Perjalanan Mantan Perampok Hingga Akhirnya Hijrah Dirikan Ponpes, Begini Kisahnya

Sandiman Nur Hadi Widodo, mantan perampok yang hijrah dan mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ghifari, Kulon Progo, Minggu (18/4/2021). (Foto: detikcom)

Kulon Progo (Sigi Jateng) – Lika-liku jalan hidup manusia tak ada yang tahu. Kutipan itu cocok disematkan kepada Sandiman Nur Hadi Widodo, mantan perampok yang akhirnya hijrah dan mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ghifari di Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sandiman lahir di Desa Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, 58 tahun silam. Masa muda bapak dua anak dan empat cucu itu dihabiskan dengan berjudi, main wanita hingga melakukan pelbagai tindak kriminal. Ia bahkan pernah dijuluki perampok spesialis emas, karena bersama komplotannya tidak pernah gagal melancarkan aksi kejahatan tersebut.

Namun, sepandai-pandainya tupai meloncat pasti jatuh juga. Sandiman Cs yang berhasil menggasak logam mulia seberat tujuh kilogram dari sebuah toko emas di wilayah Kota Yogyakarta pada tahun 1995 berujung antiklimaks. Polisi mencium pelaku merupakan kelompok Sandiman, satu per satu perampokpun akhirnya diringkus.

Sandiman yang sempat buron ke luar jawa menjadi yang terakhir ditangkap. Ia dibekuk di Riau, tak lama setelah aksinya terbongkar. Divonis empat tahun penjara, Sandiman jadi pesakitan di Lapas Wirogunan, Yogyakarta sejak 1995, tetapi masa hukumannya dipangkas jadi tiga tahun karena mendapatkan remisi. Pada 1998, Sandiman kembali menghirup udara bebas.

Kehidupan di hotel prodeo mengubah jalan hidup Sandiman. Di sana, Sandiman yang ketika itu berusia 32 tahun mulai mendalami Islam. Sejumlah warga binaan di lapas tersebut mengajarinya salat dan membaca Al-Qur’an.

“Sewaktu saya masuk itu (Lapas Wirogunan) belum bisa salat apalagi ngaji, dan kebetulan di sana ada sesama napi yang ngajarin dan ada ustaznya juga,” ucap Sandiman saat ditemui di Ponpes Al-Ghifari, Minggu (18/4/2021).

Perlahan tapi pasti, Sandiman bertransformasi menjadi sosok baru. Pria yang dulu dikenal garang dan ditakuti itu berubah jadi pribadi yang bersahaja nan religius.

Selepas bebas, ilmu agama yang diperolehnya selama mendekam di jeruji besi coba ditularkan Sandiman kepada warga di tempat kelahirannya. “Awalnya kita kumpulkan aja anak-anak di sekitar sini untuk dilatih ngaji dan belajar salat, karena waktu saya merintis itu masih banyak anak-anak yang jarang salat,” ungkapya. (dtc/dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here