Pandemi Sekolah Nasima Terapkan Model Blended Hybrid Learning dan Operasikan Genose-19

Siswa SD Nasimas Semarang sedang melakukan siamulasi pembelajaran Model Blended Hybrid Learning, Kamis (17/6/2021).

SEMARANG ( sigijateng.id ) – Menyambut tahun ajaran baru 2021-2022 dan masa kenormalan baru di dunia pendidikan, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang, yang merupakan peenyelenggara satuan pendidikan KB-TK, SD, SMP, SMA, akan melanjutkan pembelajaran dalam jaringan ( daring) dengan diselingi pembelajaran luar jaringan (luring) atau tatap muka terbatas.

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Nasima Dr Indarti MPd mengatakan, pembelajaran luring terbatas dilaksanakan sesuai pedoman dari dinas pendidikan, yaitu diikuti maksimal 25 persen atau 50 persen jumlah peserta didik, dua kali dalam seminggu, masing-masing selama 2 jam, dan tetap dilaksanakan protocol kesehatan secara ketat.

Seorang siswa sedang melakukan tes GeNos, saat tiba di sekolah untuk mengikuti pendidikan tatap muka, Kamis (17/6/2021).

“Dalam pelaksanan luring, izin orang tua menjadi hal yang paling utama. Sesuai siatuasi kondisi masing-masing, orang tua dapat memilih opsi pembelajaran daring diselingi pembelajaran luring terbatas atau memilih opsi pembelajaran daring saja bagi anak-anak,” kata Indarti, di Kampus SD Nasima Semarang Jalan Pusponjolo Selatan, Kamis (17/6/2021).

Dikatakan Indarti, sekolah Nasima Semarang yang dikenal dengan sekolah Merah Putih telah menyiapkan beberapa langkah inovatif. Pembelajaran daring berkualitas menggunakan platform Microsoft Office 365 tetap menjadi pilar utama. Sebagai Microsoft Showcase di Indonesia. Sekolah Nasima terbukti mampu survive dalam pembelajaran daring yang terjdwal rapi di kelas-kelas virtual. Sumber dan media pembelajaran digital dikreasi para guru serta disediakan secara memadai, pendidikan karakter diintegrasikan dan berbagai kegiatan daring edukatif dilaksanakan sebagai penyempurna.

“Guna melayani peserta didik yang diizinkan ikut pembelajaran daring plus luring terbatas dan peserta didik yang hanya bisa ikut pembelajara daring saja. Sekolah Nasima memilih model Blended Hybrid Learning, gabungan antara model Blended Learning dan Hybrid Leraning,” kata dia.

Diterangkan Indarti, Blended Learning adalah model pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelaran tatap muka di kelas nyata dengan pembelajaran daring di kelas virtual dan belajar mandiri.

Hybrid Learning adalah model pembelajaran yang memanfaatkan perangkat teknologi dan internet untuk mencapai tujuan pembelajaran, baik melalui pembelajaran tetap muka di kelas maupun pembelajaran daring.

“Sekolah Nasima di semua jenjang (KB-TK, SD, SMP, SMA) memadukan kedua model tersebut, sehingga pembalajaran luring dan daring dapat dilaksanakan sekaligus dalam satu waktu (Blended-Hybrid Learning),” katanya.

Ketika ada jadwal tetap muka terbatas di suatu kelas, kata dia, guru dapat melaksanakan pembelajaran serentak bersama peserta didik yang hadir di kelas maupun peserta didik yang ada di rumah.

Pembelajaran pada masa pandemic pun menjadi lebi efisian dan efektif.

Adapun persiapan yang dilakukan Sekolah Nasima secara sistematis untuk menerapkan model Blended-Hybrid Learning adalah Pertama; menyusun panduan pelaksanaan, Kedua; menfasilitas dan memastikan semua guru dan tenaga kependidikan sudah divaksinasi Covid-19 secara lengkap. Ketiga; Menyediakan sarana dan prasarana protocol kesehatan secara lengkap, termasuk alat GoNose c-19 sebagai pendeteksi dan incidental. Keempat, melengkapi sarana prasarana pembelajaran Hibrida, misalnya kamera jaringan, laptop, LCD Projektor dan sebagai. Kelima; worshop atau pelatihan guru. Keenam; sosialisasi ke orang tua. Ketujuh; simulasi model Blended Hybrid Learning.

“Simulasi model Blended Hybrid Learning sangat penting untuk dilaksanakan agar semua pihak, yaitu guru, orang tua, dan peserta didik dapat menyiapkan serta menyesaikaan diri dengan paradigm pembelajaran pada masa new normal yang akan diterapkan Sekolah Nasima,” katanya.

“Pada akhir simulasi Blended-Hybrid Learning, dilakukan evaluasi menyeluruh agar pada tahun ajaran baru nanti bisa running dengan layanan pedidikan yang berkualitas dengan tetap menerapkan protocol kesehatan secara ketat,” tambahnya.

Ditanya soal GeNos, alat yang dibikin UGM ini datang pada 29 April dan mulai digunakan Mei. Yang dites GeNOse tidak hanya siswa, namun juga tenaga pengajar, dan karyawan. Tes GeNose dilakukan rutin 1 bulan bagi siswa.

“Tahap pertama kami, dikirim 12.700 kantong plastic. Ini untuk semua semua satuan pendidikan KB-TK, SD, SMP, SMA Nasima. Untuk SD paling banyak, yakni 7000 plastik. Nanti kalau habis pesan lagi,” pungkasnya. (aris)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here