Walikota Semarang Dukung Program SIM D Bagi Disabilitas

Wakapolrestabes Semarang, AKBP Iga Dwi Perbawa Nugraha dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi memberikan bingkisan dan SIM D kepada disabilitas yang sedang menaiki kendaraan. (Mushonifin)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Polrestabes Semarang dan Pemerintah Kota Semarang menandatangani nota kesepakatan pembuatan SIM D bagi kalangan disabilitas untuk mempermudah aktivitas berkendara di ruang VIP Balaikota pada Senin (15/3/2021).

Wakapolrestabes Semarang, AKBP Iga Dwi Perbawa Nugraha dalam sambutannya mengatakan pihaknya perlu mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Semarang untuk melindungi kaum disabilitas dengan memberikan regulasi yang berpihak kepada mereka.

“Kita membuat MoU untuk pembuatan SIM bagi disibalitias adalah untuk melayani kebutuhan berkendara mereka (disabilitas) yang takut terkena tilang karena belum ada payung hukum dan alas hukum yang saha seperti SIM untuk mereka berkendara,” ujar pria yang akrab disapa IGA itu.

Iga menjelaskan bahwa kegiatan ini sendiri untuk merealisasikan program 100 hari Kapolri. Namun pihaknya juga berpendapat bahwa program ini tidak akan terealisasi jika tidak didukung Pemkot.

“Di mana program 100 hari Kapolri untuk merealisasikan salah satunya program ini. Maka dari itu kami meminta dukungan dari Pemkot Semarang,” tegasnya .

Sementara itu, Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan dirinya berharap para pengendara disabilitas makin tenang dan tidak takut untuk ditilang kembali.

“Insya Allah dengan keluarnya SIM D para disabilitas makin tenang berkendara,” jelasnya.

Walikota kemudian melaporkan jumlah kematian karena kecelakaan dalam satu tahun terakhir lebih besar dari pada kematian karena covid-19.

“Jumlahnya jauh lebih besar dari covid-19,” tegasnya dalam sambutan.

Hendi mengatakan 61% kematian karena kecelakaan disebabkan karena karakter dan kemampuan pengendara, 9% karena kondisi jalan, dan baru 30 % karena kebijakan, regulasi, infrastruktur, dan rambu-rambu lalu lintas yang disediakan pemerintah.

“Dan 61% kematian karena kecelakaan disebabkan karena karakter dan kemampuan pengemudi. Maka dalam konteks kemampuan mengemudi, ujan pembuatan SIM sangat penting. Sedangkan 9% kecelakaan karena kondisi kendaraan. Sementara 30% baru tanggung jawab pemerintah berkaitan dengan penyediaan infrastruktur dan rambu-rambu,” pungkasnya. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here