Sirine Peninggalan Belanda, Penanda Berbuka dan Imsak di Blora

Sirine Peninggalan Belanda,Penanda Berbuka,Rabu (14/4/2021) (foto:agung/sigijateng)

BLORA (Sigi Jateng) – Jika biasanya penanda buka puasa adalah suara adzan magrib, namun berbeda dengan yang ada di salah satu tempat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Waktu penanda buka puasa di awali menggunakan suara sirine yang berdiri di atas tiang di komplek Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.

Warga Blora dan sekitarnya memang sudah terbiasa dengan bunyi sirine ini di waktu masuk waktu maghrib. Sirine peninggalan zaman Belanda yang awalnya berfungsi sebagai penanda jika ada musuh datang, kini beralih fungsi sebagai penanda berbuka puasa ini masih berdiri kokoh di utara Masjid Agung Baitunnur atau tepatnya di depan komplek Pendopo Kabupaten ini akan dibunyikan setiap hari.

Sirine itu dibunyikan sehari dua kali pada saat memasuki waktu imsak dan saat waktu buka puasa atau memasuki waktu Maghrib di Blora.

Kasubbag Rumah Tangga Setda Kabupaten Blora Sri Darminingsih mengatakan tiang sirine tersebut mulai dijadikan penanda buka puasa dan imsak sejak tahun 1979. namun karena usianya yang sudah tua kini kekuatan suara sirine sudah mulai melemah.

“Ini zaman Belanda ya suaranya kuat sekali, namun sekarang karena termakan usia sehingga suara kencang sudah berkurang.” Jelas Sri Darminingaih Kasubbag Rumah Tangga Setda Kabupaten Blora, Rabu (14/4/2021)

Menurutnya kini radius suara hanya bisa terdengar sejauh lima kilometer saja. Padahal awalnya suara sirine tersebut bisa terdengar sampai sejauh lima belas kilometer bahkan bisa melebihi dari radius tersebut.

“Dulu bunyinya cukup keras dan sampai terdengar di beberapa kecamatan yang ada di sekitar kota blora, seiring jalanya waktu suaranya setiap tahun mulai melemah” ujarnya.

Sri Darminingsih menjelaskan tiang sirine setinggi lima belas meter tersebut terbuat dari besi, bagian atasnya berbentuk bulat yang berisi sejumlah kumparan. Setiap puasa ada petugas yang melakukan pengecekan dan membunyikan sirine tersebut.

“Saat ini kami terus melakukan pelestarian dengan mengecek secara rutin. Sehingga setiap tahun tetap bisa digunakan sebagai tanda berbuka puasa” Jelasnya.

Selain itu terkait onderdil yang di dalam bulatan tersebut pihaknya ingin menggantinya agar suara yang dihasilkan bisa kembali keras lagi.

“Sudah kami cek, tapi belum tau mana yang rusak, lagi pula untuk onderdil atau suku cadang tentu juga akan sulit dicari mengingat sirine ini ada sudah sejak lama, namun demikian untuk melestarikan terus dilakukan perawatan secara rutin,” ucapnya

Sementara itu salah satu warga Blora, Handi Tri Kuncoro mengaku dengan adanya sirine yang berbunyi saat berbuka dan imsak ini sangat membantu bagi warga,sebab bunyi sirine tersebut seolah mengingatkan kita bahwa waktu berbuka puasa telah tiba.

“Bunyi sirine ini selalu mendahului suara adzan maghrib dari masjid manapun yang ada di Blora. jadi masyarakat tahu jika sudah waktunya berbuka,” ungkapnya.

Handi menjelaskan suara sirine yang sering disebut “nguuk” oleh warga Blora ini dijadikan rujukan semua masjid dan musholla. Setelah sirine berbunyi, Masjid Agung Baitunnur seketika langsung mengumandangkan adzan maghrib, dan adzan maghrib Masjid Agung Baitunnur ini menjadi rujukan bagi masjid-masjid dan musholla lainnya di Blora untuk segera mengikuti mengumandangkan adzan.

“Jika Masjid Agung Baitunnur belum adzan maka masjid yang lain juga belum adzan. Masjid yang lain akan bersahut-sahutan mengumandangkn adzan ketika Masjid Agung telah selesai mengumandangkan adzan.” Terangnya

Oleh karena itu setiap sore suara sirine itu selalu dirindukan seluruh warga Blora mendekati waktu berbuka. Hal ini menjadi salah satu ciri khas nuansa ramadhan di Kota Blora. Bahkan konon bunyi sirine itu bisa terdengar lebih jauh misalnya sampai Kecamatan Tunjungan dan lainnya. Atau di desa-desa pelosok di wilayah Kecamatan Kota. Semakin jauh dan sepinya suasana desa konon suara sirine itu semakin jelas terdengar.

“Sirine ini sangat efektif untuk menandai saatnya berbuka puasa dan waktu imsak” Jelasnya.

Tidak diketahu siapa yang memulai menggunakan suara sirine itu sebagai penanda buka puasa, hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun di wilayah Blora. Yang pasti sudah sangat lama sirine itu difungsikan seperti ini. Pada jaman kolonial Belanda dahulu suara sirine ini digunakan untuk tanda pemberlakuan jam malam.

Setelah sirine berbunyi , semua warga dilarang keluar rumah dan sebagai tanda bahaya yakni adanya serangan dari penjajah. Sirine dibunyikan dengan harapan warga berkemas dan para pejuang bersiap menghadapi musuh. Sehingga kondisi dahulu dengan sekarang sangat berbeda fungsinya.(Agung)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here