Selamatkan Tempat Tinggal Dari Abrasi, Hari Ini Warga Timbulsloko Tanam Sejuta Mangrove

Poster. (Dok. Panitia)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Forum Masyarakat Dukuh Timbulsloko (FMDT) menginisiasi kegiatan tanam mangrove yang akan dilaksanakan hari ini Minggu (17/10/2021) mulai pukul 07.00 WIB.

Ma’ruf, selaku koordinator mengatakan bahwa FMDT sudah berjalan dua tahun dan melakukan banyak kegiatan yang berorientasi pada misi penyelamatan tempat tinggal warga Dukuh Timbulsloko dari abrasi parah.

“Sudah berjalan 2 tahun ini warga membangun solidaritas secara swadaya dan gotong royong untuk bisa beradaptasi dan mempertahankan tempat tinggal mereka dengan membangun rumah panggung, jalan, jembatan dari kayu, hanya untuk memudahkan akses aktivitas warga sehari-hari. Warga saat ini juga meninggikan area pemakaman dengan dibantu alat berat dari Dinas PU setempat,” ujarnya pada Sabtu (16/10/2021).

Salah satu kegiatan FMDT untuk menyelamatkan lingkungan adalah dengan menanam pohon mangrove dengan tajuk “gerakan satu juta mangrove”.

Ma’ruf dan warga Timbulsloko berharap Dukuh Timbulsloko masih bisa terselamatkan dan dapat dipertahankan dengan gerakan-gerakan pelestarian lingkungan.

“Gerakan ini adalah gerakan swadaya dari rakyat untuk rakyat,” tandas Ma’ruf.

Sebelumnya warga sudah melakukan pemetaan untuk mengukur kedalaman air rob yang akan ditanami magrove, dan mencari titik-titik tertentu yang menjadikan jalur air laut masuk ke kampung, lalu tempat-tempat tersebut nantinya akan ditanami pohon mangrove.

Hal ini bertujuan agar dapat menahan masuknya air laut dan gelombang air sehingga dapat mencegah abrasi yang akan memperparah keadaan wilayah pesisir.

“Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari kawan-kawan lintas organisasi dan jaringan, Ketua DPRD Demak dan Pemda Demak,” ujar Ma’ruf.

Selain penanaman mangrove, dalam kegaiatan tersebut juga akan dilakukan tebar bibit kerang, serta penyerahan bantuan bibit mangrove dari gerakan rakyat bantu rakyat dan Ketua DPRD Demak, modal usaha budidaya kerang dari Baznas Demak dan sembako dari Bupati Demak, acara dilanjutkan dialog warga bersama Bupati Demak dan Ketua DPRD Demak.

Dukuh Timbulsloko yang berada di pesisir Kecamatan Sayung Kabupaten Demak adalah daerah terdampak abrasi paling parah akibat pembangunan di sekitar pesisir.

LBH APIK Semarang yang selama ini mengadvokasi warga untuk mendapatkan hak-haknya mempertahankan tempat tinggal mereka menyatakan saat ini masyarakat pesisir di Kabupaten Demak sedang menghadapi ancaman serius dimana desa-desa di wilayah pesisir utara akan tenggelam akibat krisis iklim serta dampak dari abrasi ketinggian air laut.

Raden Ayu, selaku direktur LBH APIK menjelaskan bahwa Dukuh Timbulsloko RW 7, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, dengan jumlah 213 KK dan 557 jiwa, adalah salah satu desa yang sudah tenggelam sejak 5 tahun terakhir.

“Banyak sawah, ladang, dan tambak yang merupakan mata pencaharian warga hilang. Dahulu sawah, ladang dan tambak tersebut sangat makmur dan mampu mensejahterakan masyarakat, dengan kondisi saat ini, sawah ladang dan tambak tersebut berubah menjadi lautan,” jelas Ayu.

Hal ini, lanjut Ayu, mengakibatkan kesengsaraan dan masyarakat terpaksa beralih profesi yang dahulu adalah petani dan nelayan saat ini menjadi buruh bangunan, karyawan pabrik dan sebagainya.

“Perubahan ini tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat, tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap derajat pekerjaan yang didapatkan,” ungkap Ayu.

“Pilihan warga untuk tetap tinggal di wilayah tersebut adalah salah satu bentuk kritik terhadap pola kebijakan pembangunan yang salah urus, sekaligus mengingatkan kepada para pemangku kebijakan bahwa ada sejarah tanah dan air yang lekat bagi masyarakat yang seharusnya menjadi prioritas dalam menentukan arah pembangunan. Termasuk juga pembangunan yang seharusnya disesuaikan dengan kondisi dan harapan dari masyarakat diprioritaskan,” katanya.

Krisis iklim bukan hanya persoalan air laut yang semakin naik setiap tahunnya, tapi menurut Ayu peristiwa lingkungan tersebut juga menuntut tanggung jawab dari para pemangku kebijakan dalam menyikapi tata kelola pesisir dan pulau-pulau kecil yang harus mempertimbangkan relasi manusia dan alam yang holistik. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here