Tetap Produktif saat Pandemi, IRT di Boyolali Kreatif Sulap Sampah Plastik Jadi Kerajinan Tas Bernilai Jual Tinggi. Begini Kisahnya

    Manfaatkan waktu dimasa pandemi, Yusi Aristia Lestari Ningrum (46) warga asal Desa Mojolegi, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali bersama anak-anaknya kreatif mengolah sampah plastik jadi kerajinan bernilai jual tinggi. Foto : Istimewa

    Boyolali (Sigi Jateng) – Pandemi Covid-19 tak menyurutkan warga di Kabupaten Boyolali untuk terus bertahan hidup. Meski semua harus dengan serba keterbatasan aktivitas untuk mencegah penyebaran virus Corona, namun warga tetap kreatif dan produktif.

    Hal itu dilakukan warga untuk bisa menunjang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Salah satunya yakni dengan kreatif mengolah limbah sampah plastik dijadikan barang yang memiliki nilai jual tinggi. Terlebih, kerajinan tangan dari olahan sampah plastik dibuat berbagai karya bentuk.

    Salah seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Boyolali bersama dua anaknya berkarya dengan memanfaatkan sampah plastik. Limbah plastik itu pun kemudian disulapnya menjadi tas keren dengan nilai jual tinggi.

    Selama pandemi Covid-19, Yusi Aristia Lestari Ningrum (46) warga asal Desa Mojolegi, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali bersama kedua anaknya lebih banyak di rumah. Namun, masih tetap bisa berkreasi guna menambah penghasilan.

    Bersama kedua putrinya yang masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) dan SMP itu, Yusi mengajak untuk berinovasi membuat tas keren dari limbah plastik yang selama ini banyak dijumpai di sekitar pekarangan rumahnya.

    “Limbah plastik ini kita kumpulkan dari pekarangan sekitar rumah. Selama pandemi, kami memang jarang keluar rumah mengurangi mobilitas. Kebetulan anak-anak juga pelajaran dilakukan secara daring, jadi lebih banyak dirumah,” ujar Yusi, Sabtu (21/8/2021).

    “Biar tidak bosan dan mengisi waktu, anak-anak saya ajak berkreasi mengolah sampah plastik jadi kerajinan tas. Ternyata hal itu bikin anak-anak senang dan betah,” sambungnya.

    Yusi mengaku jika aktivitas itu mulai dilakukannya sejak awal pandemi Covid-19. Sebelum dibuat tas, plastik dipotong sesuai ukuran. Agar plastik lebih kuat dan tekstur indah, kemudian disetrika secara berlapis tiga atau empat lembar.

    Meskipun hanya menggunakan alat sederhana, dalam sepekan Yusi dan anak-anaknya mampu mengerjakan dua hingga tiga buah tas hasil karyanya sesuai pesanan pelanggan. Untuk memasarkannya, lanjut Yusi, yakni dengan memanfaatkan media sosial atau online.

    “Pandemi seperti saat ini, protokol kesehatan sangat penting. Jadi untuk pemasaran, andalannya dengan menggunakan jejaring media sosial atau online. Alhamdulilah, banyak yang minat dan pesanan banyak,” tuturnya.

    “Harganya beragam mulai Rp150.000 hingga Rp200.000. Itu pun juga tergantung pesanan pelanggan. Karena masih pandemi, pemasarannya melalui media sosial atau online,” imbuh Yusi.

    Ia mengungkapkan, sang suami Agung Purnomo (56) yang bekerja sebagai buruh serabutan selama pandemi ini pendapatan tak menentu. Untuk bisa mengimbangi dan menopang kebutuhan rumah, kegiatan mengolah sampah plastik ia tekuni hingga akhirnya membuahkan hasil.

    Selain mendapatkan penghasilan tambahan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anaknya untuk mengisi kejenuhan selama pandemi. Mereka bisa mengurangi bermain handphone. “Biasanya anak-anak seusai belajar daring, masih bermain handphone. Nah, sekarang mereka bisa berkreasi dengan mainan baru berupa sampah plastik dijadikan karya yang berharga,” tuturnya.

    Sementara itu, salah satu anaknya yang duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) mengaku waktunya lebih banyak dirumah membantu orang tua usai belajar. Sebab, selama pandemi kegiatan pelajaran dilakukan daring.

    “Justru senang sekali bisa membantu ortu, apalagi membuat kerajinan dan mudah dilakukan,” ucap Enggarwati Widiningtyas putri pertama Yusi.

    Bagi keluarga kecil pasangan Yusi Aristia Lestari Ningrum (46) dan Agung Purnomo (56) yang bekerja sebagai buruh serabutan ini. Usaha yang digeluti diharapkan bisa menopang perekonomian keluarga di saat pandemi. (Dye)

    Baca Berita Lainnya

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here