Ada Yang Sebulan Beruntun dan Buntut Kudeta Militer, Inilah Tragedi Sepakbola Terbesar, Indonesia Nomor 2

Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu malam (1/10/2022). ( foto instagram)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Kita sering mendengar kasus kerusuhan suporter sepakbola di Indonesia yang memakan nyawa. Biasanya satu atau dua korban, namun langsung menjadi perhatian seluruh warga Indonesia. Lalu bagaimana jika jumlah nyawa melayang berjumlah ratusan?

Inilah deretan tragedi sepakbola yang merenggut ratusan nyawa suporter dalam sejarah dunia. Indonesia berada di urutan kedua.

  1. Tragedi Estadio Nacional Lima Peru

57 tahun yang lalu, ketika Indonesia mengalami peristiwa kelam G30S/PKI 1965, kerusuhan besar terjadi di Stadion Lima Peru. Kejadian miris itu merenggut nyawa 328 orang, padahal di Peru saat itu tidak ada perang seperti kasus PKI di Indonesia. Kerusuhan pada 24 Mei 1965 itu terjadi saat Peru menjamu Argentina di Estadio Nacional di Lima dalam partai penentuan kualifikasi olimpiade Tokyo 1966.

Saat itu pemain Peru mencetak gol jelang akhir pertandingan namun dianulir wasit. Padahal gol itu bisa jadi penyeimbang bagi Peru yang sebelumnya sudah tertinggal 0-1 dari Argentina. Suporter kecewa menyerbu lapangan. Polisi menembakkan gas air mata ke tribun, tujuannya mencegah pergerakan massa lebih banyak ke lapangan. Sementara di tribun, kumpulan orang panik menghindari dampak kepulan gas air mata.

Mereka berebut keluar dari pintu stadion yang masih terkunci. Orang terdepan di gerbang tak bisa kembali, sementara dorongan penonton dari belakang menguat. Pintu akhirnya jebol, dan penonton yang jatuh di lintasan itu terinjak, tak bisa bangun selamanya.

  1. Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang Indonesia

Berdasarkan rilis terakhir, Minggu (2/10/2022), kurang lebih ada 187 korban meninggal dunia. Angka ini mungkin bisa bertambah mengingat aparat masih melakukan investigasi.

Tragedi terjadi sesaat wasit meniup peluit akhir dan Arema FC dipastikan kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya. Kekalahan dikandang membuat Aremania tidak terima dan ingin meluapkan kekecewaannya kepada pemain arema yang masih berada di bench pemain.

Melihat agresifitas suporter, aparat denhan sigap mengamankan area di mana para official dan pemain Arema berada. Namun karena suporter semakin brutal dan jumlahnya mencapai 3000-an, menurut Kapolda Jatim, maka polisi tak punya pilihan lain untuk melepaskan tembakan gas air mata. Namun ternyata, tembakan gas air mata tersebut membuat suporter lain panik dan ingin segera keluar stadion.

Di saat pintu stadion masih terkunci, suporter mencoba mendobrak pintu tersebut dan yang terjadi adalah, orang terdepan tergencet dan terinjak suporter lain hingga meregang nyawa.

  1. Tragedi Stadion Accra Ghana dan di Beberapa Negara Afrika Dalam Sebulan

Afrika memang terkenal memiliki banyak konflik dan peperangan, namun jarang terdengar ada kerusuhan olahraga, utamanya sepakbola. Namun pada 9 Mei 2001, saat pertandingan derby ibu kota antara tuan rumah Hearts of Oak dengan sesama klub dari Accra, Asante Kotoko. Klub pendatang memimpin 1-0 mendekati akhir pertandingan. Namun, tuan rumah mencetak dua gol terlambat untuk berbalik unggul pada laga tersebut.

Memasuki lima menit terakhir, para pendukung Asante Kotoko yang frustrasi mulai menjebol kursi dari tribun dan langsung melemparkannya ke lapangan. Polisi menanggapi aksi ini dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan yang menyebabkan kepanikan.

Tragedi diperparah oleh fakta bahwa gerbang stadion terkunci sehingga mengakibatkan orang-orang tidak bisa keluar stadion. Akibat insiden tersebut, 126 orang meninggal karena kekurangan oksigen.

