Ujian Doktoral di UIN Walisongo, Tri Wahyu Hidayati Angkat Tafsir Tematik Tentang Jaring Pengaman Sosial

Tri Wahyu Hidayati berfoto bersama promotor dan pengujinya seusai melakukan ujian doktoral di UIN Walisongo Semarang. (Dok)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna mencakup segala bidang kehidupan manusia (QS al- 2 An’ām: 38). Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia. Al-Qur’an diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan dalam kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun masyarakat, kemaslahatan dalam hidup di dunia maupun akhirat. 

Dalam kajian tafsir tematik yang dilakukan oleh Tri Wahyu Hidayati, dia menemukan sebuah tafsir modern yang berorientasi pada jaring pengaman sosial. Tri mengatakan perlu ada penafsiran yang lebih bersifat sosial ketimbang keagamaan. Hal ini mengarah pada kondisi masyarakat yang kerap kesulitan keluar dari jerat kemiskinan.

 “Dalam al-Qur’an terdapat istilah ḍu’afā’ dan mustaḍ’afūn untuk menggambarkan kondisi orang yang lemah. Secara umum orang menganggap orang-orang yang lemah secara ekonomi termasuk dalam ketegori ini, sehingga ḍu’afā’ dan mustaḍ’afūn sering dipersepsikan sebagai orang miskin,” ujar Tri  Wahyu Hidayati saat melakukan ujian doktoral di UIN Walisongo Semarang pada Jum’at (11/6/2021). 

Tri menjelaskan peristilahan tersebut sebetulnya bisa ditafsirkan sebagai konsep jaring pengaman sosial. Persepsi ini tentu tidak sepenuhnya salah, karena kondisi lemah seseorang baik karena pengetahuannya, kemauannya maupun kemampuan fisiknya mengarah pada ketidakberdayaan secara ekonomi, yaitu miskin. Kata “miskin” sering dipakai bersamaan dengan kata “fakir” Dalam KBBI21, kata fakir berarti orang yang sangat berkekurangan, atau sangat miskin.   

“Isu kemiskinan adalah isu krusial dan global. Semua negara sepakat untuk mengatasinya dan menjadikannya sebagai bagian dari sasaran pembangunan millennium MDGs (Milenium Development Goals). Kemiskinan disebabkan oleh persoalan-persoalan sosial dan hukum,” tandas Tri Wahyu.

Tri Wahyu kemudian mencontohkan penafsiran kontekstual (dalah hal jaring pengaman sosial) merujuk pada Umar bin Khathab. Pada surat at Taubah ayat 60 dijelaskan tentang delapan golongan penerima zakat. Salah satu pemahaman terhadap muallaf adalah kepala suku yang dukungan politisnya penting bagi umat Islam. Praktik seperti ini berlangsung darimasa Nabi Muhammad SAW sampai masa khalifah Abu Bakar (632-634M). 

Pada masa Umar menjadi khalifah, dia menolak untuk memberikan zakat kepada kepala suku. Menurutnya, Islam sudah lebih kuat sehingga tidak perlu lagi membutuhkan dukungan dari kepala suku, sehingga mereka tidak perlu lagi mendapatkan zakat. Saeed, Abdullah, Paradigma, Prinsip Dan Metode Penafsiran Kontekstual Atas al-Qur’an (Interpreting the Qur’an: Toward A Contemporary Approach) yang diterjemahkan Lien Naf’atu Fiena, beberapa faktor baik kultural maupun struktural; cara mengatasi kemiskinan adalah dengan menggunakan beberapa pendekatan, antara lain pendekatan sosial, agama, dan kebijakan (politik/pemerintah).

“Maka dibutuhkan kebijakan yang terintegrasi meliputi perluasan kerja produktif, pemberdayaan manusia dan kemudahan akses sumber ekonomi,” tandasnya.

Al-Qur’an diakui bersifat ṣālih likulli zamān wa makān, cocok di segala zaman dan tempat. Dengan demikian, al-Qur’an dinamis dalam merespons realitas kehidupan manusia yang terus berkembang. Sebuah keniscayaan bagi umat Islam untuk melahirkan penafsiran al-Qur’an yang lebih kontekstual dengan kondisi kekinian.

Kemiskinan adalah persoalan kehidupan umat manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2021 mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Jumlah penduduk miskin mencapai lebih dari 27 juta jiwa (10%). Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

enaikan jumlah dipicu oleh adanya pandemi covid yang berkepanjangan. 
Kemiskinan tetaplah menjadi persoalan yang harus terus mendapatkan perhatian khusus. Hal ini disebabkan efek domino yang muncul akibat kemiskinan itu. Kemiskinan rawan memunculkan konflik sosial. Kondisi seperti ini semakin meneguhkan betapa pentingnya memperkuat sistem perlindungan sosial dalam bentuk jaring pengaman sosial. 

“Di masa pandemi ini, program jaring pengaman sosial sangat dirasakan manfaatnya oleh keluarga miskin yang terdampak. Dengan jaring pengaman sosial yang kuat dan berkelanjutan, maka masyarakat yang rentan terkena dampaknya akan dapat bertahan dari dahsyatnya peristiwa tak terduga seperti bencana, krisis ekonomi ataupun musibah lainnya,” pungkasnya. 

Dengan demikian perlu terus dikembangkan penelitian untuk mendapatkan masukan ideal tentang sistem jaring pengaman sosial. Penelitian ini berusaha mengungkapkan bagaimana al-Qur’an menggariskan adanya sebuah konsep jaring pengaman sosial dan bagaimana implementasinya di masa Nabi Muhammad dan sahabat (yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masa alkhulafā’ al-rāsyidīn).

Prinsip-prinsip dasar Jaring Pengaman Sosial (JPS) dalam al-Qur’an diharapkan dapat memberikan masukan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dalam mewujudkan program jaring pengaman sosial yang terarah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat miskin dan golongan yang lemah (mustaḍ’afūn) lainnya. (Mushonifin)

Berita Terbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here