Antisipasi Peningkatan Kasus Covid-19, Dinkes Kota Semarang Tetap Lakukan Random Sampling Meski Libur Lebaran Usai

Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam saat memberi keterangan, Rabu (18/5/2022). (Foto. Mushonifin/sigijateng.id)

Semarang (Sigijateng.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang terus melakukan random sampling untuk mengantisipasi kenaikan kasus saat libur lebaran. Tujuannya agar tidak ada penularan kasus sehingga perekonomian, sosial budaya dan lainnya bisa berjalan.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam menjelaskan pelaksanaan random sampling ini untuk mencegah penularan lebih jauh. Apalagi sempat diprediksi akan ada kenaikan kasus pasca lebaran yakni pada akhir Mei sampai pertengahan Juni.

“Random sampling jadi fokus kami, pasca libur lebaran ini. Selain itu mengaktifkan satgas covid-19 untuk memantau apakah penerapan prokes masih berjalan baik atau tidak, dan mengecek serta memacu pelaksanaan vaksinasi booster,” jelasnya, Rabu (18/5/2022).

Sebelumnya, pasca libur lebaran 2022 ini, pihaknya memprediksi, angka Covid-19 berada pada rentang 400-500 kasus. Menurutnya, hal ini bisa terjadi jika protokol kesehatan tidak diterapkan dan vaksinasi tidak kembali digenjot.

Sehingga akan terjadi lonjakan kasus serta temuan klaster baru. Jika bisa ditekan, tentunya seluruh sektor mulai pendidikan, dunia usaha, hingga pariwisata dapat segera gaspol. Prediksi yang kami buat kemarin ada catatannya,” beber Hakam.

Seandainya memang ada kenaikan kasus, lanjut Hakam, pihaknya menekankan jangan sampai banyak pasien yang harus dirawat di rumah sakit, bahkan sampai meregang nyawa. Sebab, keefektifan vaksinasi terbukti bisa menekan jumlah kasus.

“Selain penerapan prokes, harus mengikuti vaksinasi hingga tahapan booster, maka peluang terjadinya lonjakan kasus akan sangat minim,” terang dia.

Untuk Kota Semarang, kata dia, sebenarnya sudah memenuhi syarat terbentuknya herd immunity. Jika dilihat capaian vaksinasi, dari data yang ada vaksinasi pertama (V1) dan vaksinasi kedua (V2) masyarakat di Kota Semarang, yang telah tercapai hingga lebih dari 70 persen.

“Kelompok rentan juga telah kita sasar, mayoritas yang tidak tertolong adalah yang belum vaksin atau vaksinasinya belum lengkap dan berkomorbid,” pungkasnya. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here