Bahaya Penyakit Hati, Penambah Dosa yang Wajib Dihindari

Ilustrasi: bahaya penyakit hati. ( foto pixabay)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Selama hidup kita, tentu pernah merasakan yang namanya sakit. Sakit terjadi di dalam tubuh ketika fungsi organ tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut diakibatkan oleh banyak faktor, seperti gaya hidup, lingkungan, keturunan, dan sebagainya. Selama ini kita hanya mengenal penyakit jasmani saja. Namun, ada juga penyakit yang tidak disebabkan oleh rusaknya sistem manusia tetapi karena rusaknya ruhani manusia. Inilah yang dinamakan penyakit mental atau hati. 

Di dalam ajaran Islam, penyakit hati adalah gangguan yang mempengaruhi perasaan, pikiran serta kebiasaan hidup seorang insan sehingga mendorong ia bertindak jauh dan bertolak belakang dari fitrahnya. Penyakit hati ini jika dibiarkan secara terus menerus maka dampaknya juga akan sama bahayanya dengan penyakit fisik bahkan dapat lebih berbahaya lagi. Karena jika Allah SWT memberi ujian berupa penyakit fisik, mungkin Allah SWT ingin kita bersabar dan dapat menghapus dosa-dosa kita. Tetapi, jika penyakit mental yang didapat, justru dapat menambah dosa-dosa kita. Allah SWT berfirman :

    وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya : Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (Qs. At Taubah: 125).

Berdasarkan ayat di atas menggambarkan bahwa penyakit sangatlah merugikan bagi seorang muslim. Andaikata mereka mati dengan membawa penyakit hati, maka digolongkan dengan kaum kafir. Adanya penyakit mental yang merusak jiwa manusia juga mengakibatkan dampak kepada orang lain. Karena, sesakit-sakitnya penyakit fisik hanya diri sendiri yang merasakan sakitnya. Namun, jika terkena penyakit mental semua orang disekitar akan merasakan sakit dari apa yang ditimbulkan dari penyakit hati. 

Maka dari itu, sudah sepantasnya seorang muslim dapat menjaga dirinya dan waspada terhadap penyakit hati agar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT tetap terjaga. Adapaun beberapa penyakit hati yang perlu dihindari antara lain adalah : sombong (takabur), riya’ (suka pamer), hasad (iri dengki), taqtir (pelit), dan namimah (suka mengadu domba). 

Di masa saat ini, penyakit hati mudah ditemui dimana saja. Kita bisa lihat contoh nyatanya di media sosial, dimana akses interkasi antar manusia menjadi tidak terbatas. Semisal ada orang memposting gaya hidupnya yang bermewah-mewahan ataupun memposting kebaikannya di medsos dengan tujuan pamer harta dan kebaikan, ini termasuk perbuatan riya’. Lalu ada orang rang yang melihat postingan tersebut dan merasa tidak suka sehingga menimbulkan sifat hasad atau dengki. Bahkan diantara mereka bisa saling menyalahkan satu sama lain dan munculah sifat adu domba diantara mereka. Begitu berbahayanya penyakit hati sampai dapat semuanya terkena oleh hal ini.

Lalu, hal apa yang dapat dilakukan seorang muslim untuk menjaga dirinya dalam menjaga diri untuk terhindar dari penyakit hati? Salah satu caranya yaitu dengan banyak berdzikir mengingat Allah SWT. Firman Allah swt dalam surat Ar-Ra’du ayat 28 : 

  ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kekuatan dzikir dengan membaca tasbih,tahmid,takbir,dan tahlil membuat hati selalu terikat dengan Sang Maha Pencipta. Ketika berdzikir membuat perasaan jiwa dan hati menjadi tenang sehingga kita dapat mengontrol diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Selain berdizikir, kita juga perlu introspeksi diri kita. Janganlah menjadi orang yang pandai mencari kesalahan orang lain namun kesalahan dirinya sendiri justru tidak diketahui. Penyakit hati juga kebanyakan diketahui oleh orang lain yang merasa tersakiti oleh kita, namun kita sendiri bersikap abai akan tersebut dan merasa tidak tahu. Maka dengan inilah introspeksi diri ini perlu dilakukan setiap hari. (Mushonifin) 

Berita terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here