tidak takut kepada Allah, dia tidak akan takut kepada siapapun,” ungkapnya.

Menurut Buya Yahya, orang yang demikian itu hanya memiliki kepentingan saja saat duduk bersama kita, dia melakukan hal yang haram lainnya, karena dia gak takut kepada Allah.

“Jangankan kok itu adalah istri, dibalik, suaminya diingatkan gak mau diingatkan, jangan terus bersamanya karena apa, nanti mungkin akan melahirkan anak-anak yang dididik semacam itu,” lanjutnya.

Buya Yahya pun meminta kepada kita, jika memiliki pasangan seperti itu untuk dibiarkan.

“Kalau udah dididik dengan cara bener tapi gak baik dan terus kita gak mampu dan sebagainya. Maka ya sudah dia biarkan mengambil jalannya karena sudah membahayakan. Kalau ada orang sudah tidak punya rasa takut kepada Allah, maka ini membahayakan dalam hidup kita, rumah kita,” Buya Yahya mengingatkan.

Sholat yang merupakan kewajiban bagi umat muslim, menjadi berbahaya bagi rumah kita jika ditinggalkan.

“Kalau ada shalat yang ditinggalkan dalam rumah kita, tentu rumah kita tercabut rahmatnya menjadi musibah yang banyak. Sehingga para sahabat paling takut kepada orang yang tidak sholat. Duduk-duduk saja ketakutan, jangan-jangan ditimpakan musibah kepadanya,” lanjutnya.

Lebih lanjut, pendakwah dengan nama lengkap Yahya Zainul Ma’arif, Lc., M.A., Ph.D ini juga menjelaskan jika hal-hal yang dinasehati tersebut berkaitan dengan hal-hal sunnah.

“Kalau itu hal-hal yang sunnah, mengajaknya dengan kelembutan. Jangan memaksanya untuk melakukan sunnah, himbau saja, fasilitasi,” katanya.

Baginya hal yang sunnah adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan kepada istri.

“Selagi urusan sunnah tidak bisa memaksa sampai kapanpun, sekuat apapun dan cinta anda kepada istri untuk kebaikan anda tidak bisa memaksa. Tapi, harus dipahami oleh istri, seorang istri yang menjalani seperti itu akan rugi,” tandas Buya.

(dimas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here