Kisah Nenek 83 Tahun di Jambu Yang Lumpuh dan Hidup dalam Keterbatasan Ekonomi, Tapi Tak Pernah Mengeluh

    Mbah Pasiyem (83) atau Mbah Yem warga Kelurahan Gondoriyo Krajan Atas, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

    SIGIJATENG – Kita semua tahu bahwa salah satu kunci kebahagiaan adalah menikmati kehidupan dengan rasa syukur dan hati yang iklhas. 

    Seperti yang terpancar dari semangat hidup Mbah Pasiyem (83) atau Mbah Yem warga Kelurahan Gondoriyo Krajan Atas,  Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.  Nenek renta yang mengalami lumpuh sejak 3 tahun terakhir menjalani hari-harinya di atas tempat tidur dengan ikhlas.

    “Saya dulu jatuh, kaki bagian ini bengkak ya nggak bisa apa-apa tapi ya nggak apa-apa dijalani saja,” ujar Mbah Yem dengan wajah tanpa beban derita, saat ngobrol dengan Shinta Ardan, seorang MC ternama di Jawa Tengah yang melaporkan untuk pembaca sigijateng.id.

    Kondisi rumah Mbah Pasiyem (83) yang sangat sederhana dan jauh dari layak.

    Meski menderita lumpuh, Mbah Yem juga tanpa derita menjalani masa tuanya di rumah yang sangat sederhana.  Rumah papan dengan lantai tanah. Kamarnya pun hanya ruang sepetak berukuran 3×3 Meter  yang berkarpet perlak plastik.

    Suatu malam, Mbah Yem yang sepuh ini hendak menuju kamar mandi namun karena keseimbangan terganggu ia pun terjatuh, kakinya patah, bengkak dan membuatnya lumpuh hingga sekarang. Itulah kisahnya awal Mbah Yem lumpuh.

    Mendapati hal itu, Kasmirah (50) anak kedua Mbah Yem telah berupaya maksimal.

     “Simbok sudah kami sarankan agar mau di rujuk ke rumah sakit tapi tidak mau, Simbok takut rumah sakit. Jadi ihtiar kami, simbok kami bawa ke pengobatan alternatif,” kata Kasmirah.

    Hingga tahun ketiga pengobatan Mbah Yem masih belum banyak perkembangan yang berarti. “Ya baru bisa duduk begitu kalau berdiri tidak bisa,” jelas Kasmirah lagi.

    Beruntung Mbah Yem memiliki anak-anak yang berbakti kepada orang tua. Dalam kondisi seperti itu, anak-anaknya dengan senang dan sabar melayani ibunya itu. Kasmirah dan adik bungsunya secara bergantian merawat dan membantu aktifitas Mbah Yem di atas tempat tidur.

    “Karena belum punya kamar mandi kami tiap hari kami mandikan ya di depan kamar ini sampai tanahnya becek begini,” kata Kasmirah dengan wajah iklhas dan tetap gembira.

    Sehari-hari Kasmirah buka usaha salon kecil di rumahnya. Salon yang hanya bermodal cermin dipaku papan rumah dan beberapa gunting potong itu melayani potong rambut, semir dan creambath. Karena di desa, hasilnya juga tidak seberapa.

    “Untuk potong tarifnya Rp 5 ribu, kalau semir saya lebih banyak jasa saja, obat semirnya pelanggan bawa sendiri,” ungkap Kasmirah riang.

    Rp Dalam satu bulan saat lagi ramai dan panen tips, Salon Kasmirah bisa beromset Rp 500 ribu rupiah. Jika dibagi 26 hari dalam sebulan, penghasil dari salon sekitar Rp 20 ribu.

    Semua penghasilan itu dia gunakan untuk biaya membeli popok untuk Mbah Yem dan makanan pendukung untuk lansia. Sementara penghasilan suami Kasmirah yang buruh angkut pasir digunakan untuk kebutuhan dapur keluarga.

    “Ya ada bantuan anak-anak yang kerja buruh pabrik.”

    Berita Terbaru:

    Tak banyak impian dari Kasmirah  dan saudara-saudaranya selain hanya tetap ingin berbakti  kepada Simbok tercinta Mbah Pasiyem yang tak surut semangat mensyukuri hidupnya.

    (Dilaporkan Shinta Ardhan untuk Sigijateng) (editor: Aris)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here