Wow..!! Penduduk Desa di Klaten Ini Puluhan Warganya Orang Kembar, Seperti Apa

Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, ini tergolong unik. Puluhan penduduknya adalah orang kembar. Foto : Dok. Istimewa

Klaten (Sigi Jateng) – Memiliki wajah kembar adalah hal yang istimewa. Namun, bagaimana jika orang yang kembar tersebut mencapai puluhan orang. Terlebih, orang yang wajah kembar berada di satu kampung.

Seperti yang terjadi di Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, ini tergolong unik. Puluhan penduduknya adalah orang kembar. Desa yang berada di timur laut pusat kota Klaten, terletak di tepi jalan Yogya-Solo. Begini kata Kades setempat.

Kades Jonggrangan, Sunarno mengatakan bahwa Desa Jonggrangan memiliki 7 RW dan 22 RT dengan jumlah penduduk sekitar 4.300 jiwa.

“Ada yang kembar identik ada yang dampit (laki-perempuan). Jumlahnya terakhir sekitar 15 pasang atau 30 orang, itu yang saat ini masih hidup,” kata Sunarno, Kades Jonggrangan, seperti dikutip detikcom, Minggu (21/2/2021).

Desa yang berada di timur laut pusat kota Klaten, terletak di tepi jalan Yogya-Solo.

Sunarno menyebut, jika jumlah orang kembar di desanya paling banyak di Dusun Jonggrangan. Seperti di gang depan rumahnya, ada sekitar empat pasangan.  “Di gang rumah saya ke timur ini saja ada tujuh atau delapan orang kembar. Adik saya sendiri kembar, lalu adik keponakan juga kembar identik,” beber kades Sunarno .

Dirinya mengaku tidak ada yang tahu kapan di desanya ada orang kembar. Di masyarakat juga tidak ada cerita sesepuh desa tentang penyebab munculnya orang kembar. “Tidak ada cerita penyebabnya apa dan mulai kapan. Kalau saya menduga ya mungkin sejak si mbah si mbah dulu ada yang kembar jadi saya kira ini penyebabnya genetik,” terang kades Sunarno.

Meski tidak jelas sejarahnya, namun menurut kades Sunarno, desanya sudah dikenal sebagai desa orang kembar sejak lama. Sekitar akhir tahun 1990-an sampai 2000, desanya mulai menarik perhatian publik.

Orang kembar di desanya, lanjut Sunarno, hidup normal, sehat, dan tumbuh sampai dewasa. Repotnya kadang ada kekeliruan menyapa karena kemiripan wajahnya. “Ya ada kadang keliru tapi kalau yang sudah hafal ya tidak repot, seperti adik saya bedanya di tangan ada bekas luka. Warga kembar sehat semua, bahkan ada yang masih kecil,” imbuh kades sunarno.

Sejauh ini, keberadaan penduduk kembar di Desa Jonggrangan belum pernah diteliti pemerintah. Namun pendataan kependudukan rutin dilakukan. “Kalau penelitian belum pernah ada, juga tidak kami laporkan meskipun lucu. Kalau pendataan penduduk tetap ada, misalnya anak di posyandu,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga kembar Desa Jonggrangan, Kris Joko Raharjo (40), mengatakan banyak cerita lucu yang dialaminya sebagai orang kembar. Orang kadang salah alamat memanggil atau bertanya. “Sering orang keliru, kadang sopir yang mau isi bensin ketemu dan tanya saya masuk piket apa, padahal yang kerja di SPBU itu kembaran saya Kris Joko Santoso,” tutur Kris Joko.

“Kalau yang sudah sering bergaul ya tidak bingung tapi yang baru ketemu sekali mungkin bisa salah. Namanya cuma beda Kris Joko Raharjo dan Kris Joko Santoso,” lanjut Kris.

Warga lainnya, Tugino (69), memiliki cucu kembar yakni Ikhsan (5) dan Akhsan (5). Keduanya kembar identik meskipun di keluarganya tidak ada yang kembar. “Saya punya anak tiga dan beberapa cucu. Hanya dua cucu ini yang kembar padahal keluarga saya juga tidak ada keturunan yang kembar,” jelas Tugino di rumahnya.

Menurutnya, merawat anak kembar tidak sama dengan anak biasa. Sebab dalam semua hal harus diberikan sama.”Sekolah sama, pakaian sama, mainan sama, pokoknya sama semua. Mainan juga sama, tapi kalau tercampur mereka anehnya bisa membedakan sendiri,” imbuh Tugino.

Terpisah, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, Tuti Nur Haryanti, mengatakan dinas belum pernah mendata atau meneliti fenomena orang kembar di Desa Jonggrangan tersebut. Menurutnya, kemungkinan besar banyaknya orang kembar di Desa Jonggrangan karena faktor keturunan.

“Kita belum pernah mendata atau meneliti tapi datanya biasanya di Puskesmas. Tapi biasanya orang kembar itu karena ada faktor keturunan sebelumnya atau perkawinan,” kata Tuti. (dtc/dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here