Dalam insiden itu, enam polisi didakwa atas pembunuhan. Karena kejadian ini, Pemerintah Ghana memberikan beasiswa khusus untuk anak-anak dari para korban. Patung memorial juga didirikan di stadion yang sejak itu berganti nama menjadi Stadion Ohene Djan.

Selain di Ghana, selama periode waktu kurang dari sebulan. Bencana suporter juga terjadi di Afrika Selatan yang menewaskan 43 orang pada 11 April 2001, di Kongo ada 14 suporter tewas pada 29 April 2001, dan Pantai Gading yang memiliki jumlah korban tewas sebanyak 39 jiwa pada 6 Mei 2001.

  1. Tragedi Heysel antara Liverpool vs Juventus

37 tahun lalu, pada tanggal 29 Mei 1985, di mana pada saat itu tengah terjadi pertandingan antara Liverpool dan Juventus di Piala Champions (saat ini Liga Champions) di stadion Heysel Brussel Belgia. Saat itu di situ terjadi peristiwa di luar nalar yang menewaskan 39 orang dan 600 luka-luka.

Peristiwa ini bermula dari fans masing-masing klub yang saling mengejek dan melecehkan. Lalu tiba-tiba sekitar satu jam sebelum kick off kelompok hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Tidak terjadi perlawanan karena yang berada di bagian tersebut bukanlah kelompok Ultras. Pendukung Juventus pun berusaha menjauh namun kemudian sebuah tragedi terjadi. Dinding pembatas di sektor tersebut roboh karena tidak kuasa menahan beban dari orang-orang yang terus beruhasa merangsek dan melompati pagar. Ratusan orang tertimpa dinding yang berjatuhan.

  1. Tragedi Hillsborough di Semifinal Piala FA Liverpool vs Nottingham Forest

Liverpool kembali terlibat dalam peristiwa berdarah. Kali ini di semifinal piala FA melawan Nottingham Forest pada 15 April 1989 di Stadion Hillsborogh kandang Sheffield Wesneaday yang sangat kecil untuk ukuran peetandingan semifinal. Stadion yang hanya berkapasitas 20.000 itu diisi hampir 30.000 suporter.

Korban tewas seluruhnya adalah fans Liverpool yang diplot di belakang gawang Nottingham. Sekitar 2000-an suporter Liverpool berdesak-desakkan di tribun sempit yang melebihi kapasitas. Jumlah korban meninggal dilaporkan 96 dan 766 lainnya luka-luka.

Pada tahun 2016, berdasarkan hasil penyelidikan dinyatakan bahwa peristiwa tersebut dikarenakan kelalaian pihak kepolisian dan kesalahan pemberitaan oleh The Sun hingga terjadi boikot terhadap The Sun dengan slogannya Don’t Buy The Sun. Hal ini membuat PM Inggris saat itu David Cameron pun menyatakan permintaan maafnya kepada para keluarga korban.

Tragedi Heysel dan Hillsborough benar-benar membuat kompetisi liga Inggris sempat tenggelam dan tersaingi oleh Liga Italia dan Spanyol di Tahun 90-an hingga 2000-an. Bahkan tim-tim dari Inggris sempat dilarang bermain di tingkat internasional selama 5 tahun setelah tragedi Heysel.

  1. Tragedi Port Said Mesir Yang Diduga Berkaitan Dengan Kudeta Militer

Kembali ke Afrika, pada 10 tahun lalu, 1 Februari 2012 terjadi pembantaian suporter di Stadion Port Said Mesir saat pertandingan antara Al-Masry dan Al-Ahly. Setidaknya 79 orang tewas dan lebih dari 1000 terluka setelah ribuan suporter Al-Masry menyerbu lapangan, menyusul kemenangan 3-1 oleh Al-Masry. Pendukung Al-Masry menyerang pendukung Al-Ahly, dan juga para pemain, menggunakan pisau, pedang, botol, dan petasan sebagai senjata.

The New York Times melaporkan bahwa faktor utama dalam kerusuhan adalah keterlibatan penggemar sepak bola ekstremis yang dikenal sebagai ultras, yang dilaporkan juga terlibat dalam bentrokan di Alun-alun Tahrir selama protes revolusi Mesir.

Seperti yang kita tahu, antara tahun 2011-2012 di Mesir sedang terjadi kerusuhan akibat kudeta dan konflik kekuasaan yang melibatkan militer dan Ikhwanul Muslimin. Ada dugaan kerusuhan ini adalah buntut konflik kudeta tersebut. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here