Akhiri Pengabdian, KKN MMK UIN Walisongo Gelar Pentas Seni Tari untuk Lestarikan Budaya

Suasana perpisahan untuk mengakhiri pengabdian kuliah kerja nyata atau KKN di Dusun Gunung Alang, Desa Buntu, Kejajar, Wonosobo pada Minggu (9/7/2022). (FotoTim KKN UIN)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Anggota KKN MMK Kelompok 36 UIN Walisongo adakan pentas seni tari dalam rangkaian acara perpisahan untuk mengakhiri pengabdian kuliah kerja nyata atau KKN di Dusun Gunung Alang, Desa Buntu, Kejajar, Wonosobo pada Minggu (9/7/2022).

Acara dibuka dengan tari lengger yang berlangsung mulai pukul 14.30 -17.30 WIB yang menampilkan satu penari lengger profesional dan selanjutnya pada sesi kedua dilanjutkan dengan penampilan tari kuda kepang mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB dengan menampilkan dua orang penari profesional.

Uniknya, pentas ini tidak hanya ditarikan oleh penari utama namun juga menampilkan keahlian anak-anak dan pemuda Dusun Gunung Alang.

Rasyka, siswa kelas 6 SDN 2 Buntu ialah salah satu penari cilik yang ikut memeriahkan acara dengan memperlihatkan keahlian tariannya. Menurutnya, dia tidak pernah belajar menari tari lengger secara formal. Dia bisa menari karena sering menonton pentas lengger dan ikut menari mengikuti gerakan yang dilakukan penari dan sebelum dia tahu, menari lengger secara lincah sudah mengalir didalam dirinya.

“Saya mulai menari di panggung seperti ini sudah sejak melas 4 SD, saya sebenarnya tidak pernah belajar menari secara langsung. Hanya saja, saya suka sekali dengan lengger dan ikut menari setiap mendengar bunyi lagu gamelan. Saya merasa senang ketika menari lengger” ungkap Rasyka.

Selain Rasyka, teman sejawat lainnya seperti Rafi, Abi, Malik, Fabian, Irul, dan lainnya ikut juga menari untuk menjutkan bakat mereka masing-masing.

Tuki, anggota kesenian lengger Sri Wiji Rahayu mengatakan bahwa jiwa kesenian warga Dusun Gunung Alang memeang sangatlah tinggi. Hampir setiap pemuda di dusun ini dapat menari tari lengger. Hal ini diakibatkan kegemaran orang dewasa terhadap seni Lengger dan selanjutnya kaum muda yang ikut mendengar dan menonton kesenian ini ikut jatuh cinta pula.

“Mereka bisa menari karena mereka suka, apalagi sedari kecil mendengar dan menonton seni ini. Faktor lainya yang membuat mereka mahir menari yaitu faktor umur mereka yang memang pada masa cemerlang untuk belajar dan berkembang. Mereka ikut menari ketika menonton dan secara tidak sadar mereka jadi mahir dalam menari tari ini,” jelas Tuki.

Seni Lengger sendiri merupakan seni yang diturunkan oleh Sunan Kalijaga dalam misinya untuk menyebarkan dakwah Islam.

Suwarno, sesepuh sekaligus ketua RT 12 Dusun Gunung Alam, Desa Buntu menjelaskan tentang asal-mula kesenian lengger. Sunan Kalijaga awalnya mengenalkan lengger sebagai hiburan, masyarakat diajak untuk menonton selama sehari semalam. Namun jika waktu sholat tiba, sunan kalijaga akan mengajak masyarakat untuk membasuh wajahnya yang sebenarnya bagian dari tata cara wudhu, mulai dari sholat ashar, maghrib hingga subuh. Sehingga masyarakat nantinya akan paham tentang tata-cara berislam dan makin mengenal apa itu Islam dan selanjutnya mereka kan mudah untuk diajak masuk kedalam agama Islam.

“Lenggeran juga dipahami dengan iling iling ngger, jadi ingat tentang semuanya. Ingat tentang Tuhan, ingat tentang Islam, ingat bahwa kita hanya manusia yang harusnya menyembah kepada Tuhan,” tambah Suwarno.

Gelar pentas ini diadakan untuk memeriahkan sekaligus melestarikan budaya seni tari terutama tari lenger yang sudah melekat di masyarakat Dusun gunung Alang.

Pentas ini merupakan satu dari dua rangkaian acara perpisahan yang dibuat oleh anggota KKN MMK Kelompok 36 UIN Walisongo untuk pamit serta menghibur warga Dusun Gunung Alang. Sebelumnya, mereka mengadakan acara perpisahan resmi dengan maulid diba’ bersama seluruh warga Dusun Gunung Alang yang diikuti dengan penyerahan donasi yang ikumpulkan oleh anggota KKN senilai tiga juta rupiah untuk perbaikan bangunan masjid al-Falah. (Rep. Alfi, Isti, Fazlar/mushonifin)

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